Rabu, 11 Maret 2015

WANITA DAN SURGA


Artikel ini kami buat sebagai sarana untuk menjawab beberapa pertanyaan kristiani dan orang-orang yang masih awam tentang Islam. Mereka sering kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang wanita di surga, diantaranya ialah pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana jika ada seorang wanita yang telah menikah beberapa kali saat dia hidup di dunia, lalu wanita tersebut meninggal dan semua suaminya juga meninggal. Dan mereka semua masuk surga, lantas pria yang manakah yanga akan menjadi suami dari perempuan tersebut saat mereka berada di surga?

2. Jika ada seorang nenek-nenek meninggal dan nenek tersebut masuk surga, apakah ia masuk surga dalam keadaan masih menjadi nenek-nenek?

3. Bagaimana kehidupan wanita di surga kelak, apakah mereka akan bersaing dengan para bidadari surga?

4. Jika kau pria akan mendapatkan bidadari-bidadari yang cantik jelita, lantas bagaimana dengan kaum wanita? Apakah mereka juga akan mendapatkan bidadara?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kami akan berikan dalil-dalil Al-Quran dan Al Hadits sebagai berikut :

• Jawaban untuk point 1 :

Pria yang akan menjadi suami bagi wanita tersebut ialah yang paling baik akhlaknya.

Saya kembali bertanya, " Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah nikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga? Beliau pun menjawab, "Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu ia berkata, 'Wahai Rabbku sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya.' Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (HR. Thabrani)

Dan yang paling baik akhlaknya ialah yang imannya paling sempurna, lemah lembut kepada istri dan paling ramah terhadap keluarganya.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lemah lembut dengan istrinya." (HR. Musnad Ahmad 23073)

Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap keluarganya (istrinya)." (HR. Musnad Ahmad 23536)

• Jawaban untuk point 2 :

Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak diketahui.

"untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui." (QS. 56:61)

Al-Quran memang tidak menjelaskan secara detail, melainkan hanya menjelaskan secara garis besarnya saja. Dan penjelasan yang lebih eksplisit lagi terdapat pada hadits-hadits berikut ini.

Para penghuni surga adalah para pemuda dan tidak ada orang yang tua didalamnya.

Sunan Tirmidzi 3169:

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, beliau bersabda: "Penyeru menyerukan: Sesungguhnya kalian hidup dan tidak mati selamanya, kalian sehat dan tidak sakit selamanya, kalian muda dan tidak tua selamanya, kalian bersenang-senang dan tidak akan bersedih selamanya. Itulah firman-Nya: "Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan." (Az Zukhruuf: 72) Abu Isa berkata: Ibnu Al Mubarak dan lainnya meriwayatkan hadits ini dari Ats Tsauri tapi tidak memarfu'kannya." (HR. Sunan Tirmidzi 3169)

“Sesungguhnya sorga tidak dimasuki oleh orang-orang tua… sesungguhnya Allah jika memasukkan mereka (kaum wanita) ke dalam sorga, maka Dia akan merubah mereka menjadi gadis-gadis perawan”. (HR. Thabrani 12/281)

Lalu apakah ini berarti hadit-hadits diatas telah melangkahinAl-Quran? Tentu saja tidak, hadits tersebut hanya menjelaskan beberapa ciri saja dan tentu yang tidak dijelaskan dalam hadits tersebut lebih besar lagi. Dan itulah yang tidak diketahui oleh umat manusia dan hanya akan menjadi rahasia Ilahi. Kasus ini serupa dengan ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang tidak ada seorangpun yang mengetahui datangnya hari kiamat, tetapi dalam hadits-hadits dijelaskan bahwa Rasulullah menjelaskan beberapa ciri akan datangnya hari kiamat tersebut. Dan sekali lagi, tentu yang tidak dijelaskan oleh Rasulullah lebih besar daripada yang sudah dijelaskan. Dan itulah yang tidak diketahui oleh manusia.

• Jawaban untuk point 3 :

Wanita yang sholeha lebih utama dan mulia daripada para bidadari di surga.

Dari Ummu Salamah r.a, ia berkata: Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Baginda s.a.w menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Kerana apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Baginda s.a.w menjawab, “Kerana solat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah-lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami redha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’.”
(H.R. Ath-Thabrani)

Jika para bidadari surga saja sudah sedemikian besar kelebihannya, maka tentu wanita yang sholeha lebih besar lagi kelebihannya daripada para bidadari surga.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda, "Demi yang jiwaku berada di tanganNya, jika ada salah satu bidadari syurga dimuka bumi maka akan meneranginya, akan terisi (bumi) dengan bau harumnya dan mahkota yang ada dikepalanmya lebih baik daripada dunia dan isinya." (HR. Musnad Ahmad 12035)

• Jawaban untuk point 4 :

Tentu saja ya, para wanita akan mendapatkan pendamping hidup sesuai yang mereka ingini. Karena semua penghuni surga akan dinikahkan dengan orang yang diingininya.

Rasulullah saw, bersabda : ”Dan tidaklah ada di surga itu seorang yang bujang.” (HR. Muslim 5062)

Dan penegasan yang sama juga dikuatkan oleh Syekh Ibnu Utsaimin. Para penghuni surga memiliki hak yang sama untuk merasakan nikmat, apa pun yang mereka inginkan.

“Dan, di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." (QS az-Zukhruf [43]: 71).

Sesungguhnya sorga dan kenikmatannya tidaklah khusus bagi kaum laki-laki saja, akan tetapi kenikmatan sorga itu :

“Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133)

Dari dua jenis makhluk manusia laki-laki dan perempuan, sebagaimana Allah telah mengabarkan yang demikian yang artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki dan perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga.” (QS. an-Nisa':124)

Penjelasan secara jelas tentang bidadari, yaitu kata “huurin iin” :

kadzaalika wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin (QS. 44:54)

"demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari." (QS. 44:54)

muttaki-iina ‘alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin

"mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (QS. 52:20)

Wa huurun ‘iinun , ka-amtsaali allu/lui almaknuuni

"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. 56:22-23)

Kata bidadari melalui kata ganti termuat dalam 5 kelompok ayat Al-Quran :

A. wa’indahum qaasiraatu alththharfi ‘iinun, ka-annahunna baydhun maknuunun

"Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya," (QS. 37:48)

waindahum = dan disisi mereka

qaasiraatu = tidak liar pandangan

atthafri = ujung/mata

inun = mata

B. wa’indahum qaasiraatu alththharfi atraabun

"Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya." (QS. 38:52)

waindahum = dan disisi mereka

qaasiraatu = tidak liar pandangan

atthafri = ujung/mata

atraabun = sebaya

C. fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun, ka-annahunna alyaaquutu waalmarjaanu

"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. " (QS. 55.56)

fiihinna = didalamnya mereka

qaasiratu = pendek/menundukkan

athafri = ujung/mata

lam yathmitshunna = tidak/belum menyentuh mereka

insun = manusia

D. fiihinna khayraatun hisaanun, huurun maqshuuraatun fii alkhiyaami

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. 55:70)

fiihinna = didalamnya mereka

khayraatun = baik-baik

hisaanun = bagus-bagus/cantik-cantik

huurun = yang putih/jelita

maqsuuraatun = tersimpan/terpingit

filkhiyaami = dalam mahligai/rumah

E. innaa ansya/naahunna insyaan, faja’alnaahunna abkaaraan, ‘uruban atraabaan

"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. penuh cinta lagi sebaya umurnya." (QS. 56:35-37)

inna = sesungguhnya Kami

ansyanaahunna = Kami jadikan mereka

insyaaan = dengan kejadian

fajaalnaahunna = maka kami jadikan mereka

abkaaran = gadis-gadis perawan

Dari kelima kelompok ayat tersebut hanya yang nomer 5 yang secara jelas menyebut objek yang dimaksud adalah berjenis kelamin wanita, sedangkan keempat ayat lainnya tidak secara jelas mengindikasikan apakah yang dimaksud adalah wanita atau bukan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kelompok ayat nomer 5 dibuat penjelasan dalam tanda kurung “bidadari”.

Dan ternyata ini juga sejalan dengan pengertian kata “huurin iin”.

Penjelasan ini juga tidak membatasi penafsiran bahwa yang dimaksud adalah sesuatu yang diciptakan di surga atau merupakan manusia yang menjadi penghuni surga, baik laki-laki maupun perempuan.

Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata hur adalah bentuk jamak dari kata hauraa yang pertama menunjuk kepada jenis kelamin feminin dan yang kedua jenis maskulin. Ini berarti bahwa kata hur adalah kata yang netral kelamin bisa laki-laki dan bisa perempuan. Kata hur sendiri menurut ar-Raghib al-Ashfahaani adalah tampak sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam). Bisa juga ia berarti bulat, ada juga yang mengartikan sipit. Sedangkan kata iin adalah jamak dari kata aina dan ain yang berarti bermata besar dan indah. Penjelasan kata huurin iin berdasarkan arti katanya ternyata sejalan dengan bunyi ayat lain tentang sesuatu yang akan menjadi pasangan manusia yang masuk surga nantinya pada ayat berikut ini :

"..dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli" (QS. 52:20)

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.. :)
Poskan Komentar