Rabu, 04 Maret 2015

MENGUNGKAP MISTERI GELAR AL-AZIZ PADA ZAMAN NABI YUSUF


Latar belakang kami menulis artikel ini adalah dalam rangka mengkonter dan meluruskan fitnahan kristiani, mereka mengatakan bahwa Al-Quran telah ANAKRONISME dalam kisah nabi Yusuf sewaktu di mesir, karena yusuf menyebut AL-AZIZ kepada tuannya. Menurut mereka hal itu sangat bertentangan dengan alkitab, mereka mengatakan sangat konyol nabi Yusuf menyebut firaun dengan gelar AL-AZIZ, karena di alkitab yang berkuasa pada jaman Yusuf adalah firaun. Lantas benarkah tuduhan ini? Nah mari kita bahas Gelar "RAJA/AL-AZIZ" dan "FIRAUN" ini secara berimbang seperti yang diterangkan di kedua kitab suci yakni Alquran dan Alkitab.

(Note: ini hampir sama kasusnya ketika para missionaris mempersoalkan kisah HAMAN di alquran dan membandingkannya dengan kisah haman di KITAB ESTER dan terbukti alquran benar)

Raja-raja Mesir kuno dalam alkitab pada masa Abraham, Yusuf dan Musa terus-menerus dikaitkan dengan Gelar 'Firaun', Namun dalam Al-Qur'an dalam hal ini agak berbeda, yang berkuasa di Mesir pada jaman Yusuf dipanggil "Raja" (Arab, Malik); sedangkan Alkitab telah menamainya "Firaun". Adapun raja yang memerintah pada masa Musa Al-Qur'an berulang kali menyebutnya "Firaun" (Arab, Fir`awn), jadi pada jaman Musa Al-Quran dan alkitab adalah paralel, dalam pembahasan selanjutnya saya akan mempertajam mengenai kisah Yusuf sewaktu di mesir.

Ketika terjadi perbedaan pemahaman antara hal-hal kecil narasi Alkitab dan Alquran secara kontekstual, maka lebih arif bagi kita untuk menempatkan perbedaan narasi ini dengan mengkaji dan menyelidiki dari data-data arkeologis dan historis kemesiran purba (EGYPTOLOGY). Sehingga di dapat data yang akurat.

1. PENGGUNAAN KATA PHARAOH DALAM BIBLE :

• PHARAOH JAMAN NABI IBRAHIM A.S

יז וַיְנַגַּע יְהוָה אֶת-פַּרְעֹה נְגָעִים גְּדֹלִים, וְאֶת-בֵּיתוֹ, עַל-דְּבַר שָׂרַי, אֵשֶׁת אַבְרָם.
Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada PHARAOH (Firaun), demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu. (GEN 12:17)

יח וַיִּקְרָא פַרְעֹה, לְאַבְרָם, וַיֹּאמֶר, מַה-זֹּאת עָשִׂיתָ לִּי; לָמָּה לֹא-הִגַּדְתָּ לִּי, כִּי אִשְׁתְּךָ הִוא.
Lalu PHARAOH memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? (GEN 12:18)

• PHARAO DI ZAMAN NABI YUSUF A.S

יד וַיִּשְׁלַח פַּרְעֹה וַיִּקְרָא אֶת-יוֹסֵף, וַיְרִיצֻהוּ מִן-הַבּוֹר; וַיְגַלַּח וַיְחַלֵּף שִׂמְלֹתָיו, וַיָּבֹא אֶל-פַּרְעֹה.
Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan; ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun. (Gen 41;14)

כה וַיֹּאמֶר יוֹסֵף אֶל-פַּרְעֹה, חֲלוֹם פַּרְעֹה אֶחָד הוּא: אֵת אֲשֶׁר הָאֱלֹהִים עֹשֶׂה, הִגִּיד לְפַרְעֹה.
Lalu kata Yusuf kepada Firaun: "Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. (Gen 41:25)

מו וְיוֹסֵף, בֶּן-שְׁלֹשִׁים שָׁנָה, בְּעָמְדוֹ, לִפְנֵי פַּרְעֹה מֶלֶךְ-מִצְרָיִם; וַיֵּצֵא יוֹסֵף מִלִּפְנֵי פַרְעֹה, וַיַּעֲבֹר בְּכָל-אֶרֶץ מִצְרָיִם.
Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap PHARAOH, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan PHARAOH, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. (Gen 41:46)

• PHARAOH DI ZAMAN NABI MUSA A.S

טו וַיִּשְׁמַע פַּרְעֹה אֶת-הַדָּבָר הַזֶּה, וַיְבַקֵּשׁ לַהֲרֹג אֶת-מֹשֶׁה; וַיִּבְרַח מֹשֶׁה מִפְּנֵי פַרְעֹה, וַיֵּשֶׁב בְּאֶרֶץ-מִדְיָן וַיֵּשֶׁב עַל-הַבְּאֵר.
Dan Firaun telah mendengar hal itu, lalu ia berupaya untuk membunuh Musa. Namun, Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tinggal di tanah Midian, dan dia duduk-duduk di tepi sebuah sumur. (EX 2:15)

א וַיֹּאמֶר יְהוָה אֶל-מֹשֶׁה, רְאֵה נְתַתִּיךָ אֱלֹהִים לְפַרְעֹה; וְאַהֲרֹן אָחִיךָ, יִהְיֶה נְבִיאֶךָ.
Dan berfirmanlah {YHW } TUHAN kepada Musa, "Lihatlah, Aku telah mengangkat engkau menjadi seperti {Elohim } Allah bagi Firaun, dan Harun kakakmu akan menjadi nabimu. (EX 7:1)

טו וַיָּבֹאוּ, שֹׁטְרֵי בְּנֵי יִשְׂרָאֵל, וַיִּצְעֲקוּ אֶל-פַּרְעֹה, לֵאמֹר: לָמָּה תַעֲשֶׂה כֹה, לַעֲבָדֶיךָ.
Sebab, kuda-kuda Firaun beserta kereta perangnya dan pasukan berkudanya telah masuk ke dalam laut, lalu {YAHWEH } TUHAN mengembalikan air laut atas mereka; dan bani Israel berjalan di tanah yang kering di tengah-tengah laut. (EX 15:19)

2. PENGGUNAAN KATA MALIK (RAJA) DAN PHARAOH DALAM ALQURAN

Beberapa contoh penggunaan kata-kata "Raja" dan "Firaun" disajikan di bawah ini, dan diambil dari cerita musa dan Yusuf. dan saya tidak akan membahas KATA PHARAOH dalam kisah ibrahim menurut versi alquran karena memang tidak ada.

• PADA ZAMAN NABI MUSA A.S

[43:51] Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

[14:6] Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".

[28:32] Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mu'jizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik"

• ZAMAN NABI YUSUF A.S

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi." (QS. 12:43)

Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka." (QS. 12:50)

Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya". (QS. 12:72)

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (QS. 12:76)

Selain ada panggilan KING (RAJA), ada lagi sebutan AL-AZIZ kepada istri tuannya:

[12:30] Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

Bahkan setelah Yusuf diangkat menjadi pejabat di Mesir, saudara-saudaranya menyebut Yusuf dngan sebutan Al-Aziz.

[12:88] Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah".

Dalam versi Al-Quran di terangkan sangat jelas bahwa nabi Yusuf AS menyebut yang berkuasa saat itu di mesir adalah bergelar RAJA bukan FIRAUN/PHARAOH, dan yusuf juga menyebut Tuan yang telah membelinya dengan sebutan AL-AZIZ. Al-Aziz merupakan kata dalam bahasa Arab berakar dari huruf A-Z-Z yang berarti 'Kuat, Terhormat, atau Mulia. Jadi penyebutan gelar Al-Aziz dimasa Nabi Yusuf tidak lain hanyalah sebutan untuk orang-orang yang mulia, berkuasa dan terhormat, yang pada akhirnya sebutan tersebut di-Arab-kan menjadi "Al-Aziz. Dalam hal ini, permasalahannya hanyalah masalah bahasa, dan terbukti bahwa Al-Quran tidaklah salah dalam penggunaan nama Al-Aziz pada zaman Nabi Yususf, dari segi arti, penempatan dan penggunaannya. Justru yang nyata-nyata Anakronisme adalah penggunaan nama "Fir'aun" di masa Nabi Yusuf dalam alkitab.

3. KAUM HYKSOS

Hyksos adalah sebuah nama yang diberikan oleh bangsa Mesir terhadap para pengembala keturunan suku amaliqah yang menetap di sebelah timur delta sungai Nil, Mesir. Istilah “hyksos” pertama kali diperkenalkan oleh Manetho (seorang pendeta dan ahli sejarah Mesir). Menurut manetho “hyksos” berasal dari dua akar kata yakni “hyk” yang berarti gembala, dan “sos” yang berarti raja, maka hyksos memiliki arti raja pengembala. Sebutan (nama) yang diperoleh kaum Hyksos adalah karena kaum tersebut berhasil menduduki dan menguasai Mesir tanpa pertempuran meskipun dengan latar belakang pengembala. Bagi bangsa mesir, masa kekuasaan kaum Hyksos adalah kecelakaan sejarah. Memang ironi, Bangsa mesir yang kuat serta memiliki pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi, dapat ditaklukan oleh kaum Hyksos yang merupakan pendatang di wilayah kekuasaan Mesir.

Oleh karena hal itu, bangsa Mesir sendiri berupaya untuk menghilangkan jejak sejarah kaum Hyksos dengan mengusirnya hingga ke palestina dan kemudian memusnahkannya. Akan tetapi, bukti bahwa kaum Hyksos pernah berkuasa di Mesir masih dapat dibuktikan dengan ditemukannya sebuah dokumen dalam bentuk tulisan hieroglif. Keberadaan Hyksos mendapatkan legitimasi dalam Dokumen Hieroglif yang tertera dalam Daftar Penguasa Mesir di Turin. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa pernah penguasa Mesir Kuno tidak bergelar Fir’aun (Per-Ah, Phar-Aoh) melainkan Raja. Pada mulanya memang tidak diketahui adanya kekuasaan Hyksos di Mesir, dokumen hieroglif hanya sebatas pajangan saja. Akan tetapi pada akhirnya kekuasaan Hyksos di Mesir dapat dibuktikan setelah ditemukannya metode dalam membaca dan mengartikan tulisan hieroglif. Hieroglif baru dapat dibaca sejak tahun 1824, atas jasa Jean Francois Champollion (1780 – 1832 M).

• KEADAAN MESIR SEBELUM KEDATANGAN HYKSOS

Sejak tahun 3400 SM, Mesir pernah diperintah oleh 30 dinasti yang berbeda yang terdiri dari tiga zaman yaitu Kerajaan Mesir Tua yang berpusat di Memphis, Kerajaan Mesir Pertengahan yang berpusat di Avaris dan Kerajaan Mesir Baru dengan ibu kota Thebes (Luxor dan Karnak). Dibawah ini disajikan data periode ketiga puluh dinasti tersebut :

Dinasti Periode Masa kekuasaan (SM) :

I - II
Periode Kuno
3188 - 2815
III - IV
Kerajaan Mesir Tua
2815 - 2294
VII - X
Periode Menengah Pertama
2294 - 2134
XI - XII
Kerajaan Mesir Pertengahan
2132 – 1777
XII - XVII
Periode Pertengahan Kedua
1777 – 1573
XVII - XX
Kerajaan Mesir Baru
1573 – 1090
XXI - XXV
Kerajaan Mesir Baru I
1090 – 663
XXVI
Saite Periode
663 – 525
XXVII - XXXI
Periode Terakhir
525 - 332

Berdasarkan data tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Kerajaan Mesir memang berkuasa dalam waktu yang lama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kerajaan Mesir memang kuat. Namun, seperti yang telah saya jelaskan bahwa kerajaan Mesir pernah mengalami kecelakaan sejarah dengan dikuasai oleh pihak asing yakni kaum Hyksos. Hyksos menguasai Mesir pada periode pertengahan kedua (1777-1573 SM).

Masa Kerajaan Mesir Pertengahan adalah salah satu masa yang penting dalam sejarah Mesir. Pada masa ini, Mesir memperoleh puncak kejayaannya ketika pemerintahan dipegang oleh Dinasti XII (2000-1788 SM). Pada masa ini pula daerah kekuasan mesir semakin luas membentang hingga Nubia dan palestina. Kehidupan serta keamanan didalam negeri pun dapat dikendalikan, ilmu sastra dan kerajinan tangan bertambah pesat, pertanian, perniagaan, dan ilmu pengetahuan pun bertambah maju. Pada masa pemerintahan amenemhet III (Dinasti XII) Mesir membuat sebuah bendungan raksasa di Fayoum untuk kepentingan pertanian ataupun kebutuhan lainnya.

Selain itu, Amenemhet III juga melakukan upaya pendayagunaan daerah pertambangan di semenanjung Sinai. Upaya tersebut berhasil dilakukan sehingga dari hasil pertambangan tersebut digunakan sebagai sumber tetap keuangan negara. Ditengah puncak kejayaannya, saat itu pula Amenmhet III meninggal dunia sehingga Mesir mengalami kekosongan kekuasaan. Tidak ada kader yang dipersiapkan untuk menggantikan Amenemhet III sehingga terjadi perebutan kekuasaan. Dinasti XIII mengambil alih kekuasaan, akan tetapi pemimpin mereka lemah saat itu bahkan diantara rajanya ada yang berkuasa hanya beberapa hari saja. Perpecahan pun tidak dapat dihindari sehingga terjadi ketidakstabilan didalam pemerintahan Dinasti XIII ini.

• PENAKLUKAN MESIR OLEH HYKSOS

Ketidakstabilan pemerintahan ketika Mesir dibawah kekuasaan Dinasti XIII menjadi satu celah yang dimanfaatkan dengan baik oleh kaum Hyksos. Mesir pada saat itu benar-benar dalam keadaan yang sangat kacau hingga terjadi perpecahan diantara para penguasa, masing-masing dari mereka saling berkompetisi untuk menduduki singgasana raja. Dalam keadaan demikian Hyksos menyerbu Mesir dan berhasil menaklukannya tanpa terjadi suatu pertempuran. Meskipun Dinasti XIII berhasil ditundukan, Akan tetapi kaum Hyksos tidak secara langsung mengambil alih pemerintahan. Pemerintahan Mesir digantikan oleh Dinasti XIV yang merupakan penduduk Mesir asli. Akan tetapi pemerintahan Dinasti XIV hanya dijadikan sebagai simbol kekuasaan sedangkan kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan kaum Hyksos. Hyksos berkuasa untuk mengeluarkan perintah dan kebijakannya dengan menggunakan Raja Mesir sebagai boneka kekuasaannya.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh raja dari Dinasti XIV seringkali menguntungkan kaum Hyksos, karena memang kaum Hyksoslah yang sebenarnya mengeluarkan kebijakan itu sehingga lama kelamaan kekuasaan kaum Hyksos semakin bertambah kuat. Dengan keadaan yang demikian maka pemerintahan Dinasti XIV semakin lemah dan pada akhirnya kaum Hyksos menguasai Mesir secara utuh. Kaum Hyksos kemudian membangun Dinasti XV sebagai bentuk kekuasaan baru pemerintahan Mesir dibawah kendali kaum Hyksos. Raja pertama kaum Hyksos (Dinasti XV) adalah Salatis. Pada masa pemerintahan Salatis inilah Hyksos berhasil mendirikan sebuah kota di Mesir Hilir, bernama Avaris yang akhirnya menjadi pusat pemerintahan. Adapun sikap kaum Hyksos dalam menjalankan pemerintahan sering mendapatkan kecaman dari rakyatnya sendiri, mereka seringkali sewenang-wenang dalam menjalankan pemerintahan terlebih pada saat awal berkuasa. Orang Mesir sama sekali tidak memperlihatkan rasa nyaman ketika kekuasaan diambil alih oleh Hyksos. Ketika Hyksos datang menyerbu Mesir, mereka membakar kota-kota-menghancurkan kuil-kuil, dan menawan para wanita serta anak-anak untuk dijadikan budak. Peristiwa tersebut masih mengakar kuat pada ingatan orang Mesir sehingga mereka menyimpan kebencian yang sangat mendalam terhadap kaum Hyksos.

Rasa ketidaknyaman rakyat Mesir terutama orang Mesir asli terhadap pemerintahan Dinasty XV ini, akhirnya mendapat tanggapan dari penguasa. Kaum Hyksos mulai beradaptasi dengan budaya dan tradisi Mesir. Secara tidak langsung, mereka ingin melakukan pendekatan kepada orang-orang Mesir. Kaum Hyksos bahkan melakukan penyesuaian dalam urusan agamanya, mereka mulai menganut agama Mesir dengan sedikit modifikasi. Kaum Hyksos menyembah dewa Seth yang merupakan dewa hasil akulturasi kaum Hyksos dengan Mesir. Dewa seth dianggap sebagai dewa gurun yang memiliki ciri berupa tubuh manusia dengan kepala burung dan bertanduk. Bukan hanya itu, kaum Hyksos membangun kembali kuil-kuil dan bangunan-bangunan yang pernah dihancurkan kaum Hyksos ketika menyerbu Mesir.

• MESIR MEREBUT KEMBALI KEKUASAAN DARI KAUM HYKSOS

Upaya kaum Hyksos untuk merubah citra mereka dihadapan orang Mesir tampaknya tidak diterima begitu saja. Orang Mesir masih menyimpan kebencian begitu dalam sejak mereka diperlakukan secara kejam dan sewenang-wenang. Akhirnya, dibawah komando Ahmose yang merupakan penguasa Mesir Hulu (Mesir selatan), bangsa mesir mengibarkan panji revolusi kemerdekaan. Revolusi kemerdekaan tersebut berhasil membawa bangsa Mesir menguasai kota Memphis dan berhasil mengepung kota Avaris yang merupakan ibu kota pemerintahan Hyksos, pada penyerangan-penyerangan selanjutnya. Kaum Hyksos yang berkuasa pada saat itu adalah dari Dinasti XVII. Dengan demikian, kekuasaan kembali ke tangan bangsa Mesir. Kaum Hyksos yang masih tersisa melarikan diri ke Palestina.

• AKHIR RIWAYAT HYKSOS

Upaya peneyelamatan yang dilakukan kaum Hyksos dengan cara melarikan diri ke Palestina rupanya sia-sia saja. Ahmose mengepung mereka selama lima tahun sampai kesudut terdalam Palestina. Pada akhirnya, kaum Hyksos berhasil di musnahkan dan bangsa Mesir mendirikan dinasti baru yakni Dinasti XVIII (1570 SM) dengan Ahmose sebagai fir`aunnya. Pada masa ini pula dimulai periode “Kerajaan Mesir Baru” dalam sejarah Mesir Kuno.

4. MODERN STUDI LINGUISTIK MENGENAI ASAL KATA "FIR'AUN"

Apa yang ILMU KEBAHASAAN modern dan pakar-pakar Mesir Kuno berhasil ungkapkan mengenai asal kata "Firaun" dan penggunaannya di Mesir kuno? Tempat terbaik untuk memulai penyelidikan adalah dengan menyelidiki ke dalam materi yang berkaitan dengan peradaban Mesir kuno. Mari kita mulai dengan melihat entri "per-aa" atau "Firaun" di Wörterbuch Der Aegyptischen Sprache, kamus paling otoritatif hieroglif Mesir kuno.

Figure 1: Entry in "Wörterbuch Der Aegyptischen Sprache" showing the hieroglyph for "per-aa" or "Pharaoh".

Ada tiga entri yang berbeda disebutkan dalam Wörterbuch Der Aegyptischen Sprache untuk kata "per-aa" :

• "Rumah Besar" sebagai penunjukan istana raja di Periode Kerajaan Lama
• "Istana" kediaman raja dan penduduk lainnya
• "Raja" Karena Dinasti ke-18 dari Kerajaan Periode Baru, kata Mesir untuk "RAJA"

Demikian pula, Die Sprache Der Pharaonen Großes Handwörterbuch Ägyptisch, kamus Mesir-Jerman ringkas di bawah entri "per-aa" megatakan :

Figure 2: Hieroglyph entry for "per-aa"

• Inilah penggunaan kata PER-AA di Kerajaan Baru dan Lama seperti yang digarisbawahi dalam merah. Dalam Periode Pemerintahan Baru, kata "per-aa" ditujukan untuk Firaun, setiap Firaun, yaitu, raja Mesir. Tapi di Periode Pemerintahan Lama, kata itu berarti "istana Raja", "rumah besar", atau dilambangkan rumah besar raja. Tidak mengherankan Lexikon Der Ägyptologie - sebuah ensiklopedia ilmu pengetahuan Mesir - di bawah entri "Pharao" mengatakan bahwa kata ini digunakan untuk menunjukkan orang raja dari Kerajaan Baru Periode seterusnya.

• The Egyptologist Inggris terkenal Sir Alan Gardiner membahas istilah Firaun dan mengutip contoh awal dari penerapan untuk raja, pada masa pemerintahan Amenophis IV (1352 - 1338 SM) seperti yang tercatat dalam Kahun Papyrus. Mengenai Firaun istilah, Gardiner mengatakan :

Ardiner juga mengutip dua contoh paling awal di bawah Tuthmosis III (1479 - 1425 SM) (1401 - 1390 SM) dan Thumosis IV (seperti yang disebutkan dalam catatan kaki nya 10 di atas), sedangkan Hayes telah menerbitkan sebuah ostracon dari pemerintahan gabungan Hatshepsut (1478-1458 SM) dan Tuthmosis III (1479-1425 SM) yang dua kali mengacu pada "Firaun".

• Dalam buku Hieroglif Mesir, yang diterbitkan oleh British Museum, kita menemukan pengenalan yang layak untuk karakter hieroglif yang mewakili kata-kata "Raja" dan "Firaun". Sekali lagi kita menemukan bahwa Firaun gelar pharaoh digunakan untuk menunjuk raja dari Kerajaan Baru Periode keatas.

Demikian pula, di bawah entri "Firaun", British Museum tentang Kamus Mesir Kuno menegaskan bahwa PHARAOH pertama kali digunakan untuk merujuk kepada raja pada Periode Kerajaan Baru.

PHARAOH: Istilah yang digunakan secara teratur oleh penulis modern untuk merujuk kepada raja Mesir. Kata adalah bentuk Yunani dari frase Mesir kuno per-aa ('rumah besar') yang awalnya digunakan untuk merujuk pada istana raja bukan raja. 'Rumah Besar' bertanggung jawab untuk pajak yang kurang 'rumah' (perw), seperti tanah kuil dan perkebunan swasta. Dari Raya New (1550-1069 SM) dan seterusnya, istilah ini digunakan untuk merujuk pada raja sendiri.

The Nelson Illustrated Bible Dictionary setuju dengan penelitian linguistik modern dan negara-negara mengenai "Firaun" :

Gelar raja-raja Mesir sampai 323BC. Dalam bahasa Mesir kata Firaun berarti "rumah besar." Kata ini awalnya digunakan untuk menggambarkan istana raja. Sekitar tahun 1500 SM istilah ini diterapkan untuk raja.

Namun, hal ini telah diklaim oleh misionaris Andrew Varga bahwa :

Alkitab menggunakan istilah Firaun Mesir jelas untuk merujuk kepada Raja Mesir. Kata Firaun, atau "Great House" yang sejatinya mengacu pada pemerintah, atau istana raja. Karena Firaun adalah penguasa mutlak Mesir, pemerintah dan raja adalah satu dan sama.

Untuk mulai dengan, kata "Firaun" tidak digunakan untuk merujuk kepada "pemerintah" raja tapi ke istananya. Dengan penipuan sepotong informasi kecil ini, kristiani dengan nyaman MENGABURKAN KATA PHARAOH dari setiap dari kesulitan penjelasan kronologis Bibel dengan membuat kata "Firaun" sama artinya dengan "pemerintah." Meskipun deskripsi yang salah ini mungkin tidak menjadi masalah dalam alam imajinatif para kristiani.

Ada perbedaan yang jelas antara kata-kata "Firaun" dan "Raja" sebelum Periode Kerajaan Baru. Namun, di Kerajaan Zaman Baru, perbedaan ini telah dihapus dan kata "Firaun" adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada raja sendiri, seperti yang telah kita lihat dari pembahasan di atas. Sama seperti Vargo, upaya sia-sia telah dilakukan oleh Yahuda untuk menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa dalam Alkitab Ibrani yang berlimpah didukung oleh sejarah sekuler. Yahuda mengklaim bahwa penggunaan "Firaun" selama masa Yusuf benar dari sudut pandang sejarah Mesir. [60] Ia menegaskan bahwa Firaun telah menjadi "penunjukan permanen" dari raja Mesir. Ini jelas salah. Sial baginya, Vergote telah menunjukkan bahwa pandangannya tidak didukung oleh catatan sejarah Mesir dan bahwa kata "Firaun" digunakan untuk merujuk kepada raja hanya dalam Periode Kerajaan Baru. Istilah "Firaun" yang digunakan dalam Alkitab Ibrani pada masa Abraham dan Yusuf untuk penguasa Mesir adalah anakronistik. Hal ini juga ditegaskan oleh mencatat Egyptologist Toby Wilkinson yang yang jelas menyatakan dalam bukunya The Thames & Hudson Kamus Dari Mesir Kuno bahwa :

Firaun: Istilah yang digunakan untuk raja Mesir kuno. Kata ini berasal via Yunani dari kata kuno Mesir per-aa ('rumah besar', istana). Awalnya diterapkan pada kediaman kerajaan, itu digunakan dari Dinasti ke-18 untuk mengacu pada raja sendiri. Oleh karena itu, penggunaan 'Firaun' untuk penguasa Mesir sebelum Kerajaan Baru adalah benar-benar ketinggalan zaman dan sebaiknya dihindari.

Yang lebih mengejutkan lagi jika kita melihat Encyclopedia Of Bible berkata tentang nama "Firaun" :

Firaun. Penguasa atas Mesir juga dikenal sebagai "Raja Hulu dan Hilir Mesir." Dia tinggal di istana yang dikenal sebagai "rumah besar," yang simbol kekuasaannya. Kata Mesir untuk istana diaplikasikan pada raja-raja dari Kerajaan Baru (1550-1070 SM). Penggunaan firaun judul dalam kitab Kejadian mungkin anakronistik dalam masa Musa dalam meliput peristiwa leluhur dalam kaitannya ke Mesir menggunakan istilah yang dapat di terima umum istilah "firaun" meskipun judul itu tidak digunakan pada saat para leluhur. (lih Kej 12: 15-20; 37:36) [63]

Mungkinkah penulis dari Kitab Kejadian mengarang cerita ratusa tahun setelah peristiwa aktual untuk mencerminkan tempat kejadian nanti? Tampaknya begitu. Hoffmeier mengatakan bahwa penggunaan "Firaun" di kitab Kejadian dan Keluaran "sangat sesuai" dengan praktek Mesir dan buru-buru menambahkan bahwa :

Munculnya "Firaun" dalam kisah Yusuf bisa mencerminkan latar cerita Kerajaan Baru , atau, jika sumbernya adalah awal (yaitu, akhir Kerajaan Tengah melalui Kedua Periode Menengah), kejadian di Kejadian adalah sugestif dari periode komposisi. Hal ini jelas bahwa istilah "Firaun" yang digunakan dalam Alkitab Ibrani pada masa Abraham dan Yusuf untuk penguasa Mesir adalah anakronistik.

Akhirnya, beberapa kata harus dikatakan tentang para kristiani yang menggunakan bahan acuan dari "KRONOLOGI BARU" yang diusulkan oleh David Rohl dalam bukunya Sebuah ujian waktu (A Test of Time) berkaitan dengan periode waktu di mana Abraham, Yusuf dan Musa dapat ditempatkan dalam Mesir kuno. Jika misionaris tulus dalam mendukung dan menerima hasil penyelidikan modern dan terbaru dalam kronologis ilmu kemesiran, kita mengharapkan mereka untuk bekerja tekun dan tulus untuk ikut dan mendukung penelitian para sarjana Mesir Kuno ini . Dan memberitahukan saudara-saudara penginjil mereka sendiri untuk memikirkan kembali karya Rohl secara serius, karena karya Rohl ini melenceng dari fakta-fakta sejarah, dan sebelum para missionaris ini lebih jauh melempar tuduhan-tuduhan tidak berdasar sebagaimana telah dibahas di atas.

5. KESIMPULAN

Menurut penelitian ahli bahasa modern kata "Firaun" berasal dari Mesir per-aa, yang berarti "rumah besar" dan awalnya disebut istana daripada raja sendiri. Kata ini digunakan oleh para penulis Perjanjian Lama dan sejak itu menjadi judul yang banyak digunakan untuk semua raja-raja Mesir. Namun, orang-orang Mesir tidak menyebut penguasa mereka "Firaun" sampai Dinasti ke-18 (1552 - 1295 SM) di Periode Kerajaan Baru. Dalam bahasa hieroglif, "Firaun" pertama kali digunakan untuk merujuk kepada raja pada masa pemerintahan Amenhophis IV (1352 - 1338 SM). Kita tahu bahwa penunjukan semacam itu benar dalam zaman Musa tetapi penggunaan kata Firaun dalam kisah Yusuf adalah suatu anakronisme, seperti di bawah kekuasaan Hyksos tidak ada "Firaun." Demikian pula, peristiwa terkait dalam Kejadian 12 tentang Abraham (2000-1700 SM) tidak bisa terjadi dalam waktu ketika sultan Mesir disebut Firaun, dan ini memperlihatkan anakronisme lain. Dalam beberapa bab kitab Kejadian kita menemukan kesalahan yang sama sering berulang - beberapa sembilan puluh enam kali secara total. Apa yang jelas adalah bahwa para penulis Alkitab menulis teks mereka di bawah pengaruh oral turun temurun bukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang pasti zaman mereka.

Sikap jujur terhadap cerita tentang Mesir dalam kitab Kejadian dan Keluaran adalah bahwa merupakan memori rakyat telah yang di pertahankan selama berabad-abad yang di bungkus dengan tidak sempurna sehingga bertentangan dengan penyelidikan ilmiah seperti sekarang. Fakta-fakta ini yang telah saya sebutkan tidak dikenal pada saat wahyu Alquran diturunkan. Satu-satunya sumber pengetahuan tentang masa lalu agama adalah cerita-cerita yang beredar adalah berbasis Alkitab. Dari rentang waktu Perjanjian Lama sampe Al-Qur'an, satu-satunya dokumen pegangan manusia yang dimiliki pada kisah-kisah kuno adalah Alkitab itu sendiri. Selain itu, pengetahuan tentang hieroglif Mesir kuno telah benar-benar lupa sampai mereka akhirnya diuraikan di abad ke-19.

Historisitas gelar Firaun sekali lagi memberikan memberikan cambuk bagi penganut TEORI SEMBRONO TUKANG FITNAH bahwa bagian dari Al-Qur'an tersebut diduga disalin dari Alkitab. Jika hieroglif Mesir yang lama mati dan cerita Alkitab karya akurat memori rakyat, maka dari mana Nabi Muhammad mendapatkan informasi nya? Al-Qur'an menjawab :

(QS 53: 2-3)
2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya.

Maha Benar Allah Dengan Segala FirmanNya.

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)
Posting Komentar