Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

BELAJAR DARI KISAH GALILEO GALILEI


• Teori Galileo

Galileo Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah.

Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai pengamatan astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.

Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Hal ini berdasarkan ayat berikut :

Yosua
10:12 Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!"
10:13 Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.

Ayat diatas mengisahkan tentang matahari yang berhenti berputar dan hal itu mengakibatkan waktu di bumi terhenti dan setelahnya berjalan dengan lambat. Tentu ini membuktikan bahwa alkitab menganut paham Geosentris (mataharti mengelilingi bumi). Galileo dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Menurut Stephen Hawking, Galileo dapat dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Ia juga sering disebut-sebut sebagai "bapak astronomi modern", "bapak fisika modern", dan "bapak sains". Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma (Peristiwa Galileo) adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.

• Biografi

Prangko peringatan Tahun Astronomi Internasional - Galileo
Galileo Galilei dilahirkan di Pisa, Tuscany pada tanggal 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak masa kecil. Kemudian, ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu, ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronomi sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.

Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Pada tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung oleh Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengecam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun 1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.

Galileo menulis Saggiatore pada tahun 1622, yang kemudian diterbitkan pada 1623. Pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo sopra i due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Namun, pada tahun itu pula, Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena.

Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno à due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya.

• Astronomi

Prangko peringatan Tahun Astronomi Internasional - Teleskop Galileo (Galileoskop). Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi ia telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya, ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat di Belanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. Pada 25 Agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk keperluan pelayaran. Pengamatan astronominya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610, berjudul Sidereus Nuncius.

Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter -Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610. Empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede. Ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.

Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom Tionghoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu, Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada di permukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu "kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri", tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bulan adalah bola sempurna.

Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.

PERANG SAUDARA DALAM KRISTEN


Di masa lalu memang pernah terjadi pemberangusan besar-besaran terhadap semua pihak yang menentang Gereja Katolik. Bahkan tidak salah kiranya kalau disebutkan bahwa pada masa-masa itu memang terjadi hegemoni kekuasaan Gereja Katolik. Pada saat itu, lahirlah sebuah institusi buatan Gereja yang terkenal karena kejahatan dan kekejamannya, yang disebut sebagai “Inquisisi”. Karen Armstrong, mantan biarawati yang sekarang sukses sebagai penulis, menggambarkan Inquisisi sebagai berikut :

“Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi, yang merupakan instrumen teror dalam Gereja Katolik sampai dengan akhir abad ke-17. Metode Inquisisi ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.”

Sebagian tokoh Gereja (tentu saja) berusaha melakukan pembelaan yang apologetik dalam masalah ini. Namun menurut Peter de Rosa (dalam bukunya Vicars of Christ : The Dark Side of the Papacy), hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan (“it merely added hypocricy to wickedness”). Yang juga sangat mengherankan adalah bagaimana cara-cara penyiksaan dalam Inquisisi dihalalkan bahkan oleh mereka yang disebut sebagai ‘orang-orang suci’ atau rohaniwan.

Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol pada tahun 1808, salah satu kolonelnya yang bernama Lemanouski melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski mendobrak masuk, para agen Inquisisi tersebut tidak mengakui keberadaan ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Nyatanya, memang terdapat ruang-ruang semacam itu di bawah tanah. Tempat itu dipenuhi dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila. Tentara Perancis yang sudah biasa melihat kekejaman dan darah sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan itu. Ruang-ruang penyiksaan itu kemudian dikosongkan, kemudian biara tersebut diledakkan.

Robert Held, dalam bukunya yang berjudul “Inquisition” memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi pada masa-masa itu. Held memaparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksaan serta berbagai metodenya. Kekejaman tersebut bervariasi mulai dari pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, membelah tubuh manusia dengan gergaji, pemotongan lidah, menghancurkan kepala dengan sebuah alat khusus, mengebor kelamin wanita, dan sebagainya. Yang menarik lagi, sekitar 85 persen dari korban penyiksaan dan pembunuhan tersebut adalah perempuan. Antara tahun 1450 – 1800, diperkirakan sekitar 2 – 4 juta perempuan dibakar hidup-hidup di Eropa, baik di negara-negara Katolik maupun Protestan.

Pada saat itu, Gereja bertindak sebagai wakil Tuhan dan bisa mengatasnamakan Tuhan dalam segala tindakannya. Para pemimpin Gereja pun diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memberontak pada Paus dengan mempublikasikan 95 poin pernyataan, terutama menentang praktik penjualan ‘pengampunan dosa’. Pada tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik.

Pada masa itu, terjadi berbagai bentuk kekerasan atas nama agama. Pertarungan antara Katolik dan Protestan terjadi dimana-mana, misalnya di Perancis. Dunia mengenang kisah pembantaian kaum Protestan di Paris oleh kaum Katolik pada tahun 1572 yang dikenal sebagai “The St. Bartholomew’s Day Massacre”. Diperkirakan 10.000 orang mati, dan selama berminggu-minggu, jalan-jalan di Paris dipenuhi dengan mayat yang membusuk. Philip J. Adler dalam bukunya, “World Civilization” mengungkapkan kesaksian dari seorang yang selamat dari pembantaian pada hari naas tersebut :

“Tidak seorang pun dapat mengukur berbagai kekejaman yang terjadi dalam pembunuhan-pembunuhan ini… Sebagian besar mereka dimusnahkan dengan belati. Tubuh mereka ditikam, anggota tubuhnya dirusak, mereka dihina dengan cemoohan yang lebih tajam dari pedang… Mereka memukul sejumlah orang tua tanpa perasaan, membenturkan kepala mereka ke batu di dermaga dan kemudian melemparkan sosok setengah mati itu ke sungai. Seorang anak yang terbungkus pakaiannya diseret di jalan dengan tali yang dililitkan di lehernya oleh anak-anak berumur sekitar 9 atau 10 tahun. Seorang anak kecil lainnya, digendong oleh seorang penjagal, memain-mainkan jenggotnya dan tersenyum kepadanya, tetapi orang itu bukannya mengasihani si kecil, malahan kemudian menikamnya dengan belati dan kemudian melemparkannya ke sungai, yang menjadi merah karena darah dan tidak dapat kembali ke warna asalnya untuk waktu yang panjang.”

Akibat semua kekejaman ini, pada era berikutnya, yaitu pada abad ke-18, muncullah sebuah sikap anti-pemuka agama yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Ada sebuah ungkapan pada masa itu yang menyebutkan : “Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest whether you are in front or behind.”

Kita juga tentu masih ingat kisah tentang bagaimana Galileo harus sembunyi-sembunyi mempublikasikan teorinya yang mengatakan bahwa bumi mengitari matahari, bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan oleh Gereja. Akibatnya, Galileo sempat diancam dan dipaksa untuk meralat teorinya.

Beginilah latar belakang munculnya definisi dogma seperti yang telah dijelaskan di bagian awal sebelumnya. Bagaimana pun, inilah makna ‘dogma’ yang muncul dalam benak orang-orang Eropa. Bahkan ketika disebutkan kata “religion”, mereka lantas berpikir tentang kejumudan, fanatisme, dogma yang menghancurkan, pemaksaan keyakinan, dan sebagainya. Hal ini terjadi semata-mata karena sejarah hegemoni Kristen di dataran Eropa pada masa lalu.

Artikel terkait :

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Konflik_Irlandia_Utara
http://m.kompasiana.com/post/read/588618/1/perang-30-tahun-1618-1648-pelajaran-pahit-dari-eropa-tentang-konflik-sektarian-dan-kemiripannya-dengan-suriah.html
http://www.re-tawon.com/2015/03/perang-sipil-inggris-lahirnya-republik.html
http://m.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/katolik-vs-protestan-dan-varian-injil-2.htm
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Perang_Saudara_Spanyol

Demikian sekilas info yang dapat saya sampaikan, semoga umat kristiani menyadari sejarah kristen yang kelam tersebut. Kemudian mereka mau merenung, mengkritisi sejarah agamanya sendiri. Bukannya malah memamerkan mental-mental munafik dengan bersikap seolah-olah sodara seimannya tidak pernah melakukan perang sodara.

Rabu, 11 Maret 2015

UNITARIANISME


Unitarianisme adalah suatu ajaran yang menekankan ketunggalan Allah. Unitarian merupakan teologi mengenai Kristen yang menyatakan bahwa Allah adalah Esa (Monotheis) berbeda dengan doktrin Trinity yang menyatakan Allah sebagai tiga pribadi yang satu (Sinkretisme dari ajaran Politheis) dan bahwa Allah bukanlah Yesus. Sementara Yesus hanyalah seorang Nabi dan Hamba Allah. dalam pandangan Trinity, Unitarian adalah kelompok Protestan yang liberal yang mempercayai satu Tuhan dan menolak Trinitas.

Selain masalah Trinitas, Unitarianisme juga menolak doktrin tentang dosa asal dan Predestinasi. Dalam hal pengajaran dan ibadah, ajaran ini tidak menaikkan doa kepada Kristus. Penolakan ajaran ini terhadap Trinitas, maka Roh Kudus pun ditolak atau tidak diakui sama sekali. Yang menjadi penekanan juga pada ajaran Unitarianisme ini adalah kebebasan manusia dan kebaikan Allah. Kristologi yang dipegang oleh ajaran Unitarianisme bisa dibilang sebagi Monoteisme yang kuat. Ajaran ini mengakui adanya Allah, namun bagi Kristus tidak diakui sebagi Tuhan. Bagi pengikut Unitarianism, Yesus hanyalah orang besar, seorang nabi Allah atau bisa juga disebut sebagai orang yang ajaib karena mampu melakukan mujizat.

Unitarian mematuhi monotheisme begitu ketat, dan mempertahankan bahwa Yesus adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang memiliki berbagai macam mu'jizat serta dimuliakan oleh Allah. Namun mereka sangat menolak pandangan yang menyatakan Yesus adalah Allah itu sendiri dan Yesus adalah Tuhan sebagaimana pandangan Trinitarian.

Tidak ada otoritas khusus mengenai keyakinan kepercayaan Unitarian selain dari penolakan Trinitarian. keyakinan secara umum mereka antara lain:

• Satu Allah, Keesaan Tuhan.
• Kehidupan dan ajaran Yesus Kristus merupakan model contoh untuk hidup sendiri
• Pemikiran, rasional, ilmu pengetahuan dan filsafat hidup berdampingan dengan iman dalam Tuhan
• Manusia memiliki kemampuan untuk melaksanakan kehendak bebas dan bertanggung jawab konstruktif dan etis dalam ajaran agama.
• Sifat manusia bisa baik dan jahat, tidak ada yang bisa mengklaim pada roh Kudus atau kebenaran Teologis. meskipun para penulis alkitab telah diilhami oleh Allah, mereka adalah manusia dan karena itu memiliki kesalahan manusia.
• Menolak Doktrin Dosa waris (Prestinasi), hukuman kekal dan Penebusan dosa.

1. Sejarah Unitarianisme

Pada awal perkembangan kekristenan, ia terpecah menjadi dua kelompok besar, yaitu Unitarian dan Trinitarian. Ajaran Unitarianisme muncul pertama kali di Transylvania di sekitar gereja Lutheran. Ajaran Unitarianisme ini menolak persoalan Trinitas yang mengatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang menjadi satu. Ajaran Trinitas ini adalah ajaran tentang tabiat Kristus yang dianut oleh Luther maupun Calvin pada zaman reformasi.

Unitarianisme merupakan Teologi yang berkembang jauh sebelum reformasi Protestan, bahkan sebagian kalangan Unitarian merupakan ajaran murni Yesus yang sesungguhnya. Orang-orang Unitarian dalam menafsirkan Bible bersifat kesejarahan, tidak seperti pendekatan Ortodox yang dikenal sekarang ini. Unitarian tidak mencari makna kiasan yang tersembunyi (Alegoris) dalam teks Bible, tapi mereka menerima makna lahir dari sabda Yesus. Berbeda dengan Trinitarian yang demi memberikan pendukungan terhadap dogma mereka sering menyalahkan makna dan tafsiran sabda Yesus dengan berbagai opini dan asumsi. Unitarian juga bersifat kritis terhadap beberapa bagian dalam kitab sucinya yang dipandang lebih kuat dari yang lainnya. Mereka berpegang teguh pada keesaan Allah dan menolak dogma berbau Trinitas.

Unitarian sangat menghormati Yesus dan menjadikannya tokoh sejarah. Mereka menolak kata "Anak Allah" ketika menyebutnya dan hidup sebagaimana yang dicontohkan oleh Yesus dalam berbagai sabdanya. Sebagian tokoh terkemuka mereka adalah: Iranaeus (130-200 M), Tertulianus (160-220 M), Origenes (185-254 M), Diodarus, Lucianus (Wafat 312 M), Arius (250-336 M) dan lain-lain. Tokoh-tokoh Unitarian ini dianggap bidat-bidat sesat oleh umat Kristen hingga saat ini.

2. Konflik Unitarian Dan Trinitarian

Konflik antara Unitarian dan Trinitarian adalah konfrontasi doktriner besar pertama dalam Gereja setelah agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar Konstantin. Kontroversi tentang Trinitarian berlangsung dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian besar anggota gereja, orang-orang percaya yang sederhana dan para biarawan, serta para uskup dan kaisar. Sementara Trinitarian yang merupakan pengikut Arius memang selama beberapa dasawarsa mendominasi di kalangan keluarga Kaisar, kaum bangsawan Kekaisaran dan para rohaniwan yang lebih tinggi kedudukannya.

Dua kelompok besar ini, terutama dari kubu Trinitarian atau kekristenan Paulus, melahirkan puluhan bahkan ratusan aliran. Setiap aliran memiliki Injil versi golongan sendiri dan menyalahkan Injil versi golongan lainnya yang dimana jumlah Injil-Injil tersebut mencapai ratusan versi. Mereka saling menuduh bahwa aliran lain selain aliran mereka adalah bidat (sesat). Kaisar Konstantin yang masih mempertahankan Paganisme saat itu memberikan kebebasan bagi penganut Kristen yang saling berbeda pandangan dalam melaksanakan ajaran kekristenan versi mereka sendiri.

Tetapi, perbedaan-perbedaan ini menimbulkan kerawanan sosial politik dan bisa mengancam kekuasaan kekaisaran Romawi, sehingga Kaisar Konstantin mengambil keputusan mengundang kelompok Kristen yang bersilang pendapat tersebut untuk menyelenggarakan Konsili (Sinode) di Nicea tahun 325 M yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea 325 M dan juga disebut dengan nama Konsili Oikumonis I (Oikumene berarti seluruh dunia yang didiami bangsa manusia). Yang paling berpengaruh dan paling sengit dalam perselisihan di Konsili tersebut adalah golongan Unitarian dan Trinitarian.

Perdebatan sengit masalah ketuhanan terjadi antara kelompok Unitarian dan Trinitarian. Arius, tokoh dari kelompok Unitarian mengajukan argumen yang menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan.

"Ada rentang masa (waktu) sebelum Yesus ada, sedangkan Tuhan sudah ada sebelumnya. Yesus ada kemudian dan Yesus hanyalah makhluk biasa yang binasa seperti makhluk lainnya, sedangkan Tuhan tidak akan binasa"

Argumen Arius ini secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: Jika Yesus memang "anak Tuhan", maka akan segera disertai pengertian bahwa "Bapak Tuhan" haruslah ada terlebih dahulu sebelum adanya sang "Anak". Oleh sebab itu tentulah akan terdapat rentang waktu ketika "Anak" belum ada. Oleh karenanya, "Anak" adalah makhluk yang tersusun dari sebuah "esensi" atau makhluk yang tidak selalu ada. Karena Tuhan merupakan suatu zat yang bersifat mutlak (abadi, alpha dan omega), maka Yesus tidak mungkin bisa menjadi "esensi" yang sama sebagaimana "esensi" Tuhan.

Kesimpulan pendapat Arius, bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Tuhan yang selalu Ada dan tidak mempunyai asal usul, Dia Ada tanpa keberadaan sebelumnya. Argumen ini tidak terbantahkan oleh lawannya. Arius juga memakai dalil dari ayat Bible, Yohanes 14:8 "Bapa lebih besar daripada aku." Seandainya kita mengakui bahwa Yesus sama dengan Tuhan, maka kita harus menolak kebenaran ayat ini. Demikian argumen tegas Arius.

Konflik ini semakin menjadi memanas setelah Athanasius (293-373 M), salah seorang tokoh agama dan cendikiawan besar yang mendukung doktrin Trinitas turut dalam perselisihan tajam dengan Arius. Dalam Konsili tersebut, pengikut Arius menolak pandangan tentang penciptaan eternal (penciptaan yang bebas dari dimensi waktu), sementara Athanasius mempertahankannya. Pengikut Arius mengatakan bahwa anak diciptakan dari tidak ada, sementara Athanasius mengatakan bahwa anak diciptakan dari esensi Tuhan Bapak. Pengikut Arius berpendapat bahwa Tuhan anak tidak sama substansinya dengan Tuhan Bapa sementara Athanasius berpendapat sebaliknya.

Konsili tersebut tidak menghasilkan titik penyatuan pandangan dari kedua belah pihak yang berdebat. Karena jumlah peserta Konsili dari kelompok Trinitarian lebih banyak, dan pimpinan Konsili oleh Kaisar Romawi masih beragama ajaran pagan poltiheisme serta masyarakat Romawi masih banyak yang mempertahankan kepercayaan penyembahan terhadap berhala politheisme yang anti monotheis, maka Kaisa Konstantin memutuskan bahwa dogma yang dibawah Trinitarian adalah yang benar. Kaisar Konstantin pada awalnya menyelenggarakan Konsili hanya untuk mempertahankan kekuasaan kekaisaran Romawi, dan dia melihat Trinitarian lah yang paling berpengaruh dan mendominasi wilayah serta mudah menyatu dalam keyakinan paganisme Romawi saat itu, Kaisar sendiri masih memiliki kepercayaan Paganisme. Sehingga Trinitarian dimenangkan secara politik, demikianlah yang berkuasa yang menang, bukan yang menang yang berkuasa.

Setelah Konsili Nicea pada tahun 325 yang merupakan titik tolak pertentangan antara Unitarian dan Trinitarian, yang kemudian dimenangkan oleh Trinitarian, maka aliran Unitarian ini dianggap aliran sesat. Termasuk salah satu tokoh Unitarian Arius kemudian dihukum, dianggap sesat dan dikucilkan oleh gereja hingga dia wafat. Tokoh-tokoh Unitarian yang masih mempertahakan keyakinan monotheisnya ditangkap, disiksa, dan dibunuh karena dianggap golongan sesat dan penghianat Kristen.

3. Penindasan Terhadap Golongan Unitarian

Penindasan ke tingkat pembunuhan terhadap golongan Unitarian ini telah berlangsung jauh sebelum diadakannya Konsili Nicea 325 M, pasca Konsili maka penindasan Gereja terhadap mereka makin menjadi-jadi dan bahkan dilegatimasi oleh otoritas khusus. Berikut beberapa tokoh penganut Unitarianisme anti-Trinitas yang hidupnya harus berakhir secara mengenaskan.

A. Iranaeus (130-200 M), dia lahir disaat ajaran Kristen Antiokia sudah menyebar ke Afrika Utara, Spanyol hingga ke Prancis Selatan. Tidak banyak catatan sejarah mengenai asal-usul dan kedewasaannya, sejarah mulai mencatat masa dimana Iranaeus membawa surat petisi dari Uskup Lyons Pothinus kepada Paus Elutherus di Roma.

Petisi itu berupa permohonan Pothinus kepada Paus untuk menghentikan pengejaran, penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang tidak menyetujui doktrin gereja Pauline. Ketika masih berada di Roma, Iranaeus mendapat berita bahwa semua orang Kristen yang tidak sepaham dengan Paulus yang ada di Lyons Antiochia termasuk uskup Pothinus sendiri telah tewas dibunuh. Dan pada waktu kembali ke Lyons, Iranaeus menggantikan Ponthinus untuk menjabat sebagai uskup dinegrinya.

Ditahun 190 M, Iranaeus sendiri menulis surat kepada Paus Victor agar menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Kristen yang dibunuh karena keyakinan mereka yang berbeda dengan keyakinan gereja Paulus. Cerita lama kembali terulang, Iranaeus sendiri terbunuh pada tahun 200 M karena tidak bersedia mengikuti keyakinan Paus, Iranaeus hanya beriman dan mengakui kepada satu Tuhan, yaitu Allah, dan dia mendukung pengajaran kemanusiaan Yesus yang diangkat oleh Allah menjadi utusan-Nya.

Iranaeus banyak melakukan kritikan terhadap Paulus karena dianggapnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab didalam memasukkan doktrin-doktrin dari agama berhala dan filsafat Plato kedalam ajaran sejati Yesus.

B. Tertullian (160-220 M), dia adalah seorang penduduk asli Carthage (Kartago). Tertullian sebagaimana juga dengan Iranaeus, meyakini ke-Esaan Allah dan mengidentifikasikan Yesus sebagai juru selamat (Messiah) bangsa Yahudi. Dia menentang Paus Callistus karena mengajarkan "dosa asal" telah diampuni setelah melaksanakan penebusan dosa resmi dibawah gereja.

Tertullian menekankan tentang kesatuan jiwa dan eksistensi dan mengatakan bahwa orang-orang yang sehat akalnya pasti meyakini bahwa Yesus hanyalah manusia belaka. Paus Callistuslah yang memperkenalkan istilah "Trinitas" kedalam tulisan-tulisan "ecclesiastical" (gerejawi) Latin ketika ia membahas doktrin baru yang aneh tersebut. Istilah Trinitas sendiri sama sekali tidak pernah digunakan dalam kitab-kitab suci.

C. Origen (185-254 M), Ayahnya bernama Leonidas dan mendirikan pusat pendidikan teologi dengan mengangkat seorang guru Teologi terkemuka bernama Clement sebagai kepala lembaga tersebut. Origen sendiri mendapatkan pendidikan ditempat itu.

Leonidas adalah seorang pengikut Kristen Apostolik, yaitu ajaran monotheisme (ke-Esaan Tuhan) dan mengakui kehambaan dari Yesus. Sebagaimana kita tahu, gereja Paulus tidak mau menerima kepercayaan seperti yang dipegang oleh Leonidas ini, dan sebagai konsekwensinya pada tahun 208 M, Leonidas tewas dibunuh oleh orang-orang Paus.

Pada tahun 230 M, Origen dinobatkan sebagai seorang Pendeta di Palestina, namun karena Origen telah mengajarkan konsep Monotheisme didalam gereja, Uskup Demerius akhirnya memecat Origen dan mengusirnya dari gereja. Origen mengungsi ke Caesarea dan mendirikan pusat pendidikan Teologi ditempat itu pada tahun 231 M yang akhirnya membawa nama harum kepadanya.

Jerome, seorang penulis Injil pertama dalam bahasa Latin, pada mulanya merupakan orang yang sangat mendukung Origen, namun akhirnya Jerome berbalik kepada gereja Paulus dan menarik garis permusuhan terhadap Origen. Jerome berusaha agar Origen mendapatkan kecaman dan pengadilan dari gereja setempat, namun popularitas Origen terlampau besar dan tidak memungkinkan bagi Uskup John untuk melakukannya, sehingga atas rencananya ini mengakibatkan Jerome sendiri tersingkir dari kalangan gereja.

Namun pada tahun 250 M, Origen dikecam oleh Konsili Alexandria dan dijebloskan kedalam penjara serta mendapatkan penyiksaan yang terus menerus oleh pihak gereja Paulus sehingga mengakibatkan kematiannya pada tahun 254 M. Dimasa mudanya sampai menjelang akhir hayatnya, Origen tetap mempertahankan pengajaran ke-Esaan Tuhan (The Unity of God), meyakini bahwa hanya Allah saja yang berkuasa dan Yesus adalah manusia biasa dan hamba Allah, bukan Allah itu sendiri.

D. Lucianus (312 M), seorang yang dikenal keluasan ilmunya terhadap bahasa Ibrani dan Yunani. Lucian tidak menginduk terhadap salah satu gereja dari tahun 220 sampai 290 M. Pengajaran Lucian adalah Monotheisme, yaitu pengesaan Allah dalam segala bentuk-Nya.

Lucian percaya kepada penafsiran gramatikal dan literal (sesuai dengan bunyi lahir suatu kata) dari kitab-kitab suci (Bible). Dia menentang kecenderungan untuk mencari-cari makna symbolis dan kiasan dari teks-teks Injil, dan percaya kepada suatu pendekatan empiris dan kritis terhadap kitab-kitab tersebut. Dia mengatakan bahwa dengan mencari-cari makna symbolis tersebut, dapat berakibatkan dengan penambahan dan pengurangan pada Injil yang berarti hilangnya kemurnian ajaran Yesus.

Lucian menghilangkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kitab Injil yang diterjemahkan kedalam bahasa Yunani (Septuaginta), dia telah mengadakan revisi terhadap empat Injil yang menjadikannya berbeda dengan Injil-Injil yang dipergunakan oleh gereja Paulus. Lucian menolak paham trinitas dan sebaliknya begitu menekankan ajaran Tauhid, bahwa hanya Allah saja Tuhan alam semesta yang patut disembah, sedangkan Yesus hanyalah manusia biasa yang diangkat menjadi Utusan-Nya. Atas sikapnya ini, Lucian menjalani penyiksaan dari pihak gereja Paulus dan dihukum mati pada tahun 312 M.

Masih banyak para tokoh anti-Trinitas yang harus berakhir dengan mengenaskan ditangan Gereja. Pada tahun 395 M, Theodosius seorang konservatif Trinitarian mulai membentuk mahkamah penyelidik (Lembaga Inkuisi) yang bertugas menyelidiki golongan yang menolak Yesus sebagai Tuhan. Mahkamah ini kekuasaannya sangat besar dan luas. Siapa yang dianggap berbahaya bagi golongannya, ditindak dengan hukuman berat, divonis kafir, dihukum gantung, dibakar, dan dibunuh pelan-pelan dalam penyiksaan yang tidak dapat dibayangkan kejamnya.

4. Unitarianisme Dan Islam

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya mengenai pokok keyakinan Unitarianisme dimana sangat mendekati ajaran Yesus yang asli, maka tidak heran jika pokok ajaran Unitarian tersebut tidak jauh berbeda dengan keyakinan Islam mengingat Islam adalah penyempurna ajaran sebelumnya. Seperti memegang teguh Tauhid bahwa Allah Maha Esa dalam monotheisme yang kuat, menolak ketuhanan Yesus atau Nabi Isa, menolak dosa waris dan penebusan dosa, eratnya hubungan antara keimanan dan ilmu pemikiran serta logika, dan lain sebagainya.

Besarnya otoritas Gereja dalam menindas kaum Unitarian tidaklah menjadikan golongan Unitarian tersebut punah begitu saja, beberapa dari mereka memilih menjauh dan lari ke tempat aman untuk menghindar dari kekejaman Gereja. Golongan Unitarian terus berkembang dan dari mereka mulai muncul para cendikiawan yang terus mengenalkan keyakinan Unitarianisme mereka dengan perang pemikiran sehingga selama berabad-abad mereka tetap menjadi pendamping setia Kristen Trinitarian sebagai musuh abadi. Meskipun nasib para pemikir Unitarian dizaman pencerahan tersebut hampir sama dengan pendahulu mereka yang mati mengenaskan ditangan Gereja yang berkuasa.

Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu sebagai utusan Allah dan menyatakan diri sebagai Nabi yang meneruskan misi Nabi sebelumnya yaitu Nabi Musa dan Nabi Isa, banyak dari golongan Unitarian tersebut masuk Islam secara massal.

Muallaf Dr. Muhammad Yahya Waloni dalam bukunya "Kebenaran Islam Menurut Mantan Pendeta" mengatakan:
"Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan agama Islam, kelompok Unitarian ini mendengar dan simpati kepadanya, kemudian hampir semuanya memeluk agama Islam.

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Trinitarianisme, Paganisme, dan serupanya). Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)." (QS. Al-Maaidah' 5:82-83)

Kalimat berikut "Kami ini adalah orang-orang Nasrani" menunjukkan arti hubungan persahabatan antara umat Islam dengan orang-orang Nasrani yang berpegang pada ajaran Nabi Isa, yaitu ajaran Unitarianisme atau ajaran memegang teguh kekuasaan Allah, bukan Trinitas/Tritunggal sebagaimana akidah umat Kristen dewasa ini, karena Islam adalah agama yang berserah pada kehendak Allah dan beriman kepada satu-satunya Pencipta, yakni Allah Subhana Wa Ta'ala" (Kebenaran Islam Menurut Mantan Pendeta, Hal. 82 & 83)

Demikian beberapa pemaparan singkat mengenai sejarah perkembangan ajaran Unitarianisme, bahwa ternyata adanya ajaran yang lolos dari keracunan dogma Paulus dan dari terkontaminasinya dengan ajaran paganisme, ajaran berabada-abad yang memegang teguh Tauhid yang kuat dan memberikan kedudukan kepada Yesus atau Nabi Isa hanya sebagai hamba dan utusan Allah sebagaimana Yesus sendiri inginkan, ajaran yang menolak dogma yang tidak sejalan dengan pengajaran Yesus dan Taurat seperti dosa waris dan penebusan dosa, ajaran tandingan Gereja Paulus yang akhirnya menimbulkan konflik keyakinan mereka yang benar dengan keyakinan yang berlawanan sehingga memperlihatkan lagi keburaman sejarah Gereja, ajaran yang pokok keyakinannya sejalan dengan keyakinan Islam dan pada akhirnya mayoritas mereka melebur diri masuk Islam. Itulah Unitarianisme.

"... Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisaa' 4:171)

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)

SEKTE KRISTEN COLLYRIDIANISME


Pada kesempatan kali ini, kami akan mengkupas tentang sekte Kristen Collyridianisme yang dianggap sebagai sekte sesat oleh kebanyakan umat kristen. Santo Epifanius (juga ditulis Epiphanius) lahir sekitar tahun 315 dan wafat tahun 403. Santo Epifanius pernah dipertimbangkan sebagai salah satu bapa gereja yang hidup pada akhir abad ke empat. Ia adalah seorang pemuda Yahudi yang menjadi Kristen. Pemuda ini kemudian terpilih sebagai Uskup Salamis, di Siprus. Santo Epifanius terkenal sebagai seorang pembela ajaran iman Kristen yang benar dari serangan berbagai ajaran sesat. Dengan khotbah-khotbah dan tulisannya tentang berbagai ajaran iman, ia berhasil menegakkan ajaran iman Kristen yang benar. Ia meninggal dunia pada 12 Mei 403. Hari kematiannya ini kemudian diperingati sebagai hari perayaaan bagi dirinya, baik dalam gereja Katolik Roma, gereja Orthodox Timur dan gereja Ortodoks Oriental.

Santo Epifanius membuat tulisan melawan ajaran sesat Collyridianisme dalam buku apologetiknya yang terkenal, Panarion (artinya: Kotak Obat-obatan). Buku ini berisi sanggahan-sanggahan Santo Epifanius terhadap lebih dari 80 jenis ajaran sesat yang dia ketahui pada zamannya. Dalam buku ini, dia menyanggah dua ajaran sesat ekstrim dan saling bertolak-belakang mengenai Bunda Maria, yaitu Collyridianisme (yang menuhankan Bunda Maria) dan Antidicomarianitisme, sebuah sekte Arab yang merendahkan dan melecehkan status dan kebajikan Bunda Maria serta mengklaim bahwa Bunda Maria melakukan hubungan suami istri dengan Yosef sehingga Bunda Maria tidak dapat diyakini Yang Tetap Perawan Selamanya.

Hampir semua ajaran sesat yang menyerang pada abad-abad pertama Gereja Katolik berkaitan dengan Tritunggal atau Kristologi. Namun ajaran sesat Collyridianisme berbeda. Ajaran sesat ini berkaitan dengan Mariologi di mana sekte Collyridianis ini mengajarkan penyembahan dan penuhanan terhadap Bunda Maria.

Bidaah ini hadir pada sekitar tahun 350-450 di wilayah Arabia. Tidak diketahui siapa pendiri sekte ini dan sedikit sekali informasi yang bisa kita ketahui sekarang tentang sekte ini. Selain itu, tampaknya karena bidaah ini hadir pertama-tama di Arabia, maka orang-orang di sana kemudian menyangka bahwa Allah Tritunggal adalah Bapa, Yesus Kristus dan Bunda Maria. Sampai sekarang pun kita masih bisa mendengar sangkaan seperti ini.

Kesesatan Collyridian ini sederhana: Mereka menyembah Bunda Maria. Hal ini secara langsung bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik yang mengutuk penyembahan berhala yang juga telah dikutuk oleh Allah sendiri: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Kel 20:3; Ul 5:7) Devosi terhadap Bunda Maria dalam sekte ini kemudian dikembangkan sebagai Penyembahan (Idolatri/Pemberhalaan) terhadap Bunda Maria. Gereja Katolik memang mengajarkan penghormatan tinggi (hiperdulia) terhadap Bunda Maria yang diyakini Perawan Selamanya, Bunda Allah, Pengantara Segala Rahmat, dll. Tetapi sekte ini melewati batas seharusnya dalam penghormatan terhadap Bunda Maria sehingga mereka malah jatuh kepada penyembahan terhadap Bunda Maria.

Detail mengenai Collyridianisme ini sangat sedikit tetapi secara spesifik kita bisa mengetahui bahwa sekte ini mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Bunda Maria. Hal ini bertentangan dengan Gereja Katolik yang selalu mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Allah dan tidak kepada yang lain termasuk Bunda Maria. Illustrasinya demikian: Dalam Doa Syukur Agung I (Pertama) terdapat teks :

“Oleh karena itu ya Bapa, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.”

Namun, dalam sekte ini, doa ini digubah sedemikian rupa sehingga kira-kira menjadi demikian untuk menunjukkan kurban Ekaristi dipersembahkan kepada Bunda Maria,
“Oleh karena itu ya Bunda Maria, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.”

Para Bapa Gereja Katolik dengan segera mengetahui keberadaan ajaran sesat ini dan mereka menolaknya. Tokoh terkemuka penentang ajaran Collyridianisme ini adalah Bapa Gereja Epifanius (315-403), Uskup Salamis. Epifanius terkenal sebagai orang yang sangat terpelajar dan pertapa suci. Ia adalah teman dekat St. Hieronimus, seorang Bapa Gereja Barat yang terkenal yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin atas perintah Paus St. Damasus I. Namun, Epifanius ini adalah orang yang dikenal sangat bertemperamen tinggi dan keras sehingga tidak sedikit pula uskup lain yang kesal terhadapnya.

Epifanius membuat tulisan melawan ajaran sesat Collyridianisme dalam buku apologetiknya yang terkenal, Panarion (artinya Kotak Obat-obatan). Buku ini berisi sanggahan-sanggahan Epifanius terhadap lebih dari 80 jenis ajaran sesat yang dia ketahui pada zamannya. Dalam buku ini, dia menyanggah dua ajaran sesat ekstrim dan saling bertolak-belakang mengenai Bunda Maria, yaitu Collyridianisme (yang menuhankan Bunda Maria) dan Antidicomarianitisme, sebuah sekte Arab yang merendahkan dan melecehkan status dan kebajikan Bunda Maria serta mengklaim bahwa Bunda Maria melakukan hubungan suami istri dengan Yosef sehingga Bunda Maria tidak dapat diyakini Yang Tetap Perawan Selamanya. (bdk: Panarion 78:1)

Anggota sekte Collyridianisme adalah pertama-tama para wanita yang mengembangkan kombinasi sinkretistik antara Tradisi Katolik dengan tradisi pemujaan terhadap dewi-dewi pagan. Epifanius menulis :

“Beberapa wanita di Arabia telah memperkenalkan pengajaran yang tak masuk akal dari Thracia: [yaitu] bagaimana mereka mempersembahkan kurban roti dalam nama Maria yang Perawan Selamanya, dan semua [dari mereka] mengambil bagian dalam roti ini.” (Panarion 78:13).

Epifanius menekankan perbedaan antara Bunda Maria dan Allah :

“Sekarang tubuh Bunda Maria memang adalah suci, tetapi itu bukanlah Allah; Perawan [Maria] memang adalah seorang perawan dan dihormati, tetapi ia tidak diberikan bagi kita untuk disembah, melainkan ia sendiri menyembah Dia yang lahir dalam daging dari ia. ... Menghormati Maria, tetapi hendaklah Bapa, Putera dan Roh Kudus disembah, hendaklah tidak seorang pun menyembah Maria, ... sekalipun Maria adalah tercantik dan kudus dan terhormat, tetapi ia ada tidak untuk disembah.” (Panarion 79:1,4)

Bersama Epifanius, kita dapat berkata bahwa siapapun yang menyembah Maria atau ciptaan lainnya berarti telah melakukan penyembahan berhala dan harus ditegur. Kita sebaiknya melihat ke dalam Kitab Suci, pada kasus di mana malaikat menegur St. Yohanes karena tindakannya menyembah malaikat :

“Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! ... ”(Wahyu 19:10)

Tidak diragukan lagi bahwa Santa Perawan Maria sendiri akan berkata hal ini kepada siapapun yang berusaha menyembah dia.

Collyridianisme Modern

Collyridianisme dapat dilihat sekarang dalam berbagai bentuk. Kelompok “Hiper-Marian” dan para penulis yang terlalu meninggikan Bunda Maria dan sangat fokus terhadapnya sehingga tidak jarang mengecualikan Kristus dapat dikatakan bersalah atas usaha penyembahan berhala atau pemuliaan Maria melebihi Kristus. Di samping itu, muncul pula gerakan feminisme modern yang memuja seorang wanita sebagai yang ilahi dan berusaha menggambarkan kembali Allah dalam konteks dan istilah feminis seperti beberapa kelompok wanita Korea di Bandung yang menyebutkan “Allah itu ibu kita.” dsb.

Di samping itu, devosi yang berlebihan oleh umat Katolik dapat dianggap penyembahan berhala. Contoh sederhana ketika kita lebih memilih duduk berdoa Rosario di gua Maria ketimbang melaksanakan kewajiban kita mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Dapat pula devosi berlebihan ini ditunjukkan oleh gelar dan ucapan kita kepada Bunda Maria. Tidak jarang kita mendengar umat Katolik menyebutkan, “Bunda Maria, sumber segala rahmat, ampunilah dosa kami.” Padahal, Sumber Segala Rahmat itu adalah Allah sendiri sedangkan Bunda Maria hanya dapat digelari Pengantara Segala Rahmat karena mengandung Yesus, Putera Allah, Sumber Segala Rahmat itu sendiri. Juga, kita tidak bisa memohon ampun dosa kepada Bunda Maria karena Bunda Maria tidak punya hak untuk itu. Kita dapat meminta Bunda Maria mendoakan kita atau melindungi kita, tetapi meminta ampun dosa tidak dapat kita lakukan kepada Bunda Maria.

Gereja Katolik dalam usaha mencegah devosi berlebihan dan keliru ini, menetapkan agar semua buku doa dan buku devosi mendapatkan Nihil Obstat dan Imprimatur dari hierarki setempat sehingga ada jaminan aman untuk digunakan oleh umat Katolik dan umat Katolik dapat mengetahui gelar apa dan ucapan apa yang diperbolehkan untuk kita berikan terhadap Bunda Maria. Hal ini juga untuk menunjukkan kepada umat non-Kristen Katolik bahwa Gereja Katolik tidak menyembah Bunda Maria seperti yang dilakukan oleh Collyridianis. Juga, umat Katolik dapat berargumen membela ajaran Gereja bahwa Katolik tidak menyembah Bunda Maria dengan menunjukkan fakta bahwa Ekaristi, Puncak Kehidupan orang Katolik, hanya dapat dipersembahkan kepada Allah, tidak kepada Bunda Maria.

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)