Jumat, 13 Februari 2015

MENJAWAB BINTANG SEBAGAI PELEMPAR SETAN


Orang kristen bertanya mengenai salah satu fungsi bintang yg terangkum didalam Alquran. Al-Qur'an menyatakan bintang untuk melempar setan dalam surah Al-Mulk:5

Allah berfirman :

ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪْﻧَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ
ﺍﻟﺴَّﻌِﻴﺮِ

“Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 5)

Ayat ini sering dijadikan ledekan oleh orang kafir yang mengatakan bahwa ayat ini menunjukan kemuskilan di dalam Al-quran karena menyatakan bintang (matahari) dijadikan alat untuk melempar setan. Dalam Alqur’an diceritakan fungsi bintang dilangit yaitu :

1. sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

ﻭَﻋَﻼﻣَﺎﺕٍ ﻭَﺑِﺎﻟﻨَّﺠْﻢِ ﻫُﻢْ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

"Allah menjadikan bagi para musafir tanda- tanda yang mereka dapat gunakan sebagai petunjuk di bumi dan sebagai tanda-tanda di langit" (QS. An Nahl: 16)

2. sebagai penerang dan penghias langit dunia, Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al-Mulk: 5)

ﺇِﻧَّﺎ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﺰِﻳﻨَﺔٍ ﺍﻟْﻜَﻮَﺍﻛِﺐِ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (QS. Ash Shofaat: 6)

3. Untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit, Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al-Mulk.

ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪْﻧَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﺴَّﻌِﻴﺮِ

“Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 5)

Langit terus dilindungi dengan percikan api, sebagaimana Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi Allah berfirman :

ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻘْﻌُﺪُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﻘَﺎﻋِﺪَ ﻟِﻠﺴَّﻤْﻊِ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﺴْﺘَﻤِﻊِ ﺍﻵﻥَ ﻳَﺠِﺪْ
ﻟَﻪُ ﺷِﻬَﺎﺑًﺎ ﺭَﺻَﺪًﺍ , ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻻ ﻧَﺪْﺭِﻱ ﺃَﺷَﺮٌّ ﺃُﺭِﻳﺪَ ﺑِﻤَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ
ﺃَﻡْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺑِﻬِﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺭَﺷَﺪًﺍ

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. ” (QS. Al-Jin: 9-10).

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (galaksi) (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya. Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)) lalu dia (setan) dikejar oleh semburan api yang terang” (QS. Al-Hijr: 16-18)

Allah SWT dalam QS. Al-Mulk:5 ini menggunakan kata mashabiih sebagai ungkapan yang kemudian sering diartikan sebagai bintang-bintang. Bentuk mufrad-nya (tunggal) adalah mishbah. Di dalam kamus, kata mishbah diartikan sebagai lampu, pelita, cahaya dan sesuatu yang menerangi. Sebenarnya ada kata lain untuk menyebut bintang di dalam bahasa arab, yaitu najm. Dan Al-Quran punya satu surat yang judulnya An-Najm.

Bahkan ada kata najm yang maknanya bukan bintang, melainkan sering dipahami sebagai meteor, yaitu kata an-najmuts-tsaqib. Di dalam terjemahan sering diartikan sebagai bintang yang menembus. Namun khusus pada ayat QS.Al-Mulk:5 Allah SWT menggunakan istilah mishbah, yang artinya penerang atau lampu. Dari sisi ilmu pengetahuan, tidak ada yang aneh bila seandainya kata mishbah itu kita artikan bintang. Dan bahwa bintang-bintang di langit itu dijadikan sebagai media untuk melempar setan-setan. Justru karena bintang itu pada hakikatnya adalah matahari, malah pernyataan Al-Quran menjadi benar.

Jadi dapat saja kita pahami bahwa bintang dimaksud dalam ayat Al-Mulk adalah sejenis “cahaya api” atau sesuatu benda yang menyerupai “sinar sangat dahsyat dan panas”. Yang dipanashkan/ditembakkan secepat misil (peluru kendali) pencari panas, sebagaimana dijelaskan Rasul SAW dalam sebuah hadisnya. Dengan demikian “bintang” itu bisa saja ia sejenis sinar kosmis atau sejenis lidah api yang sangat panas. Dan kalau kemudian menjadi sejenis “panah api” sinar kosmis itu menjadi senjata untuk menembak/memanah Jin kafir atau setan dan (tentu yang dimaksud disini setan beserta para pengikutnya para Jin Ifrit misalnya). Dalam hal ini, kita juga sedang berada di luar ilmu Astronomi atau fisika tetapi kita memasuki dunia metafisika. Untuk itu perhatikan ayat Al Quran pada Surat [15] Al Hijr dari ayat 16 sampai 18, di atas. Dan dikaitkan dengan Surah Al Jin (Jin) ayat 8-10. Diatas, maka saya lebih cenderung kepada penafsiran bahwa “bintang” yang dipanahkan atau dilemparkan kepada setan itu adalah sejenis lidah api yang sangat panas (hal ini kita bayangkan jika panas inti matahari mencapai 15 juta derajat celcius), maka lidah api atau solar flare.

Lalu kita bertanya bukankah setan itu terbuat dari api, apalah artinya panas api bagi mereka. Tetapi kita jangan lupa walaupun mereka terbuat dari api tetapi dengan kekuasaan Allah mereka dapat terbakar. Itu sama halnya juga pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian orang apakah setan menderita jika dimasukkan ke dalam neraka bukankan setan terbuat dari api juga. Lantas kita sendiri yang terbuat dari tanah sanggup jika ditimbun didalam tanah tanpa bernapas? Dengan demikian lontaran lidah api yang berasal dari bintang yang bagaikan sebuah panah api yang akan meluluh lantakkan setan dan jin ifrit (Jin Kafir) yang coba-coba melintas ke angkasa luar untuk mencuri dengar berita-berita langit. Atau kita bisa menggambarkan/mengibaratkan hal ini seperti sejenis peluru kendali yang secara dahsyat mengejar setan. Kalau zaman sekarang kita ibaratkan sebuah rudal (misile) yang mengejar panas, jadi kemana pun setan dan Jin Ifrit lari, maka tembakan/panah api itu tidak pernah melesat dipanah oleh para Malaikat penjaga langit. Dengan demikian walauun setan itu berwujud gaib, tetapi dengan ilmu Allah yang melalui para Malaikat-Nya yang juga gaib sangatlah mudah bagi Allah dan para tentaranya (Malaikat) untuk memusnahkan Setan dan para Jin Ifrit yang coba-coba melalang buana terbang ke angksa (langit) untuk mencoba mencuri berita-berita (wahyu) Allah di langit yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW (wallahu alam).

Di zaman dahulu, mungkin orang-orang beranggapan bahwa bintang itu benda-benda kecil yang seperti bintik-bintik kecil. Bahkan tidak tahu kalau bintang itu sangat besar dan merupakan bola gas pijar yang amat panas. Hari ini justru kita tahu bahwa matahari selalu bergejolak, panasnya mencapai ribuan derajat, dan seringkali terjadi badai matahari (solar storm), di mana ada kekuatan lidah atau percikan api yang terlontar keluar. Lidah api inilah yang sangat masuk akal bila dijadikan perajam setan. Para ilmuwan mengatakan bahwa badai matahari terbentuk karena terjadinya gejolak di atmosfer matahari yang dipicu oleh terbentuknya bintik hitam (sunspot). Bintik hitam merupakan daerah yang mempunyai suhu lebih rendah dibanding daerah sekitarnya. Kondisi tersebut memicu lidah api (solar flare) dan coronal mass ejection (CME) atau terlontarnya materi matahari yang juga mencapai bumi.

Partikel-partikel berkecepatan tinggi dalam jumlah besar yang sampai ke mana saja, bahkan sampai ke atmosfer bumi menghasilkan aurora dan badai geomagnetik. Inilah yang disebut para astronom solar storm atau badai matahari. Masih ingat peristiwa badai matahari pada bulan Oktober dan November 2003? Badai ini telah menyebabkan berbagai gangguan di lingkungan bumi, termasuk penampakan aurora yang sangat menakjubkan di kutub, kenaikan intensitas sabuk radiasi yang menyelimuti Bumi, dan bahkan mengganggu kinerja satelit. Badai matahari ini, bulan April lalu, secara mengejutkan telah menerpa pesawat Voyager 2 yang ketika itu berada pada jarak 11,2 miliar km dari Matahari. Ini adalah bukti betapa dahsyatnya badai matahari beberapa tahun lalu itu. Maka kalau Al-Quran mengatakan bahwa bintang-bintang itu menjadi alat pelempar setan, justru sangat masuk akal. Jika QS.Al-Mulk:5 dianggap tidak masuk akal padahal kenyataannya jika ayat itu diperhatikan baik-baik ternyata tidak bertentangan dengan fakta ilmiah.

Allah melindungi langit dari jangkauan iblis, tapi orang kristiani malah dengan bodohnya menertawakan ayat AlQuran yang menyangkut hal itu. Apa mereka lupa atau memang tidak tahu kalau tuhan mereka bahkan tidak kuasa menjaga surganya? Jangankan menjaga langit, untuk menjaga surganya saja tuhannya umat kristiani tidak pecus. Sampai-sampai surganya umat kristiani bisa dibobol oleh naga dan diporak-porandakan dengan peperangan malaikat melawan naga tersebut? Coba kita baca ayat dibawah ini :

Wahyu 12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,


 












Kemana tuhannya? Kok bisa-bisanya surganya sampai kebobolan begitu? Sekarang mari kita bandingkan bagaimana pandangan alkitab mengenai ilmu perbintangan atau Astronomi dengan melakukan analisis ilmiah. Biar kita bisa menilai apakah alkitab sudah sejalan dengan ilmu pengetahuan atau justru sebaliknya.



Coba kita perhatikan baik-baik seberapa besar ukuran matahari dan bumi, bandingkan seberapa besar ukuran matahari dan bintang Arcturus. Perhatikan seberapa besar bintang Arcturus dibanding bintang Antares, padahal ukuran bintang Antares itu paling tidak ialah bintang terbesar dengan nomor urut 15, ada 14 bintang lain yg lebih besar dari bintang Antares. Belum lagi jika Astronomi semakin berkembang, pasti masih banyak bintang lain yg jauh lebih besar dibanding bintang-bintang ini. Tapi dalam Alkitab, bintang-bintang di langit digambarkan sangat kecil sesuai pandangan manusia dengan mata telanjang, sehingga bisa jatuh ke bumi seperti buah ara yang berguguran atau seperti obor yang jatuh ke sepertiga sungai sungai di bumi. Mari kita baca ayat-ayat alkitab mengenai perbintangan di bawah ini :

Matius 24:29 Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.

Wahyu 8:10 Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air.

Wahyu 9:1 Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut.

Ayat diatas adalah nubuat tentang datangnya hari kiamat dan gambaran tentang apa yang terjadi pada saat hari kiamat. Pada ayat diatas dikatakan bahwa bintang-bintang di langit akan berjatuhan dari ke bumi seperti obor yang berjatuhan ke bumi. Dan disana juga dinyatakan bahwa bintang yang berjatuhan ke bumi hanya menimpa sepertiga sungai-sungai dan mata air di bumi. Sekarang kita baca lagi ayat-ayat yang lainnya didalam alkitab mengenai bintang-bintang dibawah ini :

Wahyu 6:13 Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang.

Wahyu 12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang- bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri dihadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya

Sekarang coba bayangkan, jika satu bintang saja ukurannya bisa beribu-ribu kali lebih besar daripada bumi, lalu bagaimana logikanya jika diklaim bahwa sepertiga bintang-bintang dilangit jatuh menghujani bumi? Apa lagi bintang-bintang tersebut hanyalah menimpa sepertiga sungai-sungai di bumi. Dan setelah bintang-bintang tersebut berjatuhan ke bumi, masih ada kehidupan di bumi. Dalam hal ini jelas-jelas terjadi kesalahan fatal, tampaknya penulis alkitab tidak paham sama sekali tentang ilmu astronomi dan hanya menggunakan imajinasinya sesuai apa yg ia lihat dengan mata telanjang. Padahal di alam semesta ini terdapat ribuan galaksi dan jumblahnya akan terus bertambah. Dan didalam satu galaksi terdapat miliaran bintang-bintang. Suhu matahari saja bisa mencapai 15.000.000 °C, ini barulah suhu dari matahari, bintang yang ukurannya hanya seupil jika dibandingkan dengan bintang-bintang raksasa lainnya. Lalu apakah logis jika bintang dengan suhu yang sangat panas tersebut bisa jatuh ke bumi, dan manusia masih bisa hidup pasca berjatuhannya bintang-bintang di langit? Jangankan manusia, bumi saja akan langsung hancur terbakar sebelum bintang-bintang tersebut menyentuh permukaan bumi. Jadi jika dilihat dari ilmu Astronomi, masuk akalkah ayat-ayat alkitab diatas? Apakah mungkin tuhan pakek acara salah segala dalam berfirman?

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini cukup bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..:)
Posting Komentar