Jumat, 23 Januari 2015

MENJAWAB MASALAH SHALAWAT NABI


Salah satu tuduhan populer kaum kafir terhadap Islam adalah tuduhan bahwa umat Muslim bershalawat kepada Nabi Muhammad menandakan Nabi Muhammad belum selamat. Tuduhan tersebut muncul akibat ketidakmengertian mereka mengenai arti shalawat itu sendiri. Sebelumnya kita ketahui terlebih dahulu arti dari shalawat. Shalawat artinya kemuliaan atau kesejahteraan, perintah shalawat tertulis jelas dalam Al-Qur'an firman Allah Subhana Wa Ta'ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab' 33:56)

Jika dilihat, shalawat itu memang hampir mirip seperti doa, tapi sesungguhnya tidak bermakna doa manusia pada umumnya. Bershalawat dari Allah berarti pemberian rahmat oleh Allah, malaikat bershalawat kepada Nabi maksudnya malaikat turut memohon ampunan kepada Allah, dan shalawat orang-orang beriman kepada Nabi bermakna ucapan salam dan penghormatan atas rahmat dan kesejahteraan yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Shalawat merupakan kewajiban bagi kaum Muslim sebagai bagian dari perintah dari Allah. Lantas apakah itu berarti Nabi Muhammad belum selamat?

★ Setiap Nabi Dijamin Masuk Surga

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah dijamin masuk surga, ayatnya secara eksplisit maupun implisit banyak tertera dalam Al-Qur'an.

مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ
"Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya." (QS. Al-Hajj' 22:15)

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu (Muhammad) terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," (QS. Al-Fath' 48:1-2)

Dosa Nabi Muhammad telah diampuni oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta beliau dipimpin ke jalan yang lurus. Itulah salah satu keistimewaan para nabi-nabi Allah yang semuanya sudah pasti mendapat jaminan surga. Semua utusan pilihan Allah sudah jelas akan diselamatkan diakhirat kelak beserta orang-orang yang beriman.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)," (QS. Al-Mu'min' 40:51)

Para Rasul Allah dipastikan selamat dunia dan akhirat, tapi jaminan itu tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap taat beribadah kepada Allah serta terus memohon ampunan kepada-Nya. Dan hal tersebut merupakan keistimewaan lain para Nabi dibanding manusia biasa. Walaupun jaminan surga sudah mereka dapatkan, tapi mereka tidak henti-hentinya bersyukur dengan ibadah yang lebih tekun.

Diriwanyaatkan dari Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Sungguh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam shalat malam hingga merekah kedua telapak kakinya. Aku bertanya kepada beliau, ”Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau menjawab, “Apa aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits diatas adalah contoh bagaimana Nabi Muhammad terus bersyukur walaupun kehidupannya sudah dijamin dunia dan akhirat. Tanpa perlu penjelasan panjang lagi kita sudah mengetahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alahi Wasallam telah dijamin keselamatan dan surga baginya. Sekarang pertanyaannya, mengapa kita masih harus bershalawat kepada Nabi Muhammad, bukankah dia sudah pasti masuk surga? Lantas apa fungsi shalawat itu?

★ Fungsi Shalawat Kepada Nabi

Tujuan Allah menyuruh manusia bershalawat kepada Nabi Muhammad ialah agar umat Islam seluruhnya menaruh rasa hormat kepada beliau. Sebab beliau adalah pilihan-Nya untuk menjadi Nabi terakhir dan penutup para Nabi, yang membebaskan manusia dari kehidupan jahiliyah. Atas perjuangan beliau, umat manusia bisa dihantarkan ke alam yang terang benderang. Beliaulah yang mengantarkan umat manusia dari kehidupan hewani menjadi kehidupan yang manusiawi. Jika tanpa beliau yang diutus atas izin Allah, maka tidak akan ada yang membendung kebejatan moral yang dilakukan umat manusia hari ini.

Oleh sebab itu sebagai orang yang tahu diri, umat manusia sangat wajib untuk mensyukuri jasa beliau. Untuk mengabadikan rasa syukur dan jasa Nabi Muhammad inilah maka shalawat serta salam dijadikan sebagai salah satu rukun dzikri, yaitu suatu bacaan rukun bagi umatnya setiap mengerjakan shalat.

Dapat dilihat masyarakat kita pun memiliki cara tersendiri untuk mengenang jasa orang yang menurut mereka pahlawan. Contohnya membuat patungnya, gambarnya, atau seperti para pahlawan Indonesia yang wajahnya diabadikan dalam uang kertas. Sedangkan Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengenang jasa Nabi terakhir Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang terpuji dengan mengucapkan shalawat kepadanya.

Seandainya Allah tidak memberikan contoh dan petunjuk tentang tata cara mensyukuri karunia-Nya yang telah diberikan melalui baginda Nabi, tentu akan terjadi bermacam-macam cara dalam mensyukuri nikmat tersebut. Misalnya dengan memberikan sesajian, tumbal, korban hewan, dan lain-lain menurut selera serta keinginan masing-masing sehingga akhirnya mengarah pada pengkhultusan dan kemusyrikan. Oleh karena Allah memberikan petunjuk Al-Qur'an dalam hal etika menghormati manusia pilihan-Nya, maka umat Islam mematuhi perintah tersebut agar tidak terjadi kekacauan dalam beribadah kepada-Nya.

Fungsi lain shalawat pun tertera dalam salah satu hadits yang disebutkan sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik radiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali saja, niscaya Allah akan memberikan sepuluh kesejahteraan kepadanya dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan diangkat baginya sepuluh derajat." (HR. Bukhari, Nasa'i, Ibnu Hibban & Hakim)

Atas dasar hadits tersebut, maka umat Islam dimanapun berada selalu membacakan shalawat kepada Rasulullah setiap waktu shalat maupun setiap kali mendengar namanya disebut. Sebab dengan membacakan satu kali shalawat kepada Rasulullah, maka balasannya adalah mendapat sepuluh kebaikan dan dihapuskan sepuluh keburukan. Siapa yang tidak mau mendapat pahala sebanyak itu? Tentu saja untuk mendapatkan pahala kemuliaan itu pribadi kita juga harus didukung nilai-nilai Islami.

Dengan demikian, keberadaan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah sungguh membawa berkah dan rahmat bagi umatnya. Sebab dengan bershalawat kepadanya satu kali saja, akan memperoleh pahala sepuluh kebaikan dan menghilangkan sepuluh keburukan. Sungguh beruntung menjadi pengikut beliau.

Jadi intinya shalawat kepada Nabi itupun kembali kepada diri kita sendiri. Lantas apakah hanya Nabi Muhammad yang mesti dishalawatkan?

★ Nabi Lain Juga Dishalawatkan

Al-Qur'an mencatat bahwa setiap Nabi yang diutus oleh Allah, juga diberikan karunia shalawat atas mereka. Begitupun dengan umat mereka juga bershalawat kepada Nabi yang diutus untuknya.
Shalawat untuk para Rasul Allah:
"Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam." (QS. Ash-Shaaffaat' 37:180-183)

• Shalawat untuk Nabi Ibrahim Alaihissalam:
"Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (QS. Ash-Shaaffaat' 37:108-109)

• Shalawat untuk Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Harun Alaihissalam:
"Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." (QS. Ash-Shaaffaat' 37:119-120)

• Shalawat untuk Nabi Nuh Alaihissalam:
"Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (QS. Ash-Shaaffaat' 37:78-79)

• Shalawat untuk Nabi Ilyas Alaihissalam:
"Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?" (QS. Ash-Shaffaat' 37:129-130)

• Shalawat untuk Nabi Yahya Alaihissalam:
"Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." (QS. Maryam' 13:12-15)

• Shalawat untuk Nabi Isa Alaihissalam:
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (QS. Maryam' 19:30-33)

Itulah ucapan shalawat untuk para Nabi dalam Al-Qur'an. Gelar "Alaihissalam" sendiri yang dimiliki oleh para Nabi juga merupakan shalawat yang berarti "semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya". Begitu juga dengan gelar Nabi Muhammad yaitu Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Intinya bershalawat kepada Nabi adalah perintah Allah, bukan atas inisiatif para Nabi, bukan karena semata-mata keinginan Nabi Muhammad, tapi perintah Allah kepada manusia beriman sebagai bentuk pernghormatan kepada para Nabi-Nya.

Ketauhilah, bershalawat atau tidaknya kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak akan menurunkan derajat beliau disisi Allah sebagai manusia termulia. Seandainya pun di dunia ini tidak ada yang bershalawat kepada beliau, tentu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan tetap menjadi manusia yang terdahulu masuk surga bersama umatnya di akhirat kelak.

★ Yesus Dalam Bible Dishalawatkan

Umat Kristen begitu bersemangat mempermasalahkan masalah shalawat Nabi ini karena mereka berpikir dalam Bible-nya tidak ada shalawat terhadap Nabi. Apakah mereka betul? Ternyata mereka salah! Sang Nabi dari Nazaret pun didoakan shalawat oleh para pengikut beliau pada zamannya.

Matius 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat aku lagi, hingga kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!
Lukas 13:35 Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat aku lagi hingga pada saat kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!
Lukas 19:38 Kata mereka: “DIBERKATILAH DIA yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!
Yohanes 12:13 Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Isa Al Masih sambil berseru-seru: “Hosana! DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!
Matius 21:9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

Ucapan pemberkatan dan doa Hosana tersebut tersebut diatas adalah untuk Yesus. Apakah arti "Hosana"? Doa atau pujian? Kita lihat Hosana dalam Perjanjian Lama.

Mazmur 118:25
אנא יהוה הושיעה נא אנא יהוה הצליחה נא
ānnā’ yəhwâ HWOSI‘AH NA’ ’ānnā’ yəhwâ haṣəlîḥâ nnā’
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!

Kita bisa mengerti bahwa dalam banyak referensi Hosana mengandung pengertian seruan doa :

"derived from Aramaic ( הושע נא ) from Hebrew הושיעה נא) ) (Psalm 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא ), meaning “help” or “save, I pray“, “an appeal that became a liturgical formula; as part of the Hallel… familiar to everyone in Israel." (The Bauer lexicon)
"Diambil dari bahasa aram ( הושע נא ) dan juga bahasa Ibrani ( הושיעה נא ) (Mazmur 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא ) yang berarti “Tolong” atau “Selamatkanlah, Ku berdoa”. Sebuah seruan yang menjadi tata cara ibadah; sebagai bagian dari Hallel. yang dikenal setiap orang di israel." (Kamus Kata Bauer)

"hosanna, indecl. particle translit. fr. the Heb.; strictly, a cry expressing an appeal for divine help “save! Help, we pray!”; in a liturgical usage, a shout of praise and worship “hosanna, we praise you” (Matthew 21:9)" (The Friberg Lexicon)
"Hosanna, diambil dari bahasa Ibrani yang berarti: seruan dengan sungguh sungguh & tegas untuk meminta pertolongan Tuhan. “Selamatkanlah! Tolonglah, kami memohon!”. Dalam tata ibadah, seruan untuk berdoa & memohon “HOSANA, Kami memberkatimu" (Matius 21:9)" (Kamus Kata Friberg)

"hosanna (in Aramaic), an exclamation of praise literally meaning, “Save, I pray”." (The UBS Lexicon)
"Hosanna (bahasa aram), sebuah seruan doa yang berarti: “Selamatkanlah, Kumohon”." (Kamus Kata USB)

"hosanna (an Aramaic expression meaning “help, I pray” or “save, I pray,” but which had become a strictly liturgical formula of praise)" (The Louw-Nida Lexicon)
"Hosanna (sebuah ekspresi dari orang aram yang berarti “Selamatkanlah, Ku doakan”, tapi menjadi susunan kata ibadah doa yang tegas)." (Kamus Kata Louw-Nida)

"A Hebrew exclamation of praise to the Lord, or an invocation of blessings" (http://www.artikata.com/arti-90566-hosanna.php)
"Hosanna in the highest,” the closing words of which no longer give any sense The same is the case with the words “Hosanna to the son of David” in Matt xxi. 9, “Hosanna in the highest” being a corruption of the original version." (http://www.jewishencyclopedia.com/view.jsp?artid=925&letter=H&searc h=hosanna)
"Hoshanot Today is Hoshana Rabbah, the seventh day of the festival of Sukkot which is also a minor holiday of its own. The name means “The Great Hoshana” or “The Great ‘Please Save Us’!”." (http://velveteenrabbi.blogs.com/blog/2010/09/hoshanot.html)

Menurut info dari Wikipedia, pengertian kata Hosana ada 2 pandangan:
1. Judaism: "Hoshana" ( הושענא ) is a Hebrew word meaning PLEASE SAVE OR SAVE NOW. In Jewish liturgy, the word is applied specifically to the Hoshana Service, a cycle of prayers from which a selection is sung each morning during Sukkot, the Feast of Booths or Tabernacles. The complete cycle is sung on the seventh day of the festival, which is called Hoshana Rabbah ( הושענא רבא , “Great Hosanna”).
2. Christianity "Hosanna" (Greek transcription: ὡσαννά, hōsanna) is the CRY OF PRAISE OR ADORATION shouted in recognition of the Messiahship of Jesus on his entry into Jerusalem, Hosanna! Blessed is the one who comes in the name of the Lord![3] It is used in the same way in Christian praise.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Hosanna)

Jadi Yahudi yang empunya kata Hosana mengartikannya sebagai permohonan alias doa sedangkan Kristen mengartikannya sebagai pujian atau sanjungan.

Sekarang kita lihat maknanya secara etimologi:
Etymology: Hosanna \Ho*san”na\ (h[-o]*z[a^]n”n[.a]), noun; plural Hosannas(-n[.a]z). [Greek, from Hebrew h[=o]sh[=i]‘[=a]h nn[=a]save now, save, we pray, h[=o]sh[=i]a’ to save (Hiphil, a causative form, of y[=a]sha’) + n[=a], a particle.]
(http://www.mechon-mamre.org/p/pt/pt26b8.htm)

Dari etimologi diatas jelas bahwa makna kata "Hosana" adalah memohon atau mengharapkan selamat atasnya, bukan memuji sang penyelamat.

Jadi berdasarkan info-info tersebut, Hosana memiliki makna sebagai permohonan dilimpahkan atau doa keselamatan atasnya. Cek juga pemakaian kata itu pada liturgy Jahudi, dan ternyata para patriarch Abraham, Isaac, Jacob, Moses, Aaron, Joseph dan David juga dihosanahi alias dimohonkan keselamatannya. (http://en.wikipedia.org/wiki/Hoshana_Rabbah)

Dalam penggalan ayat Bible yang telah ditampilkan sebelumnya, dapat dilihat doa sekaligus berkat juga dialamatkan untuk Yesus Kristus atau Nabiullah Isa Al-Masih dari para pengikutnya.

Anda dapat mendoakan orang lain dengan format yang serupa pemberkatan. Misal, "Diberkatilah kamu oleh Tuhan", "Allah memberkatimu", "Dilapangkanlah jalan-jalanmu", "Dimudahkanlah ujian hari ini", dan sebagainya. Dalam bahasa Arab, seringkali seorang muslim mendoakan saudaranya dengan kalimat "Barokallahu fiikum" yang berarti "Semoga ALLAH memberkahi anda" atau "Berkat ALLAH tercurah atas anda".

Yesus bukan hanya mendoakan para pengikutnya, bahkan Nasrani generasi pertama pun juga mendoakan shalawat dan berkat untuk beliau. Sekali lagi, doa shalawat dan salam adalah kebiasaan setiap pengikut para Nabi dari dulu untuk Nabi mereka. Dan Islam pun terus melestarikan hal ini. Semoga ini dapat menjawab keraguan anda terhadap Islam.

Allahumma Shalli 'alaa Muhammad, Wa'alaa aali Muhammad. kama Shallaita' alaa Ibrahima Wa'alaa aali Ibrahima Wabarikh 'alaa Muhammad Wa'alaa aali Muhammad, Kama Barakhta 'alaa Ibrahima wa'ala aali Ibrahima, fil' aalamiinaa' Innaka hamidun majiid.

Semoga artikel ini cukup bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.. :)

Kamis, 22 Januari 2015

ATURAN BERPERANG DALAM AL-QUR'AN DAN ALKITAB



Ayat-ayat Perang didalam Al-Qur’an sering dijadikan alat pembenaran oleh para Misionaris dan Para penghujat untuk Menghujat islam, Allah Swt dan nabi Muhammad Saw, dan ejekan mereka terhadap Muslim maupun Muslimah. Bahkan diantara mereka memberikan label terhadap ayat-ayat tersebut dengan label AYAT-AYAT SADIS didalam Al Qur’an.

Untuk menjawab hujatan tersebut maka cara paling efektif ialah dengan pendekatan yang mengutamakan Obyektifitas, memperhatikan Konteks ayat tersebut dan juga perbandingan dengan Ayat-ayat yang terdapat pada Kitab suci mereka, serta melakukan perbandingan dengan melihat fakta-fakta sejarah. Dan berikut ini adalah ayat-ayat didalam Al-Qur'an yg menjadi ayat faforit para penghujat Islam.

1. "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. 8:39)

Untuk memahami ayat diatas sebaiknya kita baca ayat sebelum dan sesudahnya sehingga tahu konteks perintah tersebut.

"Dan , ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (QS. 8:30)

Jika kita sudah membaca ayat ke 30 diatas maka kita sudah bisa mengetahui bahwa motif perintah untuk berperang tersebut ialah untuk membela diri dari perlakuan orang-orang kafir yg berusaha untuk menangkap, memenjarakan, mengusir dan membunuh orang-orang yg beriman kepada Allah dengan tipu daya mereka.

2. "Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. 9:5)

Untuk memahami ayat ini maka mari kita gali konteks ayatnya agar kita dapat memahami motif perintahnya.

"kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS. 9:4)

Dari ayat ke 4 diatas kita bisa memahami bahwa motif perintah tersebut ialah untuk berperang setelah jangka waktu perjanjian damai yg telah ditentukan sebelumnya. Yaitu pada bulan-bulan haram, 4 bulan perjanjian damai dengan orang-orang musyrikin. Dan setelah perjanjian damai tersebut sudah habis dan kaum musyrikin tidak pula berhenti memusuhi orang muslim. Maka Allah memerintahkan untuk membunuh mereka yg telah melakukan perjanjian sebelumnya.

"Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (QS. 9:6)

Lanjut ke ayat ke 6, dari sini kita bisa melihat bagaimana keindahan Islam dalam mengatur peperangan. Orang-orang musyrikin yg tidak bersalah atau ikut campur dalam peperangan, lalu mereka meminta perlindungan kepada orang-orang muslim, maka Allah memerintahkan umat Islam yg berperang untuk mengantarkannya ke tempat yg aman agar mereka terhindar dari bahaya. Coba bayangkan, Allah bukan hanya memerintahkan untuk melepaskan mereka, tetapi juga mengantarkan mereka ke tempat yg aman. Dan aturan seperti ini tidak saya dapati di kitab agama lain.

3. "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir." (QS. 2:191)

Sekarang mari kita perhatikan juga ayat sebelum dan sesudahnya untuk memahmi ayat diatas.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. 2:190)

Dalam ayat ke 190 ini kita bisa mengetahui bagaimana konteks ayatnya dan apa motif perintahnya. Yaitu untuk memerangi orang-orang kafir yg memerangi umat Islam. Akan tetapi biarpun demikian Allah melarang umatNya untuk melampaui batas. Jadi umat Islam tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan dan para lansia yg tidak ikut serta dalam peperangan atau tidak pula memerangi umat Islam. Dan umat Islam juga dilarang membakar rumah, kebun, dan barang-barang orang kafir dsb. Inilah tuntunan perang yg diajarkan Allah terhadap kami umat Islam.

4. "Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. 9:123)

Mari kita mencari konteks ayatnya agar kita bisa memahami motif perintahnya.

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. 9:122)

Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa ayat-ayat diatas masih berbicara mengenai memerangi orang-orang kafir. Taktik perang yang ditunjukkan Allah SWT dalam ayat ini kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin lebih dahulu memerangi musuh-musuh Islam yang berada pada garis lingkaran yang terdekat dengan pusat kedudukan umat Islam. Kemudian dilanjutkan kepada lingkaran yang lebih jauh. Hal ini didasarkan kepada prinsip, bahwa peperangan yang dilakukan umat Islam hanyalah untuk mengamankan jalannya dakwah Islam dan untuk melindungi keselamatan umat Islam.

5. "Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka." (QS. 47:4)

Ayat ini sering disajikan oleh umat kristen secara sepotong seperti ini, agar terkesan sadis dengan mengaburkan konteks dan motifnya. Sekarang mari kita baca ayat lengkapnya dibawah ini.

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." (QS. 47:4)

Dengan membaca ayat lengkapnya seperti ini maka kita bisa memahami bahwa ayat tersebut diberlakukan pada saat peperangan berlangsung. Dan Allah juga memerintahkan umat Islam untuk melepaskan tawanan perang jika peperangan sudah berhenti dan umat Islam sudah mengalahkan musuh-musuhnya. Jadi tidak harus dibunuh semua atau memenjarakan mereka tanpa memberi kemerdekaan bagi mereka. Kembali ke perintah Allah sebelumnya untuk tidak melampaui batas tadi.

=====

So! Intinya agama Islam tidak pernah mengajarkan untuk memerangi orang yg tak bersalah atau yg memusuhi umat Islam. Walau ada beberapa ayat perang didalam Al-Qur'an maupun Hadits-Hadits sahih yg tidak didukung dengan konteks, tapi kita bisa menafsirkannya secara tepat dan benar dengan merujuk pada Asbabun Nuzulnya dan juga ayat-ayat yg lain. Karna baik Al-Qur'an maupun Hadits-hadits sahih itu adalah satu kesatuan yg saling berkaitan satu sama lain. Lagipula frase "Perang" itu kan tidak selalu mengkonotasikan peperangan fisik, contohnya memerangi kemiskinan, memerangi kebodohan dsb. Berhujjah dan berdakwah dijalan Allah itu juga salah satu contoh dalam memerangi kekafiran.

Orang-orang kafir sering kali menghujat bahwa umat Islam teroris, darah orang kafir halal untuk dibunuh oleh umat Islam dsb. Kita lihat dulu jenis kafir yg seperti apa yg halal untuk dibunuh, karna dalam pandangan Islam, orang kafir itu ada beberapa jenisnya, diantaranya adalah sebagai berikut.

A. Golongan kafir Dzimmi :
Yaitu golongan kafir yang hidup berdampingan dengan muslim golongan kafir Dzimmi nggak boleh diperangi.

Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa yang mengganggu seorang kafir Dzimmi maka aku yang menjadi lawannya nanti pada hari kiamat!". [HR. Al Khathib dalam At Tarikh dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu
dengan sanad shahih]

B. Golongan kafir Mu'aahad :
Yaitu golongan kafir yang tidak memerangi islam golongan kafir Mu'aahad tidak boleh diperangi.

Rasulullah SAW bersabda :
"Barangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu'aahad maka dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (padahal) sesungguhnya aroma wangi al Jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun." [HR. Al Bukhari]

C. Golongan kafir Musta'min :
Yaitu golongan kafir yang dilindungi golongan kafir Musta'min tidak boleh diperangi.

Allah berfirman :
"Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya" [QS. At Taubah :6]

D. Golongan kafir Harbi :
Yaitu golongan yang memerangi Islam, dan golongan kafir yang seperti ini harus diperangi.

Allah berfirman :
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al Baqarah :190]

Jadi sudah sangat jelas bukan, bahwa agama Islam itu adalah agama yg damai, tidak akan mengusik jika tidak diusik.

=====

Bahkan Allah juga sudah menerangkan apabila ada seseorang yg membunuh seorang manusia yg tak bersalah, maka seakan-akan ia sama halnya telah membunuh manusia seluruhnya.

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi." (QS. 5:32)

Bahkan Allah mengajarkan umatNya untuk berlaku adil terhadap seluruh manusia, walaupun mereka kafir.

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. 5:8)

Tapi biarpun seluruh bukti sudah diberikan, masih ada saja umat kristen yg dengan bodohnya menilai agama dari para penganutnya, bukan dari ajarannya. Mereka bilang kalau umat Islam melakukan Bom bunuh diri, membakar Gereja dsb dengan teriakan "Allahu Akbar"

Saya sampai tidak habis pikir, coba bayangkan apa hubungannya tindakan sesat mereka yg mengatasnakaman agama dan Tuhannya, dengan agama Islam?

Analoginya begini :

A. Presiden Indonesia melarang penduduknya untuk menjadi teroris
B. Penduduk Indonesia melakukan tindakan terorisme dengan teriakan "Presiden yg agung"
C. Maka Kesimpulannya, baik Presiden maupun negara Indonesia tersebut adalah teroris.

Apakah kesimpulan seperti ini cukup logis? Ya penilaian ini cukup logis bagi umat yg memang otaknya sudah tidak waras lagi. Begitulah cara orang-orang bebal berkesimpulan dalam menghujat agama Islam.

Untuk menyikapi hal ini, Allah telah menjelaskan dalam firmannya berikut ini.

"Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS. 18:5)

Ya mereka memang adalah orang-orang yg tidak berpengetahuan, punya akal tapi tidak digunakan, karna kedengkian mereka terhadap Islam, sampai-sampai membuat mereka buta akal sehatnya. Dan perumpamaan bagi mereka adalah seperti halnya anjing.

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derjat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS. 7:176)

Demikianlah klarifikasi kami dari tuduhan-tuduhan umat kristen terhadap Islam, semoga jawaban kami ini bisa menambah ilmu pengetahuan anda terhadap Islam dan membuka nalar anda sekalian.

============================================

Nah! Setelah kami sibuk mengklarifikasi beberapa hujatan kalian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an diatas, maka sekarang giliran kalian untuk mengklarifikasi ayat-ayat berikut ini. Inilah ajaran kristen yg sesungguhnya diajarkan oleh tuhanmu selama ini.

1. BUNUHLAH SAHABAT DAN KELUARGAMU YG MEMBUJUKMU UNTUK MURTAD

Ulangan
13:6 Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu,
13:7 salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi,
13:8 maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya,
13:9 tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat.
13:10 Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.

2. BUNUHLAH, RAMPOKLAH DAN PERBUDAKLAH PENGIKUT AGAMA LAIN

Ulangan
20:10 Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya.
20:11 Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu.
20:12 Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya;
20:13 dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang.
20:14 Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan.
20:15 Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini.
20:16 Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas,

3. BUNUHLAH SELURUH PENDUDUK BANGSA SAAT MELAKUKAN BALAS DENDAM TERMASUK BALITA

1 Samuel
15:1 Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.
15:2 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
15:3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun

Yehezkiel
9:4 Firman TUHAN kepadanya: "Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana."
9:5 Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: "Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan.
9:6 Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!" Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci.
9:7 Kemudian firman-Nya kepada mereka: "Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!" Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.
9:8 Sedang mereka memukuli orang-orang sampai mati--waktu itu aku tinggal di belakang--aku sujud dan berseru, kataku: "Aduh, Tuhan ALLAH, apakah Engkau memusnahkan seluruh sisa Israel di dalam mencurahkan amarah-Mu atas Yerusalem?"
9:9 Jawab-Nya kepadaku: "Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat banyak, sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh ketidakadilan; sebab mereka berkata: TUHAN sudah meninggalkan tanah ini dan TUHAN tidak melihatnya.

4. SAAT KAU BERPERANG AMBILLAH BAGIMU PEREMPUAN YG MASIH PERAWAN TAPI BUNUHLAH PEREMPUAN YG SUDAH TIDAK PERAWAN LAGI

Bilangan
31:17 Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.
31:18 Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu.

5. BUNUHLAH ORANG YG TIDAK MENDENGARKAN PERKATAAN IMAM

Ulangan 17:12 Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.

Dan masih banyak lagi perintah-perintah tuhan yg biadap didalam alkitab, konteks ayat sudah saya berikan, motif perintah juga sudah saya sematkan, lalu mau alasan apa lagi?

=====

Toh pada kenyataannya yesus juga tidak meniadakan hukum-hukum sebelumnya walau satu titikpun sebelum hari kiamat.

Matius
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Jadi saat umat kristen menghadapi konteks yg serupa pada ayat-ayat alkitab diatas, maka umat kristen masih berkewajiban untuk menjalankan perintah membunuh tersebut. Karna hukum sebelumnya itu berlaku sampai akhir jaman.

Yesus juga mengakui bahwa ia datang bukan untuk membawa kedamaian, melainkan pedang dan pertentangan.

Matius
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Lukas 12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Yesus mengatakan pohon yg baik menghasilkan buah yg baik pula.

Matius 12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.

Lukas 6:43 Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Dan berikut ini adalah beberapa data sejarah dari hasil buah pohon yg buruk, sebagai perbandingan bagi orang-orang yg menilai agama dari oknumnya. Korban jiwa jang jatuh karena keterlibatan orang yang mengaku beragama Kristen. Ajaran yang diclaim "kasih"

Crusades (1095-1291) 1.000.000
Albigensian Crusade (1208-49) 1.000.000
During the Saracen slaughters in Spain 7.000.000
Saxons and Scandinavians lost their lives opposing the introduction of Christianity 2.000.000
Holy Wars against the Netherlands, Albigenses, Waldenses, and Huguenots 1.000.000
Spanish Inquisition (1478-1834) 350.000
French Wars of Religion 16th century 3.000.000
Thirty Years War 17th century 7.000.000

Total 22 000 000 selama 6 abad, siapakah pelakunya?

Penjajahan & Perang Abad 18 - 19

Congo Free State (1886-1908): 8.000.000
Annihilation of the American Indian 20.000.000
(untuk genocide American Indian diatas angkanya lebih banyak dari itu, sedang saya pelajari)
Philippines Insurgency (1899-1902): 220.000
Brazil (1900 et seq.): 500.000
Amazonia (1900-12): 250.000
Portuguese Colonies (1900-25): 325.000
French Colonies (1900-40) >200,000
Abyssinian Conquest (1935-41): 400.000
Algeria (1954-62): 537 000
British India 19th century 17.000.000 dll.

Total kira kira 45.000.000 jiwa selama 2 abad, siapakah pelakunya?

Abad 20

First World War (1914-1): 15.000.000
Second World War (1937-45): 55.000.000
That's 35,000,000 deaths which can probably be blamed on Hitler to one extent or another.
Mexican Revolution (1910-20): 1.000.000
Spanish Civil War (1936-39) and Franco Regime (1939-75): 365.000 + 100.000
Korean War (1950-53): 2.800.000
First Indochina War (1945-54): 400.000
Second Indochina War (1960-75): 3.500.000
Ethiopia (1962-92): 1.400.000
Rwanda and Burundi (1959-95): 1.350.000
Liberia (1989-97): 150.000
Zaire (Dem. Rep. Congo), Civil War (1997): 250.000
Bosnia and Herzegovina (1992-95): 175.000
Iraq - International embargo (1990-): 350.000
Guatemala (1960-1996): 200.000
Colombia (1946-5): 200.000
Greek Civil War (1943-49): 158.000
Balkan Wars (1912-13): 140.000. dll.

Total kira kira 70.000.000 juta jiwa selama 1 abad , melonjak drastic siapa lagi pelakunya? Jadi selama adanya Christianity hingga tahun ini sudah 140.000.000 juta jiwa melayang.

Bagaimana nantinya di abad 21? Apakah itu yang disebut buah ajaran kasih? Coba direnungkan berapa banyak korban jiwa dari keganasan umat Kristen 20 abad 140 juta jiwa & 14 abad 15 juta jiwa.

Kesimpulan :
Kalau saja mereka memperhatikan data-data ini, apakah mereka masih tetap menghujat Islam sebagai agama teroris dari tindakan para oknum-oknumnya? Kalau tetap bersikap demikian, maka sesungguhnya mereka hanya memamerkan MENTAL-MENTAL MUNAFIK sebagaimana kriteria yang Yesus sampaikan di kitab kanonik, mereka mempersoalkan selumbar di mata orang lain tetapi Balok di mata mereka sendiri tidak kelihatan.

Matius
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Demikianlah apa yg dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini cukup bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin.. :)

Selasa, 20 Januari 2015

PROSES PENCIPTAAN ALAM SEMESTA MENURUT AL-QUR'AN



Membahas mengenai asal muasal alam semesta selalu dapat menjadi topik yang menarik karena disinilah kesesuaian antara agama dan ilmu pengetahuan di uji. Agama mungkin menyatakan, akan tetapi ilmu pengetahuan yang akan membuktikan. Setiap kitab suci mungkin menceritakan mengenai bagaimana penciptaan alam semesta, karena dari penciptaan alam semesta itulah semua yang berada di alam “fana” ini bermula, baik dimensi ruang maupun waktu.

Ilmu pengetahuan saat ini sendiri belum dapat sepenuhnya mengungkapkan seluruh proses penciptaan alam semesta dengan bukti-bukti ilmiah, akan tetapi sudah banyak data mengenai alam semesta ini yang diyakini kebenarannya disertai dengan bukti-bukti secara ilmiah, seperti awal keberadaan alam semesta yang berasal dari ledakan besar (big bang), kemudian umur bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang pun telah dapat ditentukan dengan ilmu pengetahuan saat ini.

Al-Qur’an, dalam hal ini, memuat banyak ayat mengenai penciptaan langit dan bumi. Disini Al-Qur’an, sebagaimana pula kitab suci lainnya yang diklaimkan berasal dari Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha Tahu, harus mau “mempertaruhkan” dan mempertanggung-jawabkan kebenarannya mengenai penciptaan alam semesta dengan cara membandingkannya menggunakan data-data ilmu pengetahuan saat ini.

Enam hari, delapan hari atau 13.5 milyar tahun ?

Salah satu perbedaan besar antara data ilmu pengetahuan dengan kitab-kitab agama adalah masalah waktu penciptaan. Di mana data ilmu pengetahuan menunjukkan alam semesta tercipta 13,5 milyar tahun yang lalu dan bumi tercipta 4,5 milyar tahun yang lalu, kitab-kitab agama merujuk penciptaan alam semesta dalam hitungan hari, termasuk pula dalam hal ini Al-Qur’an.

Al-Qur’an menggunakan kata “ayyam” dalam menerangkan penciptaan langit dan bumi. “sittati ayyam” berarti enam hari, digunakan dalam 7 ayat Al-Qur’an berikut :

[7:54] Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy …

[10:3] Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan…

[11:7] Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa)…

[25:59] Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari (masa), kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy …

[32:4] Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari (masa), kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy …

[50:38] Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari (masa), dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan…

[57:4] Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy …

Ketika dihadapkan dengan fakta-fakta yang ada, 6 hari dibandingkan milyaran tahun, maka apakah Al-Qur’an dalam hal ini salah ? “Imani saja, wahyu selalu lebih benar daripada ilmu. Belum tentu ilmu pengetahuan benar” mungkin bisa dijadikan alasan bagi sebagian orang yang mengedepankan wahyu. “Al-Quran memang tidak ditujukan sebagai kitab ilmu pengetahuan, tetapi sebagai kitab petunjuk hidup“, adalah jawaban lain yang sering kita dengar. Ya, memang benar ilmu pengetahuan belum mengungkapkan keseluruhan proses penciptaan, tapi sudah dapat mengungkapkan umur alam semesta dan umur bumi, matahari dan bulan, yang tentu saja berselisih tidak dalam hitungan hari. Jadi, apakah Al-Qur’an dalam ini salah ?

Untungnya, Al-Qur’an memberikan petunjuk, mengindikasikan bahwa “ayyam” (jamak) atau “yaum” (tunggal) apabila disebutkan dalam Al-Qur’an tidak harus berarti 24 jam.

[70:4] Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun

[32:5] Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Dalam hal ini Al-Qur’an menyatakan, dalam kaitannya dengan “langit dan bumi” (baca : alam semesta), satu hari bisa berarti berapapun menurut perhitungan kita. Oleh sebab itu, “ayyam” pada “sittati ayyam” dapat di terjemahkan sebagai “enam periode” atau “enam masa”, wallahu a’lam.

Salah satu penjelasan yang ditawarkan mengenai berapakah lama sebenarnya satu hari penciptaan menurut Al-Qur’an telah diuraikan di dalam postingan “UMUR BUMI MENURUT AL-QUR'AN DAN ALKITAB"

Mengapa Al-Qur’an tidak langsung mengatakan “langit dan bumi di ciptakan dalam enam hari, yang sehari kadarnya sama dengan dua milyar tahun menurut perhitunganmu”, misalnya ?

Pertama, penulis sendiri tidak yakin kata “milyar” sudah dikenal pada jaman Nabi Muhammad dimana Al-Qur’an diturunkan.

Kedua, Allah membiarkan manusia yang menemukan sendiri satu hari yang disebutkan itu kadarnya berapa tahun, sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Adapun lamanya tiap masa dalam enam masa tersebut, bisa saja tidak sama satu sama lain, dimana tiap masa dibandingkan dengan masa yang lain lamanya menurut perhitungan manusia di bumi dapat berbeda-beda, ataupun dapat pula sama akan tetapi relatif dari mana pengamatan “masa” atau “waktu” tersebut dilakukan, wallahu a’lam. Yang pasti, “masa” atau “hari” disini tidak berarti 24 jam waktu bumi.

Masalah lain timbul dan menjadi pertanyaan ketika seseorang membaca surah Fushshilat ayat 9-12 :

[41:9] Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”

[41:10] Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

[41:11] Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

[41:12] Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Keempat ayat di atas menceritakan mengenai penciptaan langit dan bumi dalam delapan masa. Dua masa penciptaan bumi, empat masa pemberkahan bumi, dua masa penciptaan langit. Dua ditambah empat ditambah dua sama dengan delapan. Sementara di tujuh ayat lain Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, di surah Fushhilat 9-12 ini Allah mengatakan prosesnya adalah dua tambah empat tambah dua. Apakah Al-Qur’an salah ?

Kuncinya adalah pada ayat ke sepuluh surah Fushhilat di atas. Terjemahan kata per kata dari ayat ke-10 tersebut adalah :

“Dan dia meletakkan baginya gunung-gunung yang kokoh di atasnya, dan Dia memberkahinya, dan menetapkan baginya rezekinya, dalam empat masa total, bagi mereka yang bertanya“.

Perhatikan kata total yang merupakan terjemahan dari “sawa-an”. “sawa-an” dalam bahasa arab berarti “menyamakan”, “sama dengan (equal)” , “total”, atau “keseluruhan”. Orang yang hanya berpatokan pada terjemahan mungkin akan merasa bingung, akan tetapi Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa empat masa itu adalah totalnya.

Penggunaan kata “sawa-an” dalam Al-Qur’an mengindikasikan bahwa proses pemberkahan dan pemberian rezeki bagi bumi memakan waktu dua masa, yang apabila digabung dengan penciptaan bumi dari awal, total keseluruhannya adalah empat masa. Juga mengindikasikan bahwa, karena itu total, belum berarti berurutan. proses penciptaan bumi dan pemberkahannya dalam empat hari belum tentu berurutan. Merupakan satu paket, ya, tapi belum tentu satu paket tersebut dalam waktu yang berurutan, karena Fushshilat ayat 9-10 disini sebetulnya berfokus pada penciptaan bumi dalam yang disebutkan di ayat ke-9. Jadi tidak ada pertentangan di sini. Semuanya tetap mengacu kepada enam masa penciptaan.

Langit atau bumi yang terlebih dahulu diciptakan ?

Beberapa orang meyakini apa yang dikatakan Al-Qur’an, mengatakan bahwa bumi-lah yang terlebih dahulu diciptakan daripada langit (berarti termasuk matahari, bulan, dan planet-planet), berdasarkan surah Fushshilat ayat 9-12 di atas.

“Telah jelas di dalam keempat ayat tersebut Allah mengatakan bahwa penciptaan langit terjadi sesudah penciptaan bumi”, begitulah argumen mereka, dengan menyertakan ayat lain yang mendukung :

[2:29] Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia berkehendak (menuju) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sementara menurut data ilmu pengetahuan mengatakan bahwa matahari diciptakan 4.57 milyar tahun yang lalu, bumi 4.567 milyar tahun yang lalu, dan bulan 4.53 milyar tahun yang lalu. Bahkan alam semesta diperkirakan mulai tercipta 13.7 milyar tahun yang lalu. Berarti secara ilmu pengetahuan, langit diciptakan terlebih dahulu daripada bumi.
Jadi manakah yang benar, Al-Qur’an ataukah ilmu pengetahuan ?

Proses Pembentukan Alam Semesta

Segalanya berawal dari suatu ledakan besar (big bang), tidak diragukan lagi, begitulah pendapat mayoritas ilmuwan saat ini. Dari big bangsegalanya berawal, menurut mereka. Dan begitu pula yang disebutkan oleh Al-Qur’an tentang penciptaan, begitulah masa pertama penciptaan dimulai dengan suatu ledakan besar :

[21:30] Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (fataqnahunna).

Fataqnahunna (Kami pisahkan mereka), berasal dari akar kata fataqa, yang artinya menurut Lane’s Lexicon Arabic-English adalah memisahkan (disjoined), mencerai beraikan (disunited), atau memisahkan dengan cara merusak strukturnya (unstitch).
Al-Anbiyaa (21) ayat 30 di atas, menerangkan bahwa langit dan bumi pada mulanya adalah sesuatu yg satu, satu entitas, tidak ada yang namanya langit dan tidak ada yang namanya bumi, masih merupakan suatu kesatuan. Entitas ini yang kemudian di fataqa, dipisahkan, yang mengakibatkan suatu ledakan besar (big bang).

Pertanyaan selanjutnya muncul : apakah yang kemudian dibentuk menurut Al-Qur’an ? Penciptaan langitkah, atau penciptaan bumi ?

Sebelum membahas itu, perlu diingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada masa dimana mayoritas penduduk bumi menganut paham geo-sentris, bumilah pusat alam semesta dan semuanya mengelilingi bumi. Bahkan hampir semua orang saat itu menganggap bahwa bumi itu datar.

Mengatakan bahwa langit diciptakan terlebih dahulu daripada bumi mungkin akan memperoleh banyak cemoohan. Bagaimana mungkin bumi yang menjadi pusat alam semesta di ciptakan setelah langit. Sepatutnyalah bumi sebagai pusat diciptakan terlebih dahulu sebelum langit, matahari, bulan, bintang dan yang lainnya, sebagaimana logikanya, fondasi sebuah bangunan harus diciptakan terlebih dahulu sebelum atap-atapnya.

Allah Maha Mengetahui dan Maha Benar, akan tetapi Allah menggunakan istilah yang dapat diterima pada masa itu, namun dapat dibuktikan kebenarannya di masa yang akan datangnya, wallahu a’lam. Perhatikan bahwa berbicara tentang penciptaan dalam enam masa, Allah selalu mengatakan “langit dan bumi”, bukan “bumi dan langit”. Surah Ath-Thaahaa (20) ayat 4 di sebutkan tentang “bumi dan langit” (dimana “bumi” disebut terlebih dahulu) tetapi bukan dalam kaitannya dengan penjelasan penciptaan dalam enam masa. Untuk surah Ath-Thaahaa ayat 4 ini akan ada pembahasan lebih lanjut di bawah. Seperti halnya Allah selalu mengatakan “malam dan siang”, bukan “siang dan malam”, karena malam lebih dulu ada daripada siang. Dan juga “matahari dan bulan”, bukan “bulan dan matahari”, karena matahari telah ada lebih dulu daripada bulan.

Perhatikan pula pada surah Fushhilat ayat 11 :

[41:11] Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Dalam memahami Al-Qur’an lebih jauh, selalu mengacu kepada redaksi aslinya. Terjemahan kata per kata dari ayat 11 ini adalah : “Kemudian (tsumma) Dia pergi menuju langit (samaa-i) dan dia berupa asap (hiya dukhaanun) …”

“tsumma” disini berarti kemudian, berfokus kepada ayat ke-9, yaitu setelah penciptaan bumi, bukan ayat-10 (setelah pemberkahan bumi). Di atas telah diuraikan bahwa penggunaan kata “sawa-an” (total/keseluruhan) dapat mengindikasikan sesuatu yang tidak berurut. Jadi ayat 10 menjelaskan ayat 9, dan ayat 11 melanjutkan ayat 9.

Perhatikan pula Allah menggunakan kata “samaa-i”, langit bentuk tunggal. “Kemudian Allah menuju langit (tunggal)”, menjelaskan bahwa pada saat itu langit sudah ada. Jadi, dalam rangka proses penciptaan bumi, termasuk di dalamnya adalah proses penciptaan langit pertama (yang pada saat itu belum disebutkan sebagai “langit pertama” atau “langit dunia” karena hanya ada satu lapis langit). Mengapa ? karena proses penciptaan langit pertama (galaksi-galaksi pertama, matahari dan sebagainya) ini sebelum bumi, sangat penting peranannya bagi penciptaan bumi itu sendiri, dalam menciptakan keseimbangan yang sempurna. Tetapi dijelaskan pula, pada saat bumi terbentuk, langit pertama itu sebagian besar masih merupakan asap (gas) yang panas. “Dukhaanun” merupakan bentuk indefinitif dari al-dukhn yang berarti “asap yang berasal dari api” dengan kata lain panas. Kata “gas” pada jaman Nabi Muhammad belum diketahui, sehingga Allah menggunakan kata dukhaan untuk menunjukkan sebagian besar alam semesta masih merupakan gas yang panas.

Di ayat ke dua belasnya Allah mengatakan :

[41:12] faqadahunna sab’a samaawaatin fi yaumayni …
“fadahunna” berarti “dan di lengkapi bagi mereka”. Mereka disini adalah “langit” (samaa-i) dan “bumi” (ardh-i). Berarti langit dan bumi saat itu sudah ada, akan tetapi Allah melengkapi bagi keduanya dengan menjadikan samaa-i menjadi sab’a samaawaatin.

Di ayat ke 12 ini juga Allah menerangkan bahwa di langit terdekat (samaa-i duniya) Allah memberikan lampu-lampu. Berarti dalam proses ini Allah memperbanyak pengadaan (menghias dengan) bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya yang sebelumnya masih berupa gas yang panas. Bukan berarti sebelumnya tidak ada bintang, akan tetapi bintang-bintang di awal penciptaan tidak sebanyak setelah penciptaan sab’a samaawaatin, karena bintang-bintang di awal penciptaan berfokus untuk kepentingan penciptaan bumi, dimana sebagian besar benda langit masih berupa gas, termasuk juga bumi, telah di bentuk bulat akan tetapi masih berupa gas, wallahu a’lam.

[2:29] Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia berkehendak (menuju) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalam Al-Baqarah ayat 29 ini juga Allah mengatakan “tsumma istawaa’ ila as-samaa-i fasawwahunna sab’a samaawaatin” yang diartikan “kemudian Dia pergi menuju langit (samaa-i) dan dijadikannya tujuh langit (sab’a samaawaatin), berarti langit sebelumnya sudah ada, tetapi belum menjadi tujuh langit.

Jadi lebih tepat jika dikatakan bahwa ayat ini menerangkan bahwa Allah mengkondisikan bumi sehingga bumi beserta isinya nantinya dapat menjadi tempat yang mampu dihuni dan diolah oleh manusia. “Dialah Allah yang menciptakan apa-apa yang ada di bumi untuk kamu semuanya”, bukan berarti saat itu telah terbentuk semuanya di bumi, akan tetapi bumi pada awal penciptaan semuanya dirancang sedemikian rupa untuk mendukung kehidupan manusia, ukurannya, struktur inti buminya, elemen-elemen pembentuknya, semuanya dipersiapkan demi kepentingan manusia, yang akan memasuki masa pemberkahan.

Masa pemberkahan itu sendiri di jelaskan di ayat yang lain beserta dengan penjelasan proses-sebelumnya, yang merangkum keseluruhan proses penciptaan, yaitu di surah An-Naazi’aat ayat 27-32 :

[79:27] Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit (samaa-u)? Allah telah membangunnya
[79:28] Dia telah meninggikan bangunannya dan menyeimbangkannya
[79:29] Dia menggelapkan malamnya dan nenampakkan cahaya pagi-nya (dhuhaha)
[79:30] Dan bumi setelah itu di hamparkan-Nya (dahaha)
[79:31] Ia mengeluarkan daripadanya mata airnya, dan tumbuh-tumbuhannya.
[79:32] dan gunung-gunung, dikokohkan-Nya

Dari Surah An-Naazi’aat dapat kita lihat :

1. Ayat ke-27 menjelaskan mengenai penciptakan langit pertama dan bumi. Darimana kita tahu bahwa ayat ke-27 menjelaskan mengenai penciptaan bumi juga ? Ini kaitannya dengan ayat ke 29. Adanya malam dan siang terjadi setelah ada bumi. Jadi ayat ke-27 sebetulnya menyatakan dua masa penciptaan bumi yang disebutkan di surah Fushshilat ayat 9. “Allah telah membangunnya”. Sebagaimana Allah menyebutkan “langit pertama sudah terbentuk saat bumi terbentuk, karena terciptanya langit pertama sebelum bumi diperlukan dalam penciptaan bumi itu sendiri” secara tersirat di Q.S Fushshilat 9-12, di surah An-Naazi’aat ini pun secara tersirat Allah menyatakan bahwa “bumi pun terbentuk ketika langit pertama telah terbentuk”. Langit pertama adalah fondasi bagi pembentukan bumi, dan dimasa ini sebagian besar benda langit masih merupakan gas panas, termasuk pula matahari dan permukaan bumi.

2. Ayat ke-28 adalah proses penciptaan “sab’a samaawaatin”, dimana saat itu Allah meninggikan langit dengan cara menjadikannya menjadi tujuh langit, dan menyeimbangkan semua benda-benda langit sehingga tidak cenderung saling betubrukan dan semuanya berjalan dengan keseimbangan yang sempurna. Juga dengan “menghiasi langit dengan lampu-lampu” (baca : komet, meteor, bintang, dsb) sehingga memperkokoh keseimbangan langit. Tujuan penciptaan “lampu-lampu” ini tidak lain agar menjadi “tiang yang tidak terlihat” yang disebutkan Allah dalam surah Ar-Rad ayat 2 : “[Q.S 13:2] Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat…” .Proses ini masuk dalam dua masa penciptaan tujuh langit (sab’a samaawaatin). Termasuk pula di bagian akhir dua masa penciptaan tujuh langit ini (atau dapat pula di awal dua masa pemberkahan bumi, wallahu a’lam) ini matahari telah terbentuk menjadi sempurna.

3. Kemudian memasuki memasuki masa-masa awal dua masa proses pemberkahan bumi. Ayat ke-29 menjelaskan tentang penciptaan lapisan-lapisan Atmosfer. Dalam postingan “Benarkah Al-Qur’an berkata matahari tidak menyebabkan siang ?” sudah dijelaskan bahwa siang dan malam terjadi bukan karena adanya matahari, akan tetapi karena adanya atmosfir yang mengubah “dhiyaan” (sinar) matahari, menjadi “dhuhaa” (cahaya pagi), sehingga siang hari di bumi terang dan berwarna biru. Telah diketahui bahwa atmosfir bumi pun terdiri atas tujuh lapis. Dari sudut pandangan manusia di bumi, awan, atmosfir, matahari, bulan, bintang, semuanya berada di “langit”, sehingga terkadang Al-Qur’an menggunakan kata “dari langit kami turunkan air”, atau “rezeki dari langit“, atau “air dari langit“, karena semuanya berada dalam lingkup langit pertama.

4. Ayat ke-30 juga menjelaskan mengenai dua masa proses pemberkahan bumi. kata “dahaha”, sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam postingan “Bumi itu datar menurut Al-Qur’an ?“, berarti menggerakkan bumi sehingga menjadi terasa datar. Bukan berarti sebelumnya bumi tidak bergerak dan berputar, akan tetapi jika sebelumnya bumi masih berputar dengan sngat kencang dalam rangka memadatkan diri, dalam masa ini putaran dan pergerakannya disesuaikan sedemikian rupa sehingga bumi itu terasa datar bagi makhluk yang nantinya tinggal di permukaannya. Termasuk pada masa ini, batuan-batuan padat telah terbentuk dan pembentukan gunung pun telah dimulai pada masa ini.

5. Ayat ke-31 dan ke-32 masih merupakan kelanjutan penjelasan dari dua masa pemberkahan bumi, termasuk di dalamnya pengadaan air, pengadaan tumbuh-tumbuhan dan pengokohan gunung-gunung yang sbeelumnya telah mulai terbentuk, sehingga berfungsi sebagai pasak dan penyeimbang bagi bumi. Penyempurnaan pembentukan bulan pun terjadi pada dua masa pemberkahan bumi ini karena bulan dibutuhkan sebagai penyeimbang bumi dan berfungsi dalam mengatur ombak serta pasang surut air laut.

Dalam menerangkan penciptaan dalam enam masa, Allah menyebutkan langit terlebih dahulu daripada bumi dengan sebutan “samaawaati wal ardh” atau “langit dan bumi”, karena “sama-i” yang belakangan disempurnakan Allah menjadi “sab’a samaawaatin”, diciptakan lebih dahulu daripada bumi karena terkait untuk mendukung pembentukan bumi, walaupun “sab’a samaawaatin” diciptakan setelah pembentukan bumi. Hal ini menyebabkan secara umum “samaawaatin” (bukan “sab’a samaawaatin”) diciptakan lebih dulu daripada “ardh”.

Bagaimana dengan surah Ath-Thaahaa (20) ayat 4 yang berbunyi :

[20:4] yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi

Pertama, ayat ini tidak menjelaskan lamanya penciptaan, tetapi berupa penegasan bahwa Al-Quran di turunkan oleh sebagai peringatan bagi orang yang takut karena diturunkan dari Allah sang pencipta. Kedua, secara morfologi, ayat ini mengatakan “Allah yang menciptakan (1) bumi dan (2) langit yang tinggi (al-samaawati al-‘ula / highest heavens)”, bukan “bumi dan langit” (tanpa kata keterangan sebagaimana ayat-ayat yang lain). Pemberian kata keterangan “yang tinggi” (al-‘ula) untuk “langit” menjadi satu frasa “langit yang tinggi”, dan di sebut sesudah “bumi”, mengindikasikan bahwa peninggian langit memang terjadi sesudah penciptaan bumi, yaitu di dua masa penciptaan tujuh langit.

Lihatlah bagaimana Allah menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dan diterima oleh orang-orang dijaman Nabi Muhammad, akan tetapi akan dapat dibuktikan kebenarannya oleh ilmu pengetahuan. Pembentukan alam semesta sendiri masih merupakan misteri bagi manusia, akan tetapi pernyataan Al-Qur’an mengenai penciptaan alam semesta tidak ada yang bertentangan dengan data ilmu pengetahuan saat ini, dan juga tidak akan bertentangan dengan data ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang, insya Allah.

Dihapuskannya tanda malam, pembentukan bulan menurut Al-Qur’an

Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 17 :

[17:12] Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa di awal pembentukan bulan, bulan memiliki lautan magma akibat dampak dari giant impact. Hal ini membuat bulan pada masa itu terang benderang. Dari buku “The magma ocean concept and lunar evolution” karangan Warren, P. H. (1985) disebutkan bahwa :
The newly formed Moon would also have had its own lunar magma ocean; estimates for its depth range from about 500 km to the entire radius of the Moon

Hal ini mengakibatkan dari sudut pandang bumi, bumi seolah-olah memiliki dua matahari. Akan tetapi Allah menghilangkan magma dari bulan yang saat itu menjadi tanda malam, sebagai proses “penghapusan tanda malam”. Kemudian Allah menyempurnakan lapisan atmosfir bumi yang membuat “tanda siang” menjadi lebih terang benderang, karena mampu menyaring cahaya matahari dan menyebarkannya di bumi sehingga siang menjadi berwarna biru dan terang. Salah satu tujuannya adalah “agar kamu mencari karunia Tuhanmu dan mengetahui bilangan tahun dan perhitungan”, yang akan sulit jika bumi memiliki “dua matahari”, karena manzilah-manzilah atau fasa-fasa bulan tidak terjadi jika bulan memiliki cahaya sendiri sebagaimana matahari.
Bentuk alam semesta

Dalam postingan yang berjudul “APAKAH BUMI ITU DATAR MENURUT AL-QUR'AN“, dijelaskan bahwa seperti halnya bumi, Al-Qur’an pun menyatakan bahwa langit memiliki banyak diameter (aqthar), yang mana mengacu kepada bentuk elipsoid, sebagaimana dinyatakan dalam surah Ar-Rahmaan ayat 33. Namun elipsoid alam semesta ini tidak seperti elipsoid bumi, akan tetapi suatu bentuk elipsoid yang sangat pipih relatif datar, seperti yang dikatakan dalam ayat berikut :

[51:47] Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya (lamuusi’uuna)

lamuusi’uuna berasal dari kata wasi’a yang berarti “terus menerus melapangkan/meluaskan”. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa jarak antar objek di alam semesta dalam hal ini antar-galaksi semakin lama semakin jauh dan berkembang, sehingga alam semesta menjadi semakin luas.

Menurut Big Bang model, alam semesta berkembang dari keadaan yang sangat padat dan panas menjadi keadaan seperti sekarang ini, dan akan terus meluas/berkembang. Rem B. Edward dalam paparenya yang berjudul “What Caused The Big Bang” menganalogikan perkembangan alam semesta ini ini dengan “. . like raisins in a rising loaf of bread, or dots on the surface of an inflating balloon.”

Disini alam semesta di analogikan seperti adonan roti kismis yang awalnya berbentuk adonan bulat padat, yang terus mengembang, dan jarak antar kismis-kismis nya pun semakin jauh. Hal ini membuat bentuk alam semesta yang bulat pipih menjadi semakin pipih, hampir datar, dengan meluasnya alam semesta, sehingga seolah-olah dapat “digulung” atau “dilipat” seperti yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya :

[21:104] (Yaitu) pada hari Kami gulung (lipat/nathwii) langit seperti menggulung (melipat/kathayyi) lembaran – lembaran kertas.
Memipihnya alam semesta sehingga menjadi seperti “lembaran-lembaran kertas” diungkapkan Al-Qur’an.

Dikatakan oleh NASA bahwa :
The simplest version of the inflationary theory, an extension of the Big Bang theory, predicts that the density of the universe is very close to the critical density, and that the geometry of the universe is flat, like a sheet of paper. (http://map.gsfc.nasa.gov/universe/uni_shape.html)

Saat ini belum “equal to the critical density” akan tetapi “very close to the critical density” menyebabkan alam semesta semakin berbentuk bulat pipih/elipsoid relatif datar “seperti kertas”, hingga pada akhir nanti akan dapat “digulung/dilipat seperti menggulung/melipat lembaran-lembaran kertas” saat “less than the critical density”, wallahu a’lam.

Ada tidaknya udara di luar angkasa, sebuah pernyataan lain dalam Al-Qur’an

Allah berfirman dalam surah Al-An’aam ayat 125:

[6:125] Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Perhatikan pernyataan “niscaya Allah menjadikan dadanya sesak (dayyiqan) lagi sempit (harajaan) seperti halnya dia sedang mendaki menuju langit (samaa-i)”. Lihat bagaimana Allah menyatakan “jika kamu pergi menuju langit, maka semakin tinggi kamu pergi, akan semakin terasa sesak dan sempit dadamu”. Hal ini dikarenakan karena semakin jauh dari permukaan bumi, maka kadar oksigen semakin berkurang, sampai akhirnya tidak akan ada oksigen sama sekali. Hal ini menyebabkan dada sese orang akan terasa sesak dan sempit karena kesulitan bernafas.
Sesuatu yang sudah dinyatakan 15 abad yang lalu dan baru dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan saat ini, wallahu a’lam

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.