Senin, 23 Februari 2015

1 HARI DISISI ALLAH KADARNYA 1.000 ATAU 50.000 TAHUN?


Pertanyaan ini memang masih sering kali dipertanyakan oleh orang-orang kristiani dalam grup-grup atau forum perdebatan lintas agama. Khususnya bagi mereka yang masih awam atau amatiran dalam dunia perdebatan lintas agama. Tapi biarpun demikian, kami acungi jempol deh bagi umat kristiani yang mahu menyempatkan waktunya untuk mengkritisi Islam. Walaupun hal yang sama tidak bisa mereka lakukan untuk mengkritisi kristen. Jadi sebenarnya umat kristiani itu pola pikirnya seakan-akan sangat rasional jika mereka hendak mengkritisi Islam. Sampai-sampai mereka garangnya bukan main saat mengkritisi iman Islam, tapi sayangnya logika mereka langsung jeblok saat diahadapkan dengan iman kekristenan yang sangat irasional dan menentang akal sehat manusia. Baiklah kita langsung saka ke pokok permasalahan, berikut ini adalah 3 ayat yang mereka maksud sebagai ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung kontradiksi angka :

1. "Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (QS. Al-Haj 22:47)

2. "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu" (QS. As-Sajdah 32:5)

3. "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya Lima puluh ribu tahun." (QS. Al-Ma`arij 70:4)

Sebagian orang nasrani berbicara mengenai kontradiksi, mereka menjadikan tiga ayat di atas sebagai contoh kontradiksi yang dilakukan oleh Allah (maha suci Allah dari hal ini), di satu surat Allah berfirman sehari seperti 1000 tahun dan di lain surat Allah berfirman sehari seperti 50 ribu tahun, kita sama-sama sefaham bahwa 49 ribu tahun bukanlah selisih yang sedikit. Tapi apakah itu kontradiksi?

Ada baiknya kita sama-sama sepakati dahulu bahwa kontradiksi adalah dua atau lebih pernyataan yang bertolak belakang dan tidak bisa ditemukan titik temu untuk menjelaskannya.

Kita ambil contoh :

Seseorang berkata umurnya 25 tahun, kemudian di lain waktu ia berkata umurnya 30 tahun. Apakah ini kontradiksi? Tentu kita tidak serta merta katakan sebagai kontradiksi karena umur memang bisa bertambah. Maka kita harus bertanya dahulu padanya apa maksud dua pernyataan itu, jika ia menjawab dengan jawaban masuk akal, seperti “aku mengatakan pernyataan pertama lima tahun lalu” maka ini bukan kontradiksi bahkan yang ngotot mengatakan ini kontradiksi perlu dipertanyakan kecerdasannya.

Atau misalnya kalau ada yang bertanya 3 x 4 = berapa? Jawabannya mungkin berbeda-beda. Anak-anak sekolah pasti menjawab 12. Si tukang foto menjawab 1.000. Si penjual kayu mungkin menjawab 50.000, lalu apakah jawaban-jawaban mereka itu salah? Kalau orang tidak mengenal mereka dan tidak tahu masalah mereka, tentu orang itu akan mengatakan salah. Tetapi bagi orang yang kenal dan tahu mereka maka orang itu pasti mengatakan bahwa jawaban itu benar. Kenapa benar? Bukankah 12, 1.000, dan 50.000 itu angka-angka yang kontradiksi dan sangat jauh berbeda? Jawaban anak sekolah itu benar karena yang dijawabnya adalah soal pelajaran matematika. Jawaban si tukang foto itu benar karena yang dijawabnya adalah harga cuci foto perlembar ukuran 3 x 4. Jawaban si penjual kayu itu juga benar karena yang dijawabnya adalah harga kayu yang ukuran 3 x 4 itu adalah Rp. 50.000.

Saya jadi teringat pertanyaan-pertanyaan konyol dari kristiani, mereka menyatakan ayat :

Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu (Al Baqarah 2:97)

Bertentangan dengan ayat

Katakanlah: ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar…”. (QS. An-Nahl 16:102)

Mereka bilang jibril atau ruh kudus yang menurunkan Al-Qur`an?

Seharusnya mereka bertanya dulu kepada seorang anak muslim apakah itu ruh kudus dalam islam, dan mereka akan mendapatkan jawaban yang sangat simple bahwa ruhul kudus ternyata adalah nama lain dari Jibril. Jadi pribahasa yang tepat untuk orang seperti itu adalah “malu bertanya malu maluin” hehe..

Tetapi dalam kitab suci kita sulit untuk menyatakan kontradiksi karena kita tidak bisa bertanya pada tuhan. Tetapi kita semua percaya tuhan tidak mungkin keliru, semua yang terlihat sebagai kontradiksi yang ada dalam kitab suci pasti memiliki penjelasan masuk akal. Jika tidak maka hanya ada dua kemungkinan yaitu bahwa itu bukan kitab suci, atau kitab suci itu telah diubah.

Lalu apakah tiga ayat di atas bisa dikatakan kontradiksi?

Perhatikan ayat-ayat itu sekali lagi :

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al-Haj 22:47)

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS. As-Sajdah 32:5)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS. Al-Ma`arij 70:4)

Orang yang jeli akan melihat bahwa tiga ayat ini berkata dalam tiga konteks yang berbeda.

Jika allah berfirman :

sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Kemudian Allah berfirman :

sehari disisi Tuhanmu adalah seperti limapuluh ribu tahun menurut perhitunganmu

maka kita bisa katakan ini kontradiksi tetapi apakah Allah berfirman demikian? Tidak.

Allah hanya berfirman :

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun

Orang bodoh pun tahu bahwa kalimat “sehari di sisi tuhan” dan “sehari yang dibutuhkan malaikat untuk menuju tuhan” memiliki arti berbeda.

Jika Allah berfirman :

kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

lalu Allah berfirman :

kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah limapuluh ribu tahun menurut perhitunganmu

maka kita bisa katakan ini kontradiksi tetapi apakah Allah berfirman demikian? Tidak.

Allah hanya berfirman :

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Orang bodohpun tahu bahwa urusan dan malaikat itu adalah dua hal yang berbeda atau kalaupun urusan itu dibawa oleh malaikat tetapi perhatikanlah apakah dua ayat ini bercerita mengenai satu alur cerita yang sama atau dua peristiwa berbeda? Lalu di manakah letak kontradiksi itu?

Bagi para kristiani, bilangan ayat-ayat tersebut bertentangan karena mata mereka hanya terfokus pada angka 50.000 dan 1.000. Anggapan kontradiktif terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ini nampak karena mereka membaca ayat secara tidak konsisten. Padahal bila dibaca secara cermat, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak kontradiktif.

Jika kristiani belum puas, akan saya beri beberapa contoh saja kontradiksi dalam Alkitab, perhatikan :

2 Samuel 10:18 tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana

1 Tawarikh 19 : 18 tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ribu ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berjalan kaki; juga Sofakh, panglima tentara itu, dibunuhnya.

Tak perlu menjadi ahli untuk mengetahui bahwa dua ayat ini bercerita mengenai satu peristiwa yang sama tetapi diceritakan dengan cara berbeda, tentu tuhan tidak mungkin salah menyebut tujuh ratus dengan tujuh ribu. Dan juga tidak mungkin salah dalam menyebutkan pasukan berkuda menjadi pasukan berjalan kaki.

Atau ayat yang ini :

1 Raja-Raja 8:26 Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel.

2 Tawarikh 22:2 Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.

Alur kisahnya sama, tapi yang satu mengatakan kalau usia Ahazia adalah 22 tahun saat ia menjadi raja. Tetapi yang lainnya mengatakan bahwa usia Ahazia adalah 42 tahun saat menjadi raja. Tidak perlu ahli teologi untuk melihat kerancuan ini, orang bodohpun tahu kalau ayat diatas bertentangan satu sama lain. Jika demikian, maka pikirkanlah sendiri.

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..:)
Poskan Komentar