Tampilkan postingan dengan label Muslim Menjawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Menjawab. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

PEMBAGIAN HARTA WARIS DALAM AL-QURAN


Dalam berbagai situs-situs kristen yang bertebaran di internet sering kali dimuat berbagai macam tuduhan terhadap Islam dan Al-Quran. Contohnya adalah gugatan terhadap hitungan waris dalam Al-Qur’an yang dimuat disitus-situs kristen sbb:

“Contoh KASUS 4: Kesalahan menghitung muhammad: jika yang meninggal TAK MEMILIKI anak, memiliki 1 suami, 2 saudara PEREMPUAN dan Seorang IBU. (Maka pembagian warisnya adalah) 1/2 (ayat 12) + 2/3 (ayat 176) + 1/6 (ayat 11)= 1 + 1/3. Loh kok kelebihan? he...he...he...

Bagi mereka yang matematikanya jongkok. Contoh kasus 4: Jika yang meninggal memiliki WARISAN Rp. 30.000.000 dan mempunyai AHLI WARIS, adalah: seorang suami, 2 saudara perempuan, dan seorang ibu.

Seorang SUAMI akan mendapatkan 1/2 x Rp. 30.000.000 = Rp. 15.000.000.

SEORANG saudara perempuan akan mendapatkan 2/3 x Rp. 30.000.000 = Rp. 20.000.000.

Seorang Ibu akan mendapatkan 1/6 x Rp. 30.000.000 = Rp. 5.000.000.

Total yang mesti dibayar = Rp. 40.000.000, padahal warisan hanya Rp. 30.000.000.”

Persoalannya adalah ayat tersebut diterapkan dengan matematika dangkal yang terbatas pada penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, seperti pelajaran yang diajarkan di bangku SD. Perhitungan seperti itu hanya berlaku jika hasil pembagian harta waris bisa pas.

Contoh :
16:2 = 8
12:3 = 4
20:4 = 5

Tapi bagaimana jika 10:4 = ?

Dibilang 2 masih lebih, dibilang 3 malah kurang. Jadi berbekal matematika awam ini, dengan cerobohnya penulis blog itu menuduh Allah dan Nabi Muhammad salah hitung.

Memang benar, ada tiga ayat Al-Qur`an yang berbicara tentang perhitungan waris, antara lain surat An-Nisa 11, 12 dan 176. Jadi, ketiga ayat yang dikutip dalam selebaran itu sudah benar. Lantas dimana persoalannya?

Pada contoh kasus yang dikemukakan tersebut, jika ada orang yang meninggal dengan meninggalkan beberapa ahli waris, antara lain: seorang suami, 2 orang saudara perempuan dan seorang ibu. Maka pembagiannya sbb:

Pertama : Seorang suami mendapat warisan 1/2 (nishfu), berdasarkan firman Allah: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak...” (Qs An Nisa’ 12).

Kedua : 2 orang saudara perempuan mendapat warisan 2/3 (ats-tsulutsani), berdasarkan firman Allah: “...tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal...” (Qs An-Nisa 176).

Ketiga : Seorang ibu mendapat warisan 1/6 (as-sudusu), berdasarkan firman Allah: “...jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam...” (Qs An-Nisa 11).

Bila semuanya dijumlahkan, maka hasilnya adalah 1/2 + 2/3 + 1/6 = 4/3 = 1 + 1/3. Atas dasar ini, penulis selebaran itu menuduh terjadinya kesalahan dalam perhitungan Allah SWT karena seharusnya jumlah pembagian harta warisan itu harus 1. Tetapi dalam kasus ini menunjukkan terjadi kelebihan harta yang harus dibagi yaitu kelebihan 1/3.

Praktiknya, jika harta warisan itu Rp 30.000.000, maka sang suami mendapatkan Rp 15.000.000, sedangkan 2 saudara perempuan mendapat Rp 20.000.000, kemudian sang ibu mendapat Rp 5.000.000. Jika seluruh bagian warisan sang suami, 2 saudara perempuan dan sang ibu itu dijumlahkan, maka hasilnya adalah Rp 40.000.000. Padahal harta yang diwariskan hanya Rp 30.000.000.

Inilah yang dimaksud selebaran itu sebagai kesalahan perhitungan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dengan temuan ini, sang aktivis Kristen merasa hebat dan memanfaatkannya sebagai senjata untuk menanamkan keragu-raguan terhadap akidah umat Islam.

Tetapi, aktivis Kristen itu telah tertipu dengan temuannya, karena apa yang dikemukakan itu bukan hal yang baru. Para ulama dari jaman terdahulu sudah membahasnya secara tuntas dalam Ilmu Faraidh. Di Indonesia, buku yang sangat populer adalah “Al-Fara’idh, Ilmu Pembagian Waris” karya A Hassan, ulama tersohor dari Persatuan Islam. Buku ini sudah terbit berulang kali sejak tahun 1949.

Masalah kelebihan jumlah bagian ahli waris dibandingkan jumlah harta, dalam Ilmu Faraidh disebut Al-‘Aul. Sebaliknya, kelebihan harta dibandingkan jumlah bagian ahli waris disebut Ar-Radd. Untuk menjelaskan penerapan bab Al-‘Aul dalam faraidh, mari kita terapkan pada kasus yang dikemukakan dalam selebaran itu.

Sebelum melangkah kepada pembagian warisan, perlu dicatat baik-baik bahwa hak warisan sang suami adalah 1/2 atau 3/6, sedangkan hak dua saudara perempuan adalah 2/3 atau 4/6, dan hak ibu adalah 1/6. Dari angka ini, dapat ditentukan perbandingan hak waris antara suami (3/6) dengan dua saudara perempuan (4/6) dan ibu (1/6) adalah 3:4:1.

Dengan kata lain, hak suami adalah 3 bagian, hak dua orang saudara perempuan adalah 4 bagian, sedangkan hak ibu adalah 1 bagian. Total seluruh hak waris adalah 8 bagian. Jumlah 1 bagian warisan adalah Rp 3.750.000 (1/8 x 30.000.000 = 3.750.000).

Dari sini dapat ditentukan pembagian harta warisan (Rp 30.000.000) kepada masing-masing hak ahli waris, antara lain:

Pertama, sang suami mendapat 3 bagian (3 x 3.750.000) = Rp 11.250.000,-

Kedua, 2 saudara perempuan mendapat 4 bagian (4 x 3.750.000) = Rp 15.000.000,-

Ketiga, sang ibu 1 bagian (1 x 3.750.000) = Rp 3.750.000,-

Jelaslah, bahwa pembagian harta warisan menurut Al-Qur`an itu bisa dilakukan dengan adil, rata dan tidak ada satu pun yang salah.

Lalu bagaimana dengan alkitab? Berikut ini adalah daftar kesalahan pada matematis alkitab :

1. SALAH HITUNG JUMLAH KOTA

Yosua 19:
2. Sebagai milik warisan mereka menerima: Bersyeba (1), Syeba (2), Molada (3),
3. Hazar-Sual (4), Bala (5), Ezem (6),
4. Eltolad (7), Betul (8), Horma (9),
5. Ziklag (10), Bet-Hamarkabot (11), Hazar-Susa (12),
6. Bet-Lebaot (13) dan Saruhen (14): tiga belas kota dengan desa-desanya.

Coba hitung ada berapa kota dari ayat 2 sampai ayat 6? Ternyata ada empat belas (14) kota. Tapi mengapa pada akhir ayat 6 hanya ditulis tiga belas (13) kota saja?

Next…

Yosua 19:7 En-Rimon (1), Eter (2), dan Asan (3): empat kota dengan desa-desanya
Coba hitung jumlah kota pada ayat diatas. Pasti jumlahnya ada tiga (3) kota, tapi mengapa pada ayat yang sama malah ditulis empat (4) kota?

Kenapa kitab yg diklaim berasal dari firman Tuhan bisa salah dalam bidang matematis? Kenapa Tuhan yg sejatinya adalah Maha Tahu malah tidak bisa berhitung seperti ini? Padahal di pasal sebelumnya si penulis sudah tepat mengitung sampai 12 dan 14 kota, tapi mengapa di pasal selanjutnya malah error begini?

2. SALAH HITUNG UMUR ANAK

Dalam Bibel ada sebuah ayat yang menceritakan seorang Raja bernama Yoram meninggal kemudian tahta kekuasaanya diserahkan pada anaknya yang bernama Ahazia. Dalam 2 Tawarikh 21:5,19-20, dikatakan bahwa Yoram berusia 32 tahun pada waktu menjadi raja dan memerintah Yerusalem, lalu meninggal karena penyakit pada tahun kedelapan masa pemerintahannya, yang berarti ia meninggal pada usia 40 tahun. Sementara itu, dalam 2 Tawarikh 22:1-2, setelah Yoram meninggal, ia digantikan oleh Ahazia, anaknya yang berusia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.

"Yoram berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem ... Beberapa waktu berselang, kira-kira sesudah lewat dua tahun, keluarlah ususnya karena penyakitnya itu, lalu ia mati dengan penderitaan yang hebat. Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja"(2 Tawarikh 21:5,19-20)

"Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri" (2 Tawarikh 22:1-2)

Kesimpulan dari 2 ayat diatas ialah :

• Usia Yoram (Ayah) saat menjabat sebagai raja = 32 tahun
• Lamanya Yoram (Ayah) menjabat sebagai raja = 8 tahun
• Kemudian Yoram (Ayah) meninggal pada usia = 40 tahun
• Setelah Ayahnya meninggal, Ahazia (Anak) langsung menjabat sebagai raja menggantikan kedudukan Ayahnya.
• Usia Ahazia (Anak) saat menjabat sebagai raja = 42 tahun

Lihat betapa aneh bin ajaibnya ayat diatas, Bagaimana mungkin anak bungsu bisa 2 tahun lebih tua dari ayahnya? Lalu bagaimana dengan anak-anak Yoram lainya yang lebih tua dari Ahazia. pasti usia mereka lebih jauh lagi dari Yoram. benar-benar konyol.

3. SALAH HITUNG TAHUN

1 raja-raja
16:6 Kemudian Baesa mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di Tirza. Maka Ela, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
16:7 Juga dengan perantaraan nabi Yehu bin Hanani firman TUHAN telah datang melawan Baesa dan melawan keluarganya, baik karena segala yang jahat yang telah dilakukannya di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN dengan perbuatan tangannya, dan dengan demikian menjadi sama seperti keluarga Yerobeam, maupun oleh karena ia telah membunuh Yerobeam.
16:8 Dalam tahun kedua puluh enam zaman Asa, raja Yehuda, Ela, anak Baesa, menjadi raja atas Israel di Tirza. Ia memerintah dua tahun lamanya.

2 tawarikh 16:1. Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa, raja Israel, hendak berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama dengan maksud mencegah lalu lintas kepada Asa, raja Yehuda.

Dalam ayat raja-raja dinyatakan Baesa sudah meninggal dan anaknya Ela, raja Israel menggantikannya pada tahun ke-26 pemerintahan Asa, namun pada ayat tawarikh Baesa justru masih hidup dan pada tahun ke-36 pemerintahan Asa menyerang Yehuda. Bagaimana mungkin seseorang masih bisa menyerang sebuah kota, setelah 10 tahun kematiannya?

4. SALAH HITUNG JUMLAH PENDUDUK

Ezra
2:1 Inilah orang-orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut ke Babel oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang kembali ke Yerusalem dan ke Yehuda, masing-masing ke kotanya.
2:2 Mereka datang bersama-sama Zerubabel, Yesua, Nehemia, Seraya, Reelaya, Mordekhai, Bilsan, Mispar, Bigwai, Rehum dan Baana. Inilah daftar orang-orang bangsa Israel:
2:3 bani Paros: dua ribu seratus tujuh puluh dua orang;
2:4 bani Sefaca: tiga ratus tujuh puluh dua orang;
2:5 bani Arah: tujuh ratus tujuh puluh lima orang;

Nehemia
7:6 Inilah orang-orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang kembali ke Yerusalem dan ke Yehuda, masing-masing ke kotanya.
7:7 Mereka datang bersama-sama Zerubabel, Yesua, Nehemia, Azarya, Raamya, Nahamani, Mordekhai, Bilsan, Misperet, Bigwai, Nehum dan Baana. Inilah daftar orang-orang bangsa Israel:
7:8 bani Paros: dua ribu seratus tujuh puluh dua orang;
7:9 bani Sefaca: tiga ratus tujuh puluh dua orang;
7:10 bani Arakh: enam ratus lima puluh dua orang;

Dalam kitab Ezra disana dikatakan bahwa jumlah penduduk bani Arakh yang berangkat pulang dari pembuangan ialah 770 orang. Sedangkan pada kitab Nehemia jumlah penduduk bani Arakh yang berangkat pulang ialah 650 orang. Lalu yang mana yang benar? Tidak mungkin satu kisah yang sama terdapat perbedaan jumlah orang seperti ini kan?

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)

Jumat, 22 Mei 2015

SIAPAKAH NABI PALSU DI PADANG GURUN?


Saya yakin rata-rata kita sudah pernah, bahkan sering, disodori ayat ini :

[Matius 24:26] "Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya."

Oleh para kristen penghujat Islam, ayat ini diyakini sebagai sebuah nubuat tentang nabi palsu, dan dengan penuh percaya diri biasanya mereka lontarkan sebagai dasar untuk menuduh Nabi Muhammad saw sebagai nabi palsu.

Sejujurnya, saya tidak habis pikir bagaimana gereja, atau yang mewakili kepentingan gereja, menanamkan hal ganjil seperti ini di kepala setiap laskar penghujat Islam mereka sehingga demikian kuat meyakininya sebagai sebuah keniscayaan?

Menurut mereka, "Ia yang ada di padang gurun" itu adalah nabi Muhammad saw, karena beliau tinggal di gurun. Sedangkan "di dalam bilik" adalah Ka'bah dalam artian ajaran Islamnya. Tapi coba mari sama-sama kita teliti lagi baik-baik "Dogma Gila" ini dengan kepala dingin.

• PADANG GURUN

Bukankah semua nabi-nabi terdahulu dan orang-orang suci yang dikisahkan dalam alkitab juga tinggal di padang gurun? Sebut saja secara random nama-nama seperti Markus, Petrus, Yudas, Abraham, Musa, Paulus, Daud, Salomo, Yohanes, dan entah siapa lagi, pilih saja sendiri, tokh semuanya juga tinggal di padang gurun?

Jika Matius 24:26 itu dianggap untuk Nabi Muhammad saw, maka sebaliknya siapa pun sah-sah saja mengatakan bahwa sebenarnya itu untuk Paulus. Kenapa? Tokh Paulus juga tinggal di padang gurun? Memangnya dia tinggal di bagian mana jazirah Timur Tengah yang bukan padang gurun? Siapa sih yang tidak tahu bahwa pada awal abad Masehi dulu hampir tidak ada wilayah di seluruh kawasan timur tengah yang bukan padang gurun?

Lalu, sebenarnya siapa yang bodoh di sini, orang yang mengaku sebagai Matius sang penulis injil, atau umat pengkut Paulus yang selalu mengalami kemacetan nalar kronis sehingga kerapkali gagal berfikir?

Jika benar Matius 24:26 adalah sebuah ramalan, atau istilah kerennya nubuat, kenapa Matius menulis bahwa nabi palsu itu akan datang dari padang gurun, sementara semua penduduk timur tengah yang membaca tulisannya, termasuk dirinya sendiri juga tinggal di padang gurun? Bukankah ini sama saja artinya dengan membuat pernyataan bahwa kelak akan datang nabi palsu, matanya ada dua, satu di kiri satu lagi di kanan? Ini betul-betul sebuah lelucon yang tidak megandung makna sama sekali!

Karena bangsa Yahudi dan semua pengikut Yesus pada jaman itu hidup di padang gurun, maka "dari padang gurun" dalam ayat tsb bisa berarti datang dari mana saja di lingkungan mereka (tidak harus dari Arab), bahkan bukan mutahil sebenarnya datang dari kalangan murid-murid, atau yang mengaku-ngaku sebagai murid Yesus sendiri!

Coba fikirkan sendiri dan ingat-ingat lagi, nabi mana yang semasa hidupnya tidak tinggal dan mondar-mandir di padang gurun? Ada? Lebih lucu lagi, ayat Matius 24:26 yang menyebut padang gurun itu juga menuliskan "Janganlah kamu pergi ke situ."

Lha? Kalau dilarang ke padang gurun, ke mana lagi penduduk Yerusalem atau bangsa Yahudi Israel harus pergi, sedangkan sekeliling mereka adalah padang gurun?

• IA ADA DI DALAM BILIK

Pemahaman bahwa di dalam bilik adalah Ka'bah juga tidak kalah heboh melawan akalnya!

Ka'bah adalah rumah, umat Islam menyebutnya Baitullah, atau rumah Allah. Jadi, jelas sekali tidak dapat diartikan sebagai bilik. Bilik atau kamar adalah bagian dari rumah, alias bukan rumah itu sendiri. Aneh bukan, jika akal sehat para penghujat Islam ini sudah tidak mampu lagi untuk sekedar membedakan arti yang benar antara rumah dan bilik saja?

Jika memang betul yang dimaksud oleh Matius 24:26 adalah Ka'bah, kenapa Tuhan tidak menyebutnya secara gamblang saja? Apa sih susahnya bagi Tuhan untuk berfirman misalnya begini: "Nabi palsu itu akan keluar dari dalam Ka'bah di Mekkah. Ka'bah dulunya adalah tempat beribdah kaum Quraisy yang banyak berhalanya."

Kenapa Tuhannya Matius tidak menyuruh Roh Kudus membimbingnya untuk menuliskan nubuat seperti itu saja agar pengikut Paulus tidak terus menerus kebingungan, lalu secara serampangan cari kambing hitam menuduh Nabi Muhamad saw sebagai nabi palsu?

Lagi pula jika mereka buka lagi Matius 24:26 dan baca versi bahasa Inggerisnya, kata "bilik" tersebut ditulis sebagai "secret places or inner rooms" yang dalam bahasa indonesia artinya adalah "kamar-kamar rahasia."

Memangnya bangunan Ka'bah ada berapa, sehingga disebut dalam bentuk jamak sebagai kamar-kamar rahasia? Lalu, rahasianya sendiri apa? Sejak jaman Adam hingga hari ini rasanya belum pernah ada catatan sejarah yang menuliskan bahwa Ka'bah dianggap, apalagi sampai dijadikan sebagai kamar rahasia!

Dan yang paling konyol dari pemahaman ngawur menyangkut Matius 24:26 ini adalah frase "Ia ada di dalam bilik" yang diklaim sebagai fakta bahwa (seolah-olah) Nabi Muhammad saw berada di dalam Ka'bah!

Wahai para penghujat Rasulullah saw, ketahuilah bahwa Nabi Muhammad saw:

Tidak dilahirkan di dalam Ka'bah,
Tidak dibesarkan di dalam Ka'bah
Tidak bertempat tinggal di dalam Ka'bah,
Tidak makan minum di dalam Ka'bah,
Tidak melaksanakan shalat di dalam Ka'bah,
Tidak pernah bersembunyi di dalam Ka'bah, dan ini yang terpenting,
Tidak pernah dipenjara di dalam Ka'bah.

Sekarang coba fikir sendiri, di mana letak kebenaran klaim bahwa Matius 24:26 itu menunjuk kepada Nabi Muhammad saw dan Ka'bah?
Apa pun argumen menyangkut klaim salah kaparah ini jelas-jelas CACAT LOGIKA!
Lain halnya bila ditujukan kepada Paulus dari Tarsus. Nampaknya semua makna dalam rangkaian sabda Yesus seperti dimaksud dalam Matius 24:24-26 cocok untuknya.

Tanah asalnya (apalagi pada abad pertama Masehi dulu) adalah padang gurun. Dia mengaku-ngaku bertemu Yesus dalam perjalanannya menuju Damsyik, yang juga padang gurun. Yesus bahkan sudah lebih dulu memperingatkan (lihat Matius 24:24-25) bahwa nabi palsu atau yang mengaku-ngaku sebagai messias (dalam hal ini Paulus mengaku dirinya telah membebaskan pengikut Yesus dari keterikatan pada hukum Torah) akan berusaha menyesatkan orang-orang pilihan. Dia banyak sekali menuliskan tanda-tanda dahsyat dan mukjizat-mukjizat semisal dirinya telah dipilih oleh Yesus sejak dalam kandungan, atau bertatap muka secara langsung dengan roh Yesus (tapi nyatanya hampir mustahil untuk dibuktikan), menyebuhkan penyakit dsb. Dan ini yang terpenting;
Dia mempersiapkan ajarannya yang sejak awal disebut-sebut oleh Yesus sebagai penyesatan, dari dalam bilik-bilik rahasia (di bawah tanah) di mana dirinya dipenjara.

Alkitab sendiri mencatat bahwa karena alasan yang kurang jelas, sebagaimana tertulis dalam Kisah para Rasul, Paulus berulangkali dipenjarakan. Dia pernah dipenjara di Filipi, di Korintus, di Yerusalem, di Kaisarea, di Roma, dan patut juga diduga di Efesus, sehingga frase "kamar-lamar rahasia" tempat sang nabi palsu itu bersemayam seperti disebut di atas tadi sama sekali tidak keliru!

Bagaimana? KLOP BANGET, bukan?

HUKUM RAJAM DALAM ISLAM


Memang secara sekilas dan lewat kaca mata orang awam, hari ini kita tidak akan menemukan ayat Quran yang memerintahkan hukum rajam bagi pezina. Namun adalah sebuah kesalahan fatal kalau kemudian disimpulkan bahwa agama Islam tidak mensyariatkan hukumrajam bagi pezina. Ada dua kemungkinan mengapa ada orang bicara demikian. Pertama, mungkin ilmunya belum sampai. Kedua, ilmunya sudah sampai tapi hatinya memang ingkar kepada Allah.

Kalau kesalahan itu tidak disengaja, mungkinkarena keterbatasan ilmu, kurang wawasan, kurang bacaan, kurang banyak mengaji ilmu syariah kepada para ulama, rasanya kita pun masih bisa memaklumi. Namanya juga orang lagi belajar, wajar kalau ilmunya terbatas dan kesimpulannya salah. Tetapi kalau kesalahannya itu memang disengaja, dia tahu bahwa syariat Islam menetapkan hukum rajam buat pezina, tapinyata-nyata inginmengingkari salah satu dari ijma' ulama tentang kewajiban merajam pezina, maka levelnya sudah sampai kufur.

Dan kalau judulnya sudah ingin merusak syariat Islam lewat pendapat-pendapat nyeleneh ala JIL dan sejenisnya, sambil membodoh-bodohi umat Islam yang memang kebetulan rada awam dengan syariah, maka urusannya jadi beda. Urusannya tidak sesederhana dengan sekedar tidak tahu. Yang model begini perlu diberi pelajaran sedikit biar mulutnya tidak asal jeplak.

• Ayat Rajam Dalam Al-Quran

Memang benar bahwa di dalam Al-Quran kita tidak menemukan ayat yang berisi perintah untuk merajam pezina. Namun sebagaimana kita tahu, syariat Islam bukan hanya Al-Quran, hadits nabawi pun merupakan syariat Islam.

Bahkan pada hakikatnya hadits nabawi itu pun wahyu dari Allah SWT juga. Hadits bukan semata-mata perkataan seorang nabi, tetapi lebih dari itu, apa yang keluar dari mulut nabi SAW adalah wahyu yang turun dari langit.

Maka siapa pun yang menolak keberadaan hadits nabi yang shahih, pada hakikatnya dia sedang ingkar kepada kitabullah dan wahyu dari langit. Otomatis dia sedang kafir kepada Allah SWT.

"Dan tiadalah yang dia (Muhammad) ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan" (QS. An-Najm: 3-4)

• Hadits Tentang Rajam

Syariat untuk merajam pezina punya dasar yang sangat kuat, karena haditsnya dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Muslim

Dari Masruq dari Abdillah ra berakta bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah." (HR Bukhari, Muslim, At-Tirmizy, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimy)

Orang yang berzina halal darahnya menurut hadits di atas. Maksudnya memang harus dibunuh. Dan bentuk pembunuhannya adalah rajam sebagaimana praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, sesuai yang tertulis pada hadits-hadits berikut :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seorang lelaki dari kaum muslimin datang kepada Rasulullah saw. ketika sedang berada di dalam mesjid, lalu ia berseru memanggil beliau: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah berzina. Lalu Rasulullah saw. memalingkan diri darinya sehingga orang menghadapkan dirinya ke arah wajah beliau dan berkata lagi: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah berzina. Rasulullah saw. kembali memalingkan diri darinya sehingga orang itu mengulangi ucapannya sebanyak empat kali. Setelah ia bersaksi atas dirinya sebanyak empat kali, Rasulullah saw. memanggilnya dan bertanya: Apakah kamu gila? Lelaki itu menjawab: Tidak. Beliau bertanya lagi: Apakah kamu seorang yang pernah kawin? Lelaki itu menjawab: Ya. Maka Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat: Bawalah ia pergi lalu rajamlah!. (Shahih Muslim No.3202)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa Nabi saw. bertanya kepada Ma`iz bin Malik: Apakah benar berita yang sampai kepadaku mengenai dirimu? Ma`iz bin Malik bertanya: Apakah yang telah engkau dengar tentang diriku? Rasulullah saw. bersabda: Aku mendengar bahwa kamu telah berzina dengan seorang anak perempuan keluarga si fulan. Ma`iz bin Malik menjawab: Ya, benar! Bahkan ia bersaksi empat kali, kemudian Rasulullah saw. memerintahkan lalu ia dirajam. (Shahih Muslim No.3205)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dan Zaid bin Khalid Al-Juhani ra.:
Bahwa seorang lelaki Arab badui datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah, aku mengharapkan engkau hanya untuk memutuskan perkaraku sesuai dengan Kitab Allah. Lalu pihak lain yang berperkara berkata, sedang ia lebih pandai: Ya, putuskanlah perkara kami dengan Kitab Allah, dan izinkanlah aku bicara! Rasulullah saw. berkata: Silakan, bicaralah! Dia pun lalu berbicara: Sesungguhnya anakku sebagai pekerja upahan pada orang ini lalu ia berzina dengan istrinya. Kemudian aku diberitahukan bahwa anakku itu harus dirajam sehingga aku menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Dan aku juga telah menanyakan kepada orang-orang yang berilmu lalu mereka menjawab bahwa anakku hanya harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan istri orang ini harus dirajam. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Demi Tuhan Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan dengan Kitab Allah! Seorang budak perempuan dan kambing harus dikembalikan dan anakmu harus didera seratus kali serta diasingkan selama setahun. Sekarang pergilah kepada istri orang ini, wahai Unais. Jika ia mengaku, maka rajamlah ia. Selanjutnya Unais pun datang menemui wanita tersebut dan ia mengakui perbuatannya. Maka sesuai dengan perintah Rasulullah saw. wanita itu harus dirajam. (Shahih Muslim No.3210)

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)

ARTI ESA/AHAD/ECHAD


Di dalam Al Qur'anul kariim padanan nya adalah sama dengan kata احد dalam bahasa 'arab, kedua kata ini sama sama bermakna SATU, atau lebih jelasnya adalah SENDIRI. Bisa kita lihat di dalam Al Qur'anul kariim.

ALLAH AZZA WAJALLA Berfirman::

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ -١- اللَّهُ الصَّمَدُ -٢- لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ -٣- وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ -٤-

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa (ACHAD)
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun (ACHAD) yang setara dengan Dia". (QS. Al Ikhlash:1-4)

Makna ACHAD diayat pertama, bermakna NUMERIK yaitu SATU, sedangakan di ayat keempat bermakna MUTLAK DIRI yaitu "SENDIRI". Benarkan kata ACHAD dalam bahasa 'arab bermakna SENDIRI. Perhatikan ayat dibawah ini.

Ini adalah pecahan dari kata احد :

أَحَدُهُمْ
أَحَدَهُمُ
Achadu-hum
Achadahumu
Seseorang dari mereka

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ [٢٣:٩٩]
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (ACHADUHUM), dia berkata: "Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia), (QS. Al Mu'minuun:99)

أَحَدٍ
أَحَدًا
أَحَدَ

Achadin
Achadan
Achada
Seorang

فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ [٦٩:٤٧]
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun (ACHADIN) dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS. Al Haqqah:47)

أَحَدَكُمُ
أَحَدُكُمْ
أَحَدَكُم
Achadukum
Achadakumu
Seorang dari kamu

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [٦:٦١]
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu (AHADUKUMU), ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al An'aam:61)

إِحْدَاهُمَا
Ichdaa-humma
"seorang dari kedua orang (Feminim)"

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ [٢٨:٢٥]
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua (Ichdahuma) wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". [Al Qashash:25]

أَحَدٌ
Achadun = seorang pun

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ [٨٩:٢٦]
dan tiada seorangpun (achadun) yang mengikat seperti ikatan-Nya. [Al Fajr:26]

أَحَدِهِم
Achadihim
أَحَدُهُم
achaduhum
أَحَدِهِمْ
Achadihim
Seorang dari mereka

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ [٢٤:٦]
Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. [An-Nur:6]

إِحْدَاهُنَّ
Ichdaahunna
"seseorang dari mereka (feminim) "

وَإِنْ أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا [٤:٢٠]
Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? [An Nisa:20]

أَحَدِهِمَا
Achadi-hima
أَحَدُهُمَا
Achadu-huma
أَحَدُهُمَا
Seorang dari dua orang

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [٥:٢٧]
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (ACHADI-HIMA) (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al Maidah:27)

إِحْدَى
Ichda = SALAH SATU
إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ [٧٤:٣٥]
Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu (ICHDA) bencana yang amat besar, (QS. Al Mudattsir:35)

أَحَدُكُمَا
Achadu-kumaa
salah seorang dari dua orang

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ [٦٣:١٠]
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu (achadukuma); lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Al Munafiqun:10)

أَحَدَنَا
Achad-anaa
"seorang dari kami"

قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ [١٢:٧٨]
Mereka berkata: "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami (Achada-na) sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik". (QS. Yusuf:78)

ShodaqAllaahul 'adzhiim bi Kulli kalaamih
Maha Benar ALLH Maha Agung dengan segala FirmanNya

Dari ayat diatas jelas sudah, membantah bahwa kata ACHAD احد dalam bahasa 'arab bukan bermakna SATU KESATUAN melainkan ESA (SATU) Individual yaitu SENDIRI. Jikalau ALLAH itu ACHAD jelas bahwa DIA HANYA SENDIRI yaitu SATU PRIBADI, SEORANG ITU HANYA SATU PRIBADI,memiliki bermacam SIFAT.

Lalu bagaimana kata ECHAD dalam bahasa ibrani?

====================
Echad didalam Perjanjian Lama
====================

Word: אחד
Pronounc: ekh-awd'
Strong: ‪#‎h259‬
Transliter:
a numeral from 0258 (אחד) ; TWOT-61; adj

AV-one 687, first 36, another 35, other 30, any 18, once 13, eleven + 06240 (עשר) 13, every 10, certain 9, an 7, some 7, misc. 87; 952

1) one (number)
1a) one (number)
1b) each, every
1c) a certain
1d) an (indefinite article)
1e) only, once, once for all
1f) one...another, the one...the other, one after another, one by one
1g) first
1h) eleven (in combination), eleventh (ordinal)

Dari kamus lexicon di atas adakah kata SATU KESATUAN?

Genesis 1:5 יוֺם אֶחָד:
YOM ECHAD
"Hari PERTAMA"

Genesis 1:9 אֶל-מָקוֺם אֶחָד :
EL-MAQOM ECHAD
"Pada SATU Tempat"

Genesis 2:24 לְבָשָׂר אֶחָד:
LE-BASAR ECHAD
"untuk SATU Daging"

Ayat kejadian:2:24 ini adalah dasar yang dipakai oleh pemuja yesus sebagai arti makna ECHAD itu kesatuan. Kalimat Satu Daging (Basar Echad) ini tidak bisa di sangkut pautkan menjadi konsep Echad di dalam Shema', karna konteks ayat diatas adalah satu daging dalam artian kiasan, bukan berarti daging menjadi satu. Karena kalimat "satu" orang pasti bisa mengerti angka "satu" itu hanya sendiri tidak lebih. Didalam shema' maupun al ikhlas ayat 1, dan markus:12:29 itu menyatakan "YHWH ECHAD" yaitu YHWH itu SATU,ESA atau SENDIRI.
semakna dengan ahad.

Genesis 11:6 עַם אֶחָד
"SATU Bangsa"

Ayat diatas bukan bermakna satu kesatuan, melainkan pengunaan echad merujuk ke suatu komunitas yang lebih dari satu orang, ayat ini pun bukan dasar dari SATU KESATUAN. Ayat ini konteksnya yaitu Bangsa, karna kalimat bangsa itu adalah orang-orang yang lebih dari satu. Jadi kalimat Echad itu bisa bermakna Esa dan bisa bermakna Satu Kesatuan akan tetapi harus sesuai konteksnya, kalimatnya bermakna kiasan atau harfiah. Jika Shema dan Al ikhlash, serta Markus:12:29 dinyatakan Tuhan itu Esa dalam Kesatuan, ini jelas janggal, karena konteks di ayat tersebut menyatakan YHWH ECHAD/ALLAH AHAD. Kita tahu bahwa TUHAN itu SATU, jadi jelas makna ayat itu adalah SENDIRI bukan Satu Kesatuan.

Genesis 42:11 בְּנֵי אִישׁ-אֶחָד :
"beney isy-ECHAD"
"anak-anak SATU ayah"

Genesis 42:16 שִׁלְחוּ מִכֶּם אֶחָד :
"syilchu mikem ECHAD"
"utuslah darimu SEORANG"

Ayat-ayat diatas sudah jelas membantah bahwa kata ACHAD-ECHAD itu bukan bermakna SATU KESATUAN yang di anggap sebagai dasar trinitas. Didalam Targum kata ECHAD diterjemahkan menjadi CHAD
"חד" jadi dimanakah dasar SATU KESATUAN itu???

===========
KAMUS INDONESIA
===========

[KBBI]
esa num tunggal; satu;
— hilang, dua terbilang, pb berusaha terus dng keras hati hingga maksud tercapai; berbilang dr — , mengaji dr alif, pb melakukan sesuatu hendaknya dr permulaan;
ber=e=sa-e=sa=an v 1 cak berada seorang diri saja; 2 merasa lengang;
meng=e=sa=kan v menjadikan (menganggap) satu: ~ Tuhan (mengakui bahwa Tuhan hanya satu);
ke=e=sa=an n sifat yg satu: ~ Tuhan

[THESAURUS]
Esa, Ahad, Satu, Tunggal;

[KAMUS SEASITE]
Esa : Tidak ada duanya; satu; tunggal; eka.

So! Dimanakah dasarnya ECHAD DAN ACHAD itu artinya adalah SATU KESATUAN? Apalagi di dalam Al Ikhlash dan Syema' jelas maknanya ESA (SENDIRI) bukan dua ataupun tiga pribadi jadi satu.

wallaahu a'laam bi showaab
Jazakaallaahu khayron katsiroon
Todah Rabbah

Refrensii :

1.Al Qur'anul Kariim
2.TaNa"Kh , Westminster Lenigrad Codex
3.Targum Onqelos
4. di dalam Hebrew Morphology Lexicon, kata ECHAD di sebut "NUMERAL CARDINAL" (Angka Utama)
5.Hebrew Lexicon Bible

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)

BUKTI SEJARAH TERBELAHNYA BULAN


Terdapat bayak Mukjizat-mukjizat yang diingkari oleh kaum musyrik disebabkan kedengkian mereka terhadap islam,  Di antaranya adalah Mukjizat Peristiwa terbelahnya Bulan yang disebutkan dalam Al-Quran di Zaman Rasulullah Saw atau 14 Abad yang lalu:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ * وَإِنْ يَرَوْا آَيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ * وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ

“Telah dekat datangnya Hari Kiamat dan Bulan telah terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus” Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”  [القمر: 1-3]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشِقَّتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ اشْهَدُوا ‏”‏

“Dari Abdullah Berkata bahwa ‏Bulan terbelah menjadi dua bagian di zaman Rasulullah, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Saksikanlah”  (HR. Muslim: 7249)

Dalam diriwayat lain dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah baginda Rasulullah dengan memintanya Membelah Bulan, maka Allah Swt mengabulkan Doa beliau hingga pada malam hari tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira , tapi mereka Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”, kemudian sebagiannya berkata:  “ jika benar kita tersihir dia tidak akan bisa menyihir semua manusia Maka tunggulah sampai datang berita dari Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh, ketika mereka (para Musafir) tiba mereka pun mengatakan bahwa mereka menyaksikan hal yang serupa. Tetapi Kaum Kafir Makkah tetap mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata : “…(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

Beranjak Dari berbagai Riwayat yang serupa, kita dapat meyimpulkan bahwa kejadian itu tidak hanya disaksikan oleh kaum Kafir Makkah saja tetapi Manusia yang berada di tempat selain Makkah pun pada waktu itu dapat menyaksikan peristiwa itu seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal bahwa dia pernah menunggu para pedagang yang berdatangan dari berbagai Negeri jauh (seperti Syam) untuk menanyakan Peristiwa tersebut, maka mereka juga menyaksikan hal tersebut.

Bagaimana Islam masuk ke India ?


Masjid Malik Cheraman
Terdapat sebuah wawancara dengan Raja Valiyathampuram (87 tahun) dari Kodungallur di Central Kerala, beliau adalah keturunan dari Raja Cheraman Perumal (India pertama yang memeluk Islam pada awal abad ke-7), jika berbicara dengannya seakan berbicara mengenai sejarah, Dalam wawancaranya bersama AU Asif (Pewawancara) tersebut beliau sempat ditanya: apakah benar Islam masuk ke india melalui Mukjizat pembelahan Bulan yang dilakukan Oleh Nabi Muhammad atau islam masuk ke india tidak dengan Pedang?

Beliau menanggapi pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa: awal masuknya Islam ke India disebabkan peristiwa Bulan terbelah yang pada suatu malam, saat sang Raja bersama Istrinya berada di atas Istana tiba-tiba mereka menyaksikan Bulan yang terbelah menjadi dua bagian. Lewat para pengembara dan pedangang dari berbagai Negeri asing sang Raja pun akhirnya tahu bahwa kejadian itu merupakan Mukjizat Nabi Muhammad yang berada di Jazirah Arab.
Maka Sang Raja pun pergi menemui Rasulullah Saw setelah membagi-bagikan harta kerajaannya dan menunjuk putranya menjadi Gubernur serta membagikan tanahnya kepada para pemimpin Lokal untuk menjamin kesejateraan kehidupan Kerajaannya.

Beliau masuk Islam di tangan Rasulullah Saw yang disaksikan oleh Abu Bakar Radiallahu Anhu dan mengganti namanya menjadi Tajuddin, Sang Raja meninggal dalam perjalanan kembali ke India dan dimakamkan di jalan di tepi Laut Arab. Dikatakan bahwa sang Raja Muslim ini telah mengirim Surat kepada para menteri lokal kerajaannya lewat Malik bin Dinar sahabat Nabi.

Dalam suratnya Beliau berwasiat bahwa si pembawa surat ini harus mendapat perhatian ekstra, penjamuan dan memuliakannya serta mengizinkannya untuk membangun mesjid di Negeri India pada saat itu. Karena menghormati Raja Cheraman, Penguasa Kerala membagun Mesjid (dibangun pada awal abad ke-7) di Kodungallur yang dikenal sebagai Masjid Malik Cheraman.

Sampai sekarang mesjid tersebut masih ada, seperti yang dijelaskan oleh Raja Valiyathampuram bahwa mesjid itu adalah mesjid tertua di India yang namanya diambil dari Cheraman Perumal dan Malik Ibn Dinar, dan digabungkan menjadi `Masjid Malik Cheraman`. Pemimpin pada waktu itu memudahkan urusan Malik Bin Dinar R.a untuk menyebarkan Islam di India degan kebenaran Mukjizat terbelahnya Bulan.

Seperti yang diceritakan bahwa Malik Bin Dinar wafat di Kasaragod yang kini bernama Karnataka. Raja Cheraman dan Malik Bin Dinar keduanya dikuburkan sisi Laut Arab di mana satunya di Saalala di Oman dan satunya lagi ada di Kasaragod di India. Dengan kata lain, kuburan mereka terhubung dengan air laut.

Manuskrip Kuno
Juga hal yang sama dialami oleh bangsa dan kebudayaan-kebudayaan lain sebagian dari mereka mencatat keajaiban peristiwa itu , seperti yang terdapat dalam manuskrip Madrid dan Manuskrip Bangsa Maya kuno dalam Ilmu perbintangan.
http://www.mayalords.org/
http://www.mayalords.org/restfldr/persia.html



Menunjukkan bahwa dalam manuskrip Persia ini terdapat salah seorang Lelaki yang menunjuk ke arah Bulan Yang terbelah.
Sejak dahulu bangsa Maya dikenal sangat mengemari Ilmu Astronomi dan merupakan salah satu negeri yang maju dalam bidang ilmu tersebut. Tetapi dalam salah satu Manuskripnya menunjukkan bahwa Mereka (Bangsa Maya) Menganggap di Bulan telah terjadi gempa dan memyebabkan terbelahnya Bulan menjadi dua bagian.


Naskah yang menunjukkan keadaan Bulan dalam gambar Telinga kelinci dan wajahnya yang pecah dan ditandai dengan Simbol Dewi Bulan. Persitiwa pembelah Bulan tercatat dalam Manuskrip Pasir dan India pada waktu yang berdekatan yaitu awal abad ke-7 Masehi dan Sejarawan juga mengatakan bahwa di salah satu Kuil Kuno di Cina tertulis mengenai peristiwa itu.


Teks bahasa Inggris:
At the top of page 139 in the 1997 Maya Hieroglyphic Forum, the dot and bar numbers have been inserted as corrections for the tops of the other columns (missing in V and K’s works). On the basis of the number sequences, the date of the first (and, what I am surmising, was the original change) is 9.9.9.16.0 or the Gregorian date of 9 February 623 (the Julian date calculated the 6th of February, that same year).

Dalam naskah diatas menujukkan tahun 623 Masehi, sesuai dengan jumlah waktu menetap Rasulullah  Saw di Makkah sebelum Hijrah ke Madinah. Rasulullah Saw dilahirkan pada Tahun 570 atau 571 Masehi, kemudian hidup di Makkah selama 53 tahun ( 40 sebelum menjadi Rasul + 13 setelah diangkat menjadi Rasul )
Jika pada tahun 571 (kelahiran Nabi) + 53 ( kehidupan Nabi selama di Makkah sebelum Hijrah)

Atau Tahun 623 Masehi : Jika kita mulai menghitungnya pada tahun 570 Masehi..Persisi dengan tahun yang disebutkan dalam Naskah bangsa Maya di atas, serta tahun di mana terjadinya Peristiwa tebelahnya Bulan di Akhir-Akhir tahun Rasulullah berada di Makkah sebelum Hijrah.

Kamis, 21 Mei 2015

KEOTENTIKAN AL-QURAN


Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya" (QS. 15:9).

Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw.

Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum ‘Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: “Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya.”1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.

• Bukti-Bukti Dari Al-Quran Sendiri

Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.3

Huruf-huruf hija’iyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw. Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab).

Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.

Huruf-huruf kaf, ha’, ya’, ‘ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.

Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19. Kedua, huruf (ya’) dan (sin) pada surah Yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19. Kedua huruf (tha’) dan (ha’) pada surah Thaha masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19 X 18.

Huruf-huruf (ha’) dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha’ mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114 X 19, yakni masing-masing berjumlah 2.166.

Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan Al-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau.

Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran Al-Quran.

Demikianlah sebagian bukti keotentikan yang terdapat di celah-celah Kitab Suci tersebut.

• Bukti-Bukti Kesejarahan

Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari.

Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam rangka pembicaraan kita ini, yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas Al-Quran.

(1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab –bahkan sampai kini– dikenal sangat kuat.(2) Masyarakat Arab –khususnya pada masa turunnya Al-Quran– dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja: Kesederhanaan ini, menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan.

(3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan; mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu tertentu.

(4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum Muslim. Kaum Muslim, disamping mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta meyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

(5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan kepada kaum Muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Quran dan anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat.

(6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Disamping itu, ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan proses penghafalannya.

(7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis-hadis Nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita –lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan Firman-firman Allah atau sabda Rasul-Nya.

Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi saw. yang menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul saw., telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang penghafal Al-Quran.4

Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun, Nabi saw. lalu memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan alat tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya disamping kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran. Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk “kitab” pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a.5

• Penulisan Mushhaf

Dalam uraian sebelumnya dikemukakan bahwa ketika terjadi peperangan Yamamah, terdapat puluhan penghafal Al-Quran yang gugur. Hal ini menjadikan ‘Umar ibn Al-Khaththab menjadi risau tentang “masa depan Al-Quran”. Karena itu, beliau mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah ditulis pada masa Rasul. Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu menerima usul tersebut –dengan alasan bahwa pengumpulan semacam itu tidak dilakukan oleh Rasul saw.– namun pada akhirnya ‘Umar r.a. dapat meyakinkannya. Dan keduanya sepakat membentuk suatu tim yang diketuai oleh Zaid ibn Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas suci dan besar itu.

Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat untuk menerima tugas tersebut, tetapi akhirnya ia dapat diyakinkan –apalagi beliau termasuk salah seorang yang ditugaskan oleh Rasul pada masa hidup beliau untuk menuliskan wahyu Al-Quran. Dengan dibantu oleh beberapa orang sahabat Nabi, Zaid pun memulai tugasnya. Abu Bakar r.a. memerintahkan kepada seluruh kaum Muslim untuk membawa naskah tulisan ayat Al-Quran yang mereka miliki ke Masjid Nabawi untuk kemudian diteliti oleh Zaid dan timnya. Dalam hal ini, Abu Bakar r.a. memberi petunjuk agar tim tersebut tidak menerima satu naskah kecuali yang memenuhi dua syarat:

Pertama, harus sesuai dengan hafalan para sahabat lain.

Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis atas perintah dan di hadapan Nabi saw. Karena, seperti yang dikemukakan di atas, sebagian sahabat ada yang menulis atas inisiatif sendiri.

Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan adanya dua orang saksi mata.

Sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan kesulitan karena beliau dan sekian banyak sahabat menghafal ayat Laqad ja’akum Rasul min anfusikum ‘aziz ‘alayh ma ‘anittun harish ‘alaykum bi almu’minina Ra’uf al-rahim (QS 9:128). Tetapi, naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw. tidak ditemukan. Syukurlah pada akhirnya naskah tersebut ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari. Demikianlah, terlihat betapa Zaid menggabungkan antara hafalan sekian banyak sahabat dan naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw., dalam rangka memelihara keotentikan Al-Quran. Dengan demikian, dapat dibuktikan dari tata kerja dan data-data sejarah bahwa Al-Quran yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang diterima dan dibaca oleh Rasulullah saw., lima belas abad yang lalu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu dikemukakan bahwa Rasyad Khalifah, yang menemukan rahasia angka 19 yang dikemukakan di atas, mendapat kesulitan ketika menemukan bahwa masing-masing kata yang menghimpun Bismillahirrahmanirrahim, kesemuanya habis terbagi 19, kecuali Al-Rahim. Kata Ism terulang sebanyak 19 kali, Allah sebanyak 2.698 kali, sama dengan 142 X 19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57 kali atau sama dengan 3 X 19, dan Al-Rahim sebanyak 115 kali. Di sini, ia menemukan kejanggalan, yang konon mengantarnya mencurigai adanya satu ayat yang menggunakan kata rahim, yang pada hakikatnya bukan ayat Al-Quran. Ketika itu, pandangannya tertuju kepada surah Al-Tawbah ayat 128, yang pada mulanya tidak ditemukan oleh Zaid. Karena, sebagaimana terbaca di atas, ayat tersebut diakhiri dengan kata rahim.

Sebenarnya, kejanggalan yang ditemukannya akan sirna, seandainya ia menyadari bahwa kata rahim pada ayat Al-Tawbah di atas, bukannya menunjuk kepada sifat Tuhan, tetapi sifat Nabi Muhammad saw. Sehingga ide yang ditemukannya dapat saja benar tanpa meragukan satu ayat dalam Al-Quran, bila dinyatakan bahwa kata rahim dalam Al-Quran yang menunjuk sifat Allah jumlahnya 114 dan merupakan perkalian dari 6 X 19.

• Penutup

Demikianlah sekelumit pembicaraan dan bukti-bukti yang dikemukakan para ulama dan pakar, menyangkut keotentikan ayat-ayat Al-Quran. Terlihat bagaimana Allah menjamin terpeliharanya Kitab Suci ini, antara lain berkat upaya kaum beriman.

Catatan Kaki :

1. ‘Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, t.t., h. 50.

2. Muhammad Husain Al-Thabathabaly, Al-Qur’an fi Al-Islam, Markaz I’lam Al-Dzikra Al-Khamisah li Intizhar Al-Tsawrah Al-Islamiyah, Teheran, h. 175.

3. Mustafa Mahmud, Min Asrar Al-Qur’an, Dar Al-Ma’arif, Mesir, 1981, h. 64-65.

4. ‘Abdul Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-‘Irfan i ‘Ulum Al-Qur’an, Al-Halabiy, Kairo, 1980, jilid 1, h. 250.

5. Ibid., h. 252.

MENJAWAB FITNAH : NABI MUHAMMAD MENINGGAL DIRACUN


Seorang Kristen Menuduh:

1) Kalau dia mengada-adakan perkataan awlohnya, maka biarlah urat nadinya terpotong

Qs. 69:44-47
(44) Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
[45] Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.
[46] Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
[47] Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

Dan ini pengakuan Muhammad di akhir hidupnya:

Hadis Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713:
Dikisahkan oleh Aisha:
Pada waktu sakitnya sebelum dia mati, sang Nabi sering mengatakan, "Wahai Aisha! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu."

Tabaqat Ibn Sa'd, halaman 252
Rasul Allah hidup sampai tiga tahun setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat. Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun) yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa tiba saatnya batang nadiku terputus.”

Itu adalah pengakuan paling jujur yang pernah Muhammad sampaikan kepada Aisyah, bahwa dirinya adalah seorang nabi palsu yang suka mengada-adakan perkataan awlohnya (mengarang ayat palsu untuk kepentingan dirinya) sesuai dengan sesumbarnya sendiri lewat QS 69:44-47.

Jawaban :

Anda seolah-olah ingin mengkorelasi dalil tersebut, padahal ayat (qur’an), hadist, dan sirah  di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan tuduhan yang mengatakan bahwa Muhammad nabi palsu.
Akan tetapi ayat tersebut (69:44-47), menegaskan bahwa Alqur’an itu adalah benar-benar wahyu Allah, bukan sebuah syair, dan bukan pula perkataan tukang tenung (sihir), apalagi perkataan nabi Muhammad sendiri.

Dalil itu menjadi penegasan buat beliau (Muhammad SAW), bahwa dirinya tidak punya kuasa untuk menambah, mengurangi, maupun mengubah kandungan risalah Allah SWT selain mengikuti  dan menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepadanya.

” …dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). “(QS.53: 3-4)

Bahwa yang menjadi azbabun nuzul ayat tersebut juga diterangkan dalam tafsir Ibnu Katsir, disitu dijelaskan bahwa, orang-orang musyrik tidak percaya bahwa kitab yang datang kepada Muhammad itu adalah datangnya dari Allah.

Nabi SAW bersabda: Seandainya saya berdusta atas-Nya, niscaya Dia akan mengutukku sebagaimana firman Allah: (Lebih detailnya adalah sebagai berikut, dimulai dari ayat 38 hingga ayat 52.)

Surah Al-Haqqah:

38. Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.
39. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
40. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,
41. dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
42. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.
43. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
44. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
45. niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
46. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
48. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
49. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).
50. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).
51. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.
52. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.

Pada riwayat lain, tatkala Nabi SAW menerima usul dari seorang ketua musryikin Quraisy supaya beliau menukar bunyi ayat-ayat Alqur’an, lalu Allah menurunkan firmanNya kepada beliau yang berbunyi:

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (Yunus: 15)

Dengan ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa Nabi SAW tidak pernah mengatakan apa yang tidak diwahyukan oleh Allah. Jadi, apa-apa yang beliau katakan (bacakan) kepada para pengikutnya itu sekali-kali bukan dari kemauan beliau sendiri, tetapi wahyu dari Allah semata. Dan jika Nabi SAW membuat perkataan-perkatan yang dilakukan atas nama Allah, niscaya Allah memurkai beliau dan sudah tentu pada waktu itu juga beliau dipotong urat leher atau urat jantungnya hingga mati dalam kebinasaan.

Sampai detik ini bahkan hingga akhir zaman nanti, tidak ada yang bisa membuktikan Muhammad bukan seorang Nabi, kecuali hanya berdasarkan pada asumsi, kedengkian serta kebenciannya alan kebenaran Islam sebagai jalan jalan yang lurus.

Sebaliknya, sampai detik ini bahkan hingga akhir zaman nanti, sosok seorang Isa Al-Masih/Yesus, hanyalah sosok yang kontroversial di kalangan umat Kristen itu sendiri, apakah ia seorang Tuhan atau hanyalah seorang hamba saja. Dan turunnya ia di akhir zaman nanti, adalah sebagai penjelasan kepada mereka  bahwa umat yang menuhankannya selama ini telah keliru, ditipu Paulus, dan melestarikan kebodohan itu sejak 2000 tahun lalu.

Adapun perihal makanan beracun dengan merujuk pada Tabaqat Ibn Sa’d halaman 249 yang mana tuduhan anda mengatakan “Muhammad nabi Palsu karena mati akibat diracuni wanitaYahudi”,  adalah juga tuduhan yang mengada-ngada dan sangat sarat dengan kebencian ajaran anda akan Islam sebagai agama yang diridhai oleh Tuhan Semesta Alam.

Dan riwayat yang dikutip tersebut–oleh penuduh– tidak dicantumkan secara lengkap dimana ia hanya mengutipnya pada bagian-bagian kalimat yang tertentu saja. Bahwa dari kejadian tersebut, Nabi SAW memang benar-benar TERBUKTI sebagai SEORANG NABI, yakni,  Rasulullah SAW tahu bahwa daging tersebut disusupi racun.

“Sesungguhnya, tulang daging ini memberitahukan kepadaku bahwa ia beracun.”

Cerita ini agak panjang, tapi ringkasnya adalah wanita yang mencoba menyusupi racun tersebut, yakni Zainab binti Harits (Istri Sallam bin Misykam-pahlawan kaum yahudi yang mati dibunuh oleh tentara kaum muslimin) akhirnya masuk Islam karena kebenaran tersebut.  Ia (Zainab binti Harits) berkata dalam pengakuannya;

“Sayalah yang melakukan itu, sebab aku ingin tahu apakah kamu benar-benar seorang nabi, yang jika memang benar maka racun ini tidak akan mengganggumu, dan jika kamu ternyata seorang nabi palsu, maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.” (Cuma sampai disini yang anda kutip),

Berikut lanjutannya:

“…Dan ternyata MEMANG BENAR engkau seorang nabi, daging tersebut memberi kabar kepadamu bahwa ia beracun, maka dengarlah bahwa saya bersaksi ‘Tiada Tuhan Selain Allah, dan Engkau Muhammad benar-benar utusan Tuhan”.  Zainab binti Harist pun masuk Islam karena kebenaran itu dan juga berdasarkan kemauannya sendiri.

Secara logika:

Racun yang dibubuhi termasuk sangat ganas, terbukti sahabat nabi, Bisyr ibnul Barra bin Ma’ruf yang ikut makan pada waktu itu, meninggal seketika. Sedangkan nabi SAW tidak jadi memakannya, malah memuntahkannya kembali. Bahkan dalam kitab tarikh, Umar r.a berkata kepada beliau:

“Demi ibu-bapakku wahai Rasul! Sungguh, andaikan Isa putra Maryam telah dikarunai oleh Allah kemampuan untuk dapat menghidupkan kembali orang mati, namun apakah hal itu lebih menakjubkan ketimbang DAGING KAMBING YANG DIRACUNI dan telah digoreng, KETIKA IA BERBICARA DENGANMU LEWAT PAHANYA, “JANGANLAH ENGKAU MEMAKANKU, KARENA AKU BERACUN!”

Selain itu beliau juga masih tetap berdakwah seperti biasanya ± empat tahun lamanya (628 M/ 7 H – 632 M /9 H ) pasca percobaan peracunan makanan beliau oleh wanita Yahudi tersebut. Apakah masuk akal jika beliau wafat karena racun tersebut yang jangkanya terpaut empat tahun lamanya?

Berikut adalah riwayat tentang perang Khaibar, riwayat Wanita Yahudi yang mencoba membubuhkan racun namun nabi Muhammad selamat, dan riwayat tentang wafatnya nabi.

1. Mengenai perang di Khaibar :

Dari Anas bin Malik ra., katanya : Rasulullah s.a.w. memasuki Khaibar pagi hari. Waktu itu mereka keluar kelapangan. Setelah mereka melihat beliau mereka berkata :”Muhammad dan tentara”. Lalu mereka segera menempati benteng mereka. Nabi s.a.w mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa :
“Allahu Akbar”! Hancurlah Khaibar! Bila kami duduki lapangan suatu kaum, maka amat buruk pagi hari orang yang diberi peringatan (tetapi) tidak menurut.
(HR. Bukhari 1550)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya : Setelah Khaibar diduduki, ada orang yang menghadiahkan daging kambing yang beracun kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “ Saya hendak bertanya kepadamu tentang satu hal ! Adakah kamu mau memberikan keterangan yang sebenarnya kepada saya!”. Mereka menjawab : “Ya” Nabi SAW bertanya kepada mereka :”Siapa ayahmu?” mereka itu menjawab :”Si Anu !” Lalu beliau bersabda :” kamu dusta, akan tetapi ayah kamu si “Anu”. Mereka itu berkata :” Benar Tuan!” Beliau bertanya :” Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan ?” Ya, hai Abu Qasim! Sekiranya kami berdusta, tuan ketahui dusta kami sebagaimana tuan ketahui tentang ayah kami”. Beliau menanyakan kepada mereka : “Siapa ahli neraka”?” Mereka itu menjawab : “Kami berada didalamnya dalam masa yang singkat, kemudian kamu gantikan kami didalamnya”. Nabi saw lalu bersabda :”Kamu akan tetap disika dalam neraka itu, demi Allah! Kami tidak akan pernah menggantikan kamu didalam neraka itu”.
Kemudian beliau bersabda lagi : “ Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Jawab mereka : “Ya, hai Abu Qasim!” Beliau bertanya : “Adakah kamu isikan racun dalam daging kambing ini?” Jawab mereka :”Ya”. Tanya beliau : “ Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” (HR. Bukhari 1412)

2. Pembuktian bahwa nabi Muhammad selamat dari racun yang diberikan oleh wanita Yahudi adl :

1. Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M –
Zul Qa’dah 7 H) Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
2. Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy
bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
3. Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau
membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-behrhala yang ada disekitar
Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
4. 4 (Empat tahun) dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih HIDUP!! Dan pada bulan maret 632
M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H) Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama
dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
5. Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapakan Tentara Usamah
untuk pergi ke Negri Syam.
6. Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari
kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat.

3. Nabi Muhammad wafat karena sakit biasa dan bukan karena racun: :

Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dak’wah :
Dari Aisyah ra., katanya :” Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.”
Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?”
Jawabku, “Tidak!”
Katanya, “Dia adalah Ali”.
Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.”
Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.”
Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah”
(HR Bukhari 135)

Justru orang yang tewas dibunuh akibat dusta yang diucapkan dan karena ajarannya yang dilakukan terjadi pada Paulus dan bukan pada Rasulullah.

Simak ayat berikut :

Amsal 19:5 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.

Lihat kematian tragis orang yang dianggap ‘suci’ oleh kristen :

1. Paulus dari tarsus, orang yang dianggap sebagai ‘rasul’ Dia dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24).

Menurut tradisi, setelah dua tahun Paulus dibebaskan dari penjara Roma dan lantas melakukan perjalanan ke Spanyol, lalu kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma dimana dia kembali dipenjarakan untuk kedua kalinya. Akhirnya tewas di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok-tembok kota pada tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero.

Satu penulis sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan tulisan-tulisannya berdasarkan bukti nyata adalah Eusebius, yang menuliskan bahwa :

1. Matius tewas disiksa dan dibunuh dengan pedang di Eithopia.
2. Markus tewas setelah badannya diseret hidup2 dengan kuda melalui jalan yang penuh batu hingga akhir ajalnya.
3. Lukas mati digantung di Yunani.
4. Yohanes direbus/lebih tepatnya digoreng dengan minyak goreng mendidih di roma.
5. Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.
6. dll

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)

Rabu, 20 Mei 2015

TAFSIR SURAH YASIN : 13-14


Di dalam Al Qur`an surat Yaa Siin ayat 13 dan 14 tersebut :

 وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) [يس: 13، 14[

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu”. (QS Yasin : 13-14)

Sebagian kaum kristiani mengklaim ayat di atas sebagai bukti diakuinya kerasulan Paulus dalam Islam. Ini karena mereka menemukan dalam sebagian tafsir-tafsir umat Islam bahwa yang dimaksud Rasul ke tiga dalam ayat di atas adalah Paulus.

Mereka mengutip tafsir Ibnu Katsir :

فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ

Kami mendukung dan memperkuat mereka dengan utusan ketiga. ‘ Ibn Jurayj mengisahkan dari Wahb bin Sulayman, dari Shu`ayb Al-Jaba’i, “Nama2 utusan pertama dan kedua adalah Sham’un (Simon) dan Yuhanna (Yohanes), dan nama utusan ketiga adalah Bulus (Paulus), dan nama kota adalah Antiokhia. (1)

Untuk menguatkan “dugaan”-nya mereka membawakan perkataan imam Qurthubi dalam menafsiri Surat Ash Shaff ayat 14, beliau berkata setelah membahas perselisihan pendapat mengenai maksud ayat ini :

Dikatakan bahwa ayat ini diwahyukan mengenai utusan2 `Isa, semoga damai dan berkat menyertainya. Ibn Ishaq menyatakan bahwa para utusan dan murid Yesus yang dikirim (untuk berkhotbah) adalah Petrus dan Paulus yang pergi ke Roma; Andreas dan Matius yang pergi ke tanah orang2 kanibal; Thomas yang pergi ke Babel di daerah Timur; Filipus yang pergi ke Afrika; Yohanes yang pergi de Dac-sos yang adalah suku asal orang2 yang tertidur di gua; Yakub pergi ke Yerusalem, Bartholomeus pergi ke tanah Arabia, terutama Al-Hijaz; Simon yang pergi ke tanah orang2 Barbar; Yudas dan Barthas yang pergi ke Alexandria dan daerah sekitarnya…. (2)

Dan memang masih banyak pernyataan serupa dalam literatur islam yang menyatakan Paulus sebagai utusan Yesus. Sehingga mereka (kaum nasrani) bertanya-tanya mengapakah kaum muslim tidak mengakui Paulus sebagai utusan Yesus sedangkan literatur muslim sendiri penuh dengan pernyataan kerasulannya ??

Kami Menjawab

Kekeliruan anggapan ini,  mungkin karena mereka menyamakan cerita-cerita yang ada dalam literatur islam, dengan cerita-cerita dalam bible yang bisa langsung diterima meskipun tidak diketahui siapa yang mengkhabarkannya. Dalam islam suatu khabar meskipun disandarkan kepada Rasulullah, harus diteliti keshahihannya baik melalui penyelidikan tentang orang yang meriwayatkan atau tentang isi dari matannya, apakah bertentangan dengan kenyataan atau tidak, setelah lulus barulah ia dapat diterima. Penelitian semacam ini tidak dikenal dalam Nasrani sehingga pantas jika Bibel tetap dipercaya meski banyak yang tidak lagi otentik.

Jika kita cermati, Al Qur`an maupun Hadits Rasulullah tidak pernah sekalipun berbicara mengenai sosok Paulus, literatur-literatur islam yang menyebut masalah Paulus semuanya bersumber dari khabar Israiliyat (bersumber dari kaum bani Is`rail), padahal Rasulullah saw memerintahkan kita untuk berhati-hati dalam menerima khabar Israiliyat. Abu Hurairoh (seorang sahabat Rasulullah saw) berkata :

Ahlul kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkan bagi umat muslim ke dalam bahasa arab,  Maka Rasulullah saw bersabda “Jangan kalian mempercayai ahlul kitab dan jangan pula mendustakan mereka, katakanlah “Aku beriman kepada Allah dan apa yang Allah turunkan kepada kami…” (HR Bukhari)(3)

Hadits di atas merupakan panduan seluruh ahli tafsir umat islam, dan didapati  hampir di semua kitab tafsir termasuk dalam tafsir Ibnu Katsir dan Qurthubi, bahkan Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa kebanyakan khabar yang bersumber dari mereka berisi kebohongan dan sangat sedikit yang berisi kebenaran. (4)

Nama ketiga Rasul

Dalam tafsir-tafsir kaum Muslimin terdapat perselisihan yang panjang mengenai banyak hal dari ayat di atas. Seperti masalah  Apakah mereka utusan langsung dari Allah Atau utusan Yesus ? , atau masalah kemana mereka diutus ?,  dan terakhir siapakah nama ketiga Rasul tersebut ?

Baiknya kita fokus kepada masalah nama mereka, karena itu yang diperselisihkan disini.

Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu Ishaq bahwa nama ketiga Rasul tersebut adalah Sadiq, Saduq dan Shalum. Dan mengutip dari Ibnu Juraij bahwa nama dua Rasul pertama adalah Sham’un (Simon) dan Yuhanna (Yohanes), dan nama utusan ketiga adalah Bulus (Paulus). Dan nama kota mereka diutus adalah Anthiokiya (pendapat yang Ibnu Katsir sendiri menganggapnya sangat lemah)(5)

Imam Baghowi mengutip dari Wahab bahwa nama kedua rasul pertama adalah Yohanes dan Paulus sedangkan Rasul ketiga adalah Simon. (6)

Imam Syaukhani dalam tafsirnya mengatakan, “Dikatakan bahwa nama kedua orang Rasul itu adalah Yohanes dan Simon ada juga yang mengatakan nama ketiga orang tersebut adalah Shodiq, Mushodiq dan Syalum,  dan yang lain berkata nama ketiga orang itu adalah Simon, Yahya dan Paulus.”(7)

Dalam Tafsir Khazin disebutkan : Nama kedua rasul pertama adalah Yohanes dan Paulus, atau Shodiq dan Shoduq dan yang ketiga adalah Simon atau Syalum. (8)

Imam Qurthubi mengutip dari Abu Ja`far An Nuhas, Ka`ab dan Wahb ,  mereka adalah Shadiq, Shaduq dan Syalum. Dalam riwayat lain  Simon dan Yohanes.  Dan Ia menuqil dari An Nuqosy bahwa mereka adalah Simon dan Yahya. Kemudian ia membawa riwayat yang menyatakan bahwa Rasul ketiga adalah Simon Ashofa pemimpin dari Hawariyyin. (Beliau sama sekali tidak menyebut Paulus disini) (9)

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary menukil perkataan Ibnu Ishaq , nama ketiganya adalah Shadiq, Shaduq dan Syalum. Kemudian ia mengutip dari Wahab bin Sulaiman bahwa nama kedua Rasul itu adalah Simon dan Yohanes, sedangkan Rasul ketiga adalah Paulus. Sedangkan Imam Qathadah mengatakan mereka adalah para Rasul yang diutus sebelum Al Masih.(10)

Melihat beragamnya pendapat para ulama mengenai nama ketiga orang tersebut, maka salah besar jika kita hanya mengambil satu riwayat dari tafsir – apalagi yang bersifat Israiliyat– untuk kemudian dipaksakan sebagai pendapat satu-satunya sang penafsir, atau bahkan lebih parah lagi sebagai pendapat satu-satunya dalam Al Qur`an.

Kalaupun kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Paulus merupakan merupakan salah satu dari tiga Rasul yang diutus ke Anthiokiya (meskipun pendapat ini perlu dipertanyakan sebab dalam ayat disebutkan bahwa daerah tersebut dibinasakan oleh Allah, sedangkan kenyataan sejarah tidak mencatat adanya pembinasaan di wilayah Anthiokiya atau lainnya di masa Yesus atau setelahnya),Tentunya Paulus yang dimaksud mereka tidaklah sama dengan Paulus yang dimaksud kaum Nasrani. Sebab ada perbedaan yang sangat mencolok di antara keduanya, diantaranya :

1. Para ahli Tafsir menganggap Yesus sebagai Utusan Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Ketika mereka mengatakan bahwa Paulus adalah rasul dari Isa, yang mereka maksud adalah Paulus yang mengesakan Allah dan memandang Yesus tak lebih sebagai salah satu hamba-Nya (hal ini dapat kita lihat dalam kitab Bidayah wa Nihayah yang menyebutkan Paulus sebagai orang yang percaya keesaan Allah dan bahwa Yesus adalah hambanya(11)) sedangkan dalam  tradisi Nasrani Paulus memiliki anggapan bahwa Yesus adalah Tuhan bahkan ialah yang pertama menyuarakan Trinitas.

2. Para Ahli Tafsir yang menyebut mengenai Paulus, menyatakan bahwa Ia adalah murid langsung yang diutus oleh Yesus bersama dua Murid lainnya. Sedangkan dalam literatur Nasrani, Paulus tidak pernah bertemu Yesus,  Dia bukan termasuk 12 orang murid piilihan. Dia mengaku sebagai utusan Yesus setelah Yesus disalib, ia mengaku-ngaku saja telah bertemu dengan Yesus.

3. Para ahli Tafsir yang menyebut Paulus sebagai Salah satu dari tiga Rasul ternyata juga menyatakan di tempat lain mengenai sosok Paulus “lain” yang merupakan aktor penting di balik kerusakan ajaran Yesus
Al Imam Qurthubi yang ketika menafsiri Surat Ash Shaff ayat 14, menyatakan Paulus sebagai salah satu Rasul Yesus. Dalam bagian lain dari tafsirnya berkata :

Dikatakan bahwa kaum Nasrani berada dalam agama islam selama delapan puluh satu tahun setelah Nabi isa diangkat, mereka shalat menghadap kiblat, berpuasa di bulan Ramadhan, sampai terjadi peperangan antara mereka dan Yahudi, di dalam pasukan Yahudi terdapat seorang lelaki yang berani yang dipanggil ”Paulus”, ia telah membunuh banyak pengikut Isa. Suatu hari ia berkata (kepada kaumnya yahudi) :

“Jika kebenaran bersama Yesus maka artinya kita telah kafir dan inkar dan kita akan masuk ke dalam neraka.  Jika demikian kita akan rugi, sebab mereka masuk ke surga sedang kita akan masuk ke dalam neraka. Aku akan membuat tipu daya bagi mereka sehingga aku dapat menyesatkan mereka, kemudian mereka akan masuk ke dalam neraka”

Kemudian ia berpura-pura menampakkan penyesalan dan menaburkan  tanah ke atas kepalanya (sebagai tanda penyesalan), seraya berkata kepada kaum kristiani :

“Aku Paulus musuh  kalian, Aku mendengar suara dari langit bahwsanya tiada bagimu taubat kecuali jika kamu masuk ke dalam Nasrani”

Maka mereka memasukan Paulus ke dalam sebuah ruangan di  gereja, dan Paulus berdiam di sana siang maupun malam selama setahun, sampai akhirnya ia keluar seraya berkata :

“Aku mendengar suara dari langit “ Allah telah menerima taubatmu””

 Mereka (kaum nasrani) mempercayainya dan mencintainya, kemudian ia mengembara ke Baitul Maqdis dan di sana ia meninggalkan seorang lelaki bernama Nestor, diajarkannya bahwa anak Maryam (Yesus) adalah tuhan kemudian ia menuju Roma dan mengajarkan mengenai lahut dan nasut dan berkata “ Yesus bukan manusia dan bukan berupa tubuh akan tetapi ia adalah tuhan”. Ia mengajarkan itu kepada seorang lelaki bernama Ya`kub. Kemudian ia memaggil lelaki bernama Malkan dan berkata padanya “Sesungguhnya tuhan sejati adalah Yesus tak akan berubah”.

Setelah itu ia memanggil tiga orang tersebut satu per satu dan berkata kepada masing-masing dari ketiganya “Engkau adalah penggantiku aku telah melihat Yesus dalam tidurku dan ia telah ridha kepadaku, Aku akan menyembelih diriku esok untuk mendekatkan diri dengannya. Maka ajaklah manusia pada jalanmu”

Kemudian ia memasuki tempat bunuh diri dan menyembelih dirinya sendiri. Setelah tiga hari berlalu mereka mengajak manusia pada ajarannya dan setiap orang diikuti oleh kelompok-kelompok sehingga mereka saling bermusuhan dan berselisih sampai sekarang, semua Nasrani berasal dari tiga golongan ini inilah sebab kesyirikan mereka wallahu a`lam

Kisah seperti ini dapat juga didapatkan dalam tafsir Baghowi, Khozin, Ar Razi dan tafsir-tafsir lainnya.(12)

Lantas apakah berarti terdapat dua “Paulus” di sana ?. Paulus “Rasul” dan Paulus “Pendusta”.

Paulus di mata para ulama` Islam

Para ulama Islam menganggap Paulus “Pendusta” sebagai orang  yang paling bertanggung jawab dalam mengubah agama Nasrani yang asalnya berasakan Tauhid Murni kepada paham trinitas dan dalam mengubah hukum-hukum Taurat.

Al Khozin dalam tafsirnya menyatakan :

“Dikatakan bahwa orang yang menampakkan hal ini (ketuhanan Yesus) adalah seorang lelaki Yahudi bernama “Paulus”, dia memasuki agama nasrani dan menyusuokan faham ini dalam agama nasrani untuk menyesatkan mereka “ (13)

Al Imam Ibnu Hazm Adh Dhahiri mengatakan :

“Para Rahib Yahudi bersepakat untuk menyuap Paulus keturunan bunyamin-semoga Allah melaknatnya-, mereka memerintahnya agar menampakkan agama Yesus (Nasrani), dan menyesatkan pengikutnya dengan menyusupkan faham mengenai ketuhanan Yesus. Mereka berkata pada Paulus, “Kami akan menanggung dosamu dalam masalah ini”. Maka Paulus melakukannya …” (14)

Al Imam Abul Baqo Sholeh bin Husain berkata :

“Aku tidak mengetahui dalam agama Nasrani yang lebih celaka dari lelaki ini (Paulus) karena ia membebaskan bagi mereka (kaum nasrani) hal-hal agama dengan tipu dayanya yang lembut, maka ia membebaskan sunnah untuk bersunat ketika melihat akal mereka telah menerima semua yang ia sampaikan” (15)

 As Syaikh Abu Fadh Al Maliki berkata :

“Paulus ini benar-benar telah menngambil (menghalalkan) agama dengan tipu dayanya yang lembut, ketika ia melihat akal mereka menerima semua yang ia sampaikan, dan ia mulai menghapus hukum-hukum taurat” (16)

Antara Ajaran Yesus dan ajaran Paulus

Tuduhan yang mereka lontarkan bukanlah tuduhan yang tak beralasan, karena memang pada kenyataanya Ajaran Paulus banyak sekali bertentangan dengan Ajaran Yesus dan ajaran Taurat. Berikut kenyataanya :

Yesus datang tidak untuk meniadakan hukum Taurat
Dalam perjanjian lama Nabi Musa as berkata :

Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!” (Ulangan  27 : 26)

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menegaskan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Musa as :

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

Perhatikan, Yesus menyatakan bahwa selama langit dan bumi masih ada tidak ada satupun hukum taurat terhapus.

Kemudian mari kita perhatikan perkataan Paulus :

Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. (Roma 7 :6)

Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (efesus : 2 :15)

Paulus menganggap kematian Yesus sebagai akhir dari hukum Taurat.

Bukan hanya itu, dia bahkan beranggapan bahwa Taurat adalah sebab terjadinya dosa dan mereka yang mengharap kebenaran dari taurat telah lepas dari Kristus, Ia berkata :

Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5 :4)

Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup (Roma 7 : 9)

Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. (Roma 3 :20)

Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,(Roma 5 : 20)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ??

Keesaan Tuhan
Dalam perjanjian lama termaktub :

(60) supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain, (61) dan hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya seperti pada hari ini.” (Raja-raja 1 : 60-61)

Yesus menegaskan pernyataan tersebut, beliau bersabda :

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17 :3)

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa (Markus 12 : 28)

Tetapi apa yang dikatakan Paulus ?

Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. (1 korintus 1: 9)

Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan“, selain oleh Roh Kudus (1 korintus 12 :3)

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 korintus 8 : 6)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ?

Yesus hanya diutus bagi kaum Bani Isra`il (Yahudi)
Ajaran Yesus hanya diperuntukkan bagi Bani Isra`il.

Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24)

Dan perhatikan pesan yesus pada muridnya :

(5) Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, (6) melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Matius 10 : 5-6)

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. (Matius 19 : 28)

Lalu apa kata Paulus :

Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, (Roma 11 : 13)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ?

Mengenai hukum sunat
Dalam Hukum Taurat dijelaskan ancaman yang berat bagi yang tidak bersunat :

“ Dan orang yang tidak disunat , yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kejadian 17:14)

Bahkan Yesus pun disunat :

“Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebutkan oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2:21)

Lalu apa kata Paulus :

 (2) Sesungguhnya aku, Paulus, berkata kepadamu: Jikalau kamu men-yunatkan dirimu , Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (6) Sebab bagi orang-orang yang ada didalam kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai suatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (Galatia 5:2 dan 6)

Ingat perkataan Yesus di atas  :

Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ?

Mengenai makanan
Dalam perjanjian lama disebutkan :

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.( Imamat 11:7-8)

Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya. (Ulangan 14:8)

Lalu apa kata Paulus :

Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.( 1. Korintus 6:12)

 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang , melainkan yang keluar dari mulut yag menajiskan orang.” (Matius 15:11)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ?

Dosa Waris dan penebusan
Dalam perjanjian lama disebutkan :

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. (Yehezkial 18:20)

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberikan balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah lakunya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”( Yeremia 17 : 10)

Yesus juga berkata :

Karena Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya dengan disertai para malaikat-Nya. Pada saat itu Ia akan membalas masing-masing orang sesuai dengan amalnya  (Matius 16:27)

Lalu apa kata Paulus :

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang itu telah berbuat dosa.” (Roma 5 : 12).

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma karena penebusan dalam kristus Yesus.” (roma 23-24).

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3 :13)

Apakah sama ajaran yang diberikan Yesus dan Paulus ?

Masih banyak ajaran Paulus yang bertentangan dengan ajaran Yesus, maka tidak heran Jika Ia sering berselisih bahkan dengan para murid Yesus sekelas Simon (kefas), dan Barnabas :

 (11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (Galatia 2 : 11-13)

Perhatikan bagaimana Paulus dengan berani menyebut Barnabas (murid Yesus) sebagai seorang yang terseret dalam kemunafikan. Padahal Paulus lah yang lebih pantas untuk dikatakan seorang munafik, karena ia bangga menceritakan kemunafikannya :

 (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (1 korintis 9 : 20 – 22)

Dinamakan apakah perbuatan Paulus ini kalau bukan kemunafikkan. Ia juga tak malu mengaku bahwa ia berdusta untuk mengagungkan tuhannya :

Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Rom 3 : 7)

Jika kebenaran boleh disebarkan dengan kedustaan, dari mana kita dapat membedakan antara benar dan dusta dari mulutnya?

Referensi

 (1) Tafsir Ibnu Katsir, vol 6 hal 569 :

{ فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ } أي: قويناهما وشددنا أزرهما برسول ثالث.قال ابن جُرَيْج، عن وهب بن سليمان، عن شعيب الجبائي قال: كان اسم الرسولين الأولين شمعون ويوحنا، واسم الثالث بولص، والقرية أنطاكية.

(2) Tafsir Al Qurtubi, vol 18 hal 90

وقيل: نزلت هذه الآية في رسل عيسى عليه الصلاة والسلام قال ابن إسحاق: وكان الذي بعثهم عيسى من الحواريين والاتباع فطرس وبولس إلى رومية، واندراييس  مثى إلى الارض التي يأكل أهلها الناس وتوماس إلى أرض بابل من أرض المشرق. وفيلبس إلى قرطاجنة وهي أفريقية. ويحنس إلى دقسوس قرية أهل الكهف. ويعقوبس إلى أو ريشلم وهي بيت المقدس،. وابن تلما إلى العرابية وهي أرض الحجاز. وسيمن إلى أرض البربر. ويهودا وبردس إلى الاسكندرية وما حولها  فأيدهم الله بالحجة. ” فأصبحوا ظاهرين ” أي عالين، من قولك: ظهرت على الحائط أي علوت عليه. والله سبحانه وتعالى اعلم بالصواب، وإليه المرجع والمآب.

(3) Shahih Bukhari, hadits no 4215, vol 4 hal 1630)

 4215 – حدثنا محمد بن بشار حدثنا عثمان بن عمر أخبرنا علي بن المبارك عن يحيى بن أبي كثير عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه قال  : كان أهل الكتاب يقرؤون التوراة بالعبرانية ويفسرونها بالعربية لأهل الإسلام فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا { آمنا بالله وما أنزل إلينا } الآية )

(4) Tafsir Ibnu Katsir, vol 1 hal 33

وقال عند تفسير الآية: (46) من سورة العنكبوت-بعد أن رَوَى الحديث: “إذا حدثكم أهل الكتاب فلا تصدقوهم ولا تكذبوهم”-قال: “ثم ليُعلم أن أكثر ما يتحدثون به غالبه كذب وبهتان لأنه قد دخله تحريف وتبديل وتغيير وتأويل وما أقل الصدق فيه، ثم ما أقل فائدته”.

(5) Tafsir Ibnu Katsir, vol 6 hal 568, 569

يقول تعالى: واضرب -يا محمد-لقومك الذين كذبوك { مَثَلا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ {.قال ابن إسحاق -فيما بلغه عن ابن عباس، وكعب الأحبار، ووهب بن منبه-: إنها مدينة أنطاكية، وكان بها ملك يقال له: أنطيخس بن أنطيخس بن أنطيخس، وكان يعبد الأصنام، فبعث الله إليه ثلاثة من الرسل، وهم: صادق وصدوق وشلوم، فكذبهم. وهكذا رُوي عن بُرَيدة بن الحُصَيب، وعِكْرِمَة، وقتادة، والزهري: أنها أنطاكية. وقد استشكل بعض الأئمة كونَها أنطاكية، بما سنذكره بعد تمام القصة، إن شاء الله تعالى. وقوله: { إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا } أي: بادروهما بالتكذيب، { فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ } أي: قويناهما  وشددنا أزرهما برسول ثالث. قال ابن جُرَيْج، عن وهب بن سليمان، عن شعيب الجبائي قال: كان اسم الرسولين الأولين شمعون ويوحنا، واسم الثالث بولص، والقرية أنطاكية.

(6) Tafsir Al Baghowi, vol 7 hal 12

{ إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ } قال وهب: اسمهما يوحنا وبولس، { فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا } يعني: فقوينا، { بِثَالِثٍ } برسول ثالث، وهو شمعون

(7) Tafsir Fathul Qadir, Imam Syaukhani, vol 6 hal 155

. قيل : واسم الاثنين يوحنا ، وشمعون . وقيل : أسماء الثلاثة : صادق ، ومصدوق ، وشلوم قاله ابن جرير ، وغيره . وقيل : سمعان ، ويحيى ، وبولس

(8) Tafsir Khazin, vol 5 hal 235

قوله تعالى : { إذ أرسلنا إليهم اثنين فكذبوهما } قال وهب اسمهما يوحنا وبولس وقال كعب صادق وصدوق { فعززنا بثالث } يعني قوينا برسول ثالث وهو شمعون وقيل شلوم

(9) Tafsir Al Qurtubi, vol 15 hal 14-15

وكان بها فرعون يقال له أنطيخس بن أنطيخس يعبد الأصنام، ذكره المهدوي، وحكاه أبو جعفر النحاس عن كعب ووهب. فأرسل الله إليه ثلاثة: وهم صادق، وصدوق، وشلوم هو الثالث. هذا قول الطبري. وقال غيره: شمعون ويوحنا. وحكى النقاش: سمعان ويحيى ولم يذكرا صادقا ولا صدوقا. … الى قوله وقال وهب: حبسهما الملك وجلدهما مائة جلدة، فانتهى الخبر إلى عيسى فأرسل ثالثا. قيل: شمعون الصفا رأس الحواريين لنصرهما،

(10) Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqalani, vol 6 hal 467

قال بن إسحاق واسم الرسل الثلاثة صادق وصدوق وشلوم وقال بن جريج عن وهب بن سليمان عن شعيب الجبئي بالجيم والموحدة والهمز بلا مد كان اسم الرسولين شمعون ويوحنا واسم الثالث بولص وعن قتادة كانوا رسلا من قبل المسيح والله أعلم

(11) Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, vol 2 hal 119

وكان ممن آمن بالمسيح وصدقه من أهل دمشق رجل يقال له ضينا وكان مختفيا في مغارة داخل الباب الشرقي قريبا من الكنيسة المصلبة خوفا من بولس اليهودي وكان ظالما غاشما مبغضا للمسيح، ولما جاء به. وكان قد حلق رأس ابن أخيه حين آمن بالمسيح وطاف به في البلد. ثم رجمه حتى مات رحمه الله. ولما سمع بولص أن المسيح عليه السلام قد توجه نحو دمشق جهز بغاله وخرج ليقتله فتلقاه عند كوكبا، فلما واجه أصحاب المسيح، جاء إليه ملك فضرب وجهه  طرف جناحه فأعماه. فلما رأى ذلك وقع في نفسه تصديق المسيح، فجاء إليه واعتذر مما صنع وآمن به فقبل منه وسأله أن يمسح عينيه ليرد الله عليه بصره، فقال إذهب إلى ضينا عندك بدمشق في طرف السوق المستطيل من المشرق فهو يدعو لك، فجاء إليه فدعا فرد عليه بصره وحسن إيمان بولص بالمسيح عليه السلام أنه عبد الله ورسوله وبنيت له كنيسة باسمه فهي كنيسة بولص المشهورة بدمشق من زمن فتحها الصحابة رضي الله عنهم حتى خربت.

(12) Tafsir Qurthubi, vol 6 hal 24 – 25

وقد قيل: إن النصارى كانوا على دين الاسلام إحدى وثمانين سنة بعدما رفع عيسى، يصلون إلى القبلة، ويصومون شهر رمضان، حتى وقع فيما بينهم وبين اليهود حرب، وكان في اليهود رجل شجاع يقال له بولس، قتل جماعة من أصحاب عيسى فقال: إن كان الحق مع عيسى فقد كفرنا وجحدنا وإلى النار مصيرنا، ونحن  غبونون إن دخلوا الجنة ودخلنا النار، وإني أحتال فيهم فأضلهم فيدخلون النار، وكان له فرس يقال لها العقاب، فأظهر الندامة ووضع على رأسه التراب وقال للنصارى: أنا بولس عدوكم قد نوديت من السماء أن ليست لك توبة إلا أن تتنصر، فأدخلوه في الكنيسة بيتا فأقام فيه سنة لا يخرج ليلا ولا نهارا حتى تعلم الانجيل، فخرج وقال: نوديت من السماء أن الله قد قبل توبتك فصدقوه وأحبوه، ثم مضى إلى بيت المقدس واستخلف عليهم نسطورا وأعلمه أن عيسى بن مريم إله، ثم توجه إلى الروم وعلمهم اللاهوت والناسوت وقال: لم يكن عيسى بإنس فتأنس ولا بجسم فتجسم ولكنه ابن الله. وعلم رجلا يقال له يعقوب ذلك، ثم دعا رجلا يقال له الملك  فقال له، إن الاله لم يزل ولا يزال عيسى، فلما استمكن منهم دعا هؤلاء الثلاثة واحدا واحدا وقال له: أنت خالصتي ولقد رأيت المسيح في النوم ورضي عني، وقال لكل واحد منهم: إني غدا أذبح نفسي وأتقرب بها، فأدع الناس إلى نحلتك، ثم دخل المذبح فذبح نفسه، فلما كان يوم ثالثه دعا كل واحد منهم الناس إلى نحلته، فتبع كل واحد منهم طائفة، فاقتتلوا واختلفوا إلى يومنا هذا، فجميع النصارى من الفرق الثلاث، فهذا كان سبب شركهم فيما يقال، والله أعلم

Lihat juga Tafsir Al baghawi, vol 4 hal 37, Tafsir Ar Razi, vol 7 hal 499, Tafsir Khazin, vol 3 hal 253, Kayful bayan , At tsa`labi, vol 6 hal 123)

(13) Tafsir Al Khazin, vol 2 hal 215

قوله عز وجل : { يا أهل الكتاب } نزلت هذه الآية في النصارى وذلك أن الله تعالى لما أجاب عن شبه اليهود فيما تقدم من الآية اتبع ذلك بإبطال ما تعتقده النصارى وأصناف أربعة : اليعقوبية والملكانية والنسطورية والمرقوسية ، فأما اليعقوبية والملكانية فقالوا في عيسى أنه الله وقالت النسطورية إنه ابن الله وقالت المرقوسية ثالث ثلاثة وقيل : إنهم يقولون إن عيسى جوهر واحد ثلاثة أقانيم أقنوم الأب وبأقنوم الابن وأقنوم روح القدس وأنهم يريدون بأقنوم الأب الذات وأقنوم الابن عيسى . وبأقنوم روح القدس الحياة الحالة فيه فتقديره عندهم الإله ثلاثة ، وقيل إنهم يقولون في عيسى ناسوتية وألوهية فناسوتيته من قبل الأم وألوهيته من قبل الأب تعالى الله عما يقولون علواً كبيراً يقال إن الذين أظهر هذا للنصارى رجل من اليهود يقال له بولص تنصر ودس هذا في دين النصارى ليضلهم بذلك .

(14) Al Fashl fil Milal wal Ahwa` Wan Nihal, Ibnu Hazm, vol 1 hal 127

أن أحبارهم الذين أخذوا عنهم دينهم والتوراة وكتب الأنبياء عليهم السلام اتفقوا على أن رشوا بولس البنياميني لعنه الله وأمروه بإظهار دين عيسى عليه السلام وأن يضل أتباعهم ويدخلهم إلى القول بالإهيته وقالوا له نحن نتمحل إثمك في هذا ففعل وبلغ من ذلك حيث قد ظهر.

(15) Takhjil fi harfil injil, Abul baqo` sholeh bin Husain, vol 2 hal 579

و ما أعلم على النصارى أشأم من هذا الرجل (بولس) فإنه حلهم من الدين بلطيف خداعه ، فحلهم من سنة الختان إذ رأى عقولهم قابلة لكل ما يلقى إليها “

(16) Al Muntakhob Al jalil, Abul fadhl Al Maliki, hal 129

و قد سلبهم بولس هذا من الدين بلطيف خداعه إذ رأى عقولهم قابلة لكل ما يلقى إليها ، و قد طمس هذا الخبيث رسوم التوراة